Dia terus memandangiku tanpa kata. Jika itu bisa membuatnya senang, aku tak akan mengelak lagi, aku akan membiarkan dia menatapku sepuasnya. “Lihat aku sesuka hati kamu, bahkan sampai kamu bosen! Dan mungkin sampai kamu pengen muntah!” ucapku. “Aku gak akan pernah bosen memandang wajah kamu! Mulai sekarang, kamu juga jangan bosen kalau mataku terus tertuju ke kamu, dan gak bisa berpaling,” jawab Satya. Deg. Lagi-lagi ia membuat jantungku berdebar. “Kamu ngomong apa? Kenapa kamu paling pinter bikin hati aku meleleh?! Aku udah bilang, kamu harus hati-hati sama aku! Karena Letnan aja kalah sama aku, kamu tahu itu, kan?” ucapku berbisik. Tanpa basa-basi lagi aku langsung menyambar bibirnya, yang sedari tadi tepat berada di hadapanku, membuatku tak bisa berpikir jernih lagi. Ini ujian me

