Bab 45

1220 Kata

-TIAS- Aku benar-benar merasa tidak enak, sekalinya Ayu nebeng motorku malah mogok, aku jadi merasa bersalah sama dia. Meski kelihatannya dia baik-baik aja. “Kenapa gak kepikiran sama aku ya?” Ucapku. Aku tiba-tiba saja tercetus sebuah ide. “Kepikiran apa, Ti?” tanya Ayu. Yang masih menemaniku menjaga motor sampai Erfan kembali, sambil mengutak atik handphonenya. Sepetinya ia sedang berusaha mengabari teman lain yang sudah ada di kampus. “Kenapa gak order ojek online aja dari tadi, kalau ojek kan gak akan separah metromini pas lagi macet. Jadi kamu bisa pergi sama proyektornya pake ojek, terus nanti aku nyusul sama Erfan selesai masukin motor ke bengkel, kan jadi lebih efektif,” kataku. Aku sungguh menyesal karena baru terpikir ide ini sekarang. Ayu melirik jam tangan. Kami hanya dud

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN