Aku merapikan posisi dudukku di dalam mobil. Awalnya aku menolak untuk diajak karena merasa tak enak, tapi karena lalu-lintas di belakang menjadi macet jika kami terusakan saling berargumen, jadi terpaksa aku naik ke dalam mobil. “Kamu mau ke mana?” “Pulang,” jawabku. “Oh, oke,” Aku melirik sekilas ke bangku sebelahku. Erfan terlihat berkonsentrasi memandang jalannya di depan kami. Memang sedikit macet, namun untuk ukuran Kota Jakarta, siang ini relatif padat lancar. “Kamu sibuk apa sekarang, Ti?” tiba-tiba Erfan membuka pembicaraan. Suasana sedikit canggung. Kami memang sudah tidak bertemu hampir setahun lebih, wajar saja jika suasana menjadi sangat kaku. Ditambah lagi, alasan kami tidak bertemu, bukan semata-mata karena kesibukan kami masing-masing saja, tapi ada alasan lain. “Ng

