Samiera memasuki taksi yang berhenti tepat didepannya, tidak sekalipun ia memalingkan wajahnya kebelakang. Ia bisa mendengar suara Huda menggema dipenjuru lobby, tapi dengan langkah cepat ia keluar dari gedung pencakar langit itu. Hatinya hancur melihat apa yang dilakukan suaminya. Suami yang sudah sangat dicintainya berselingkuh dan ia menyaksikan dengan kedua matanya sendiri. Disaat ia sedang mengandung seperti ini, tangisnya sudah tidak terbendung lagi. Terlebih karena perutnya semakin terasa sakit, membuatnya meringis menahan tekanan-tekanan dari dalam sana. "Maafkan mami ya, mami tidak bermaksud menyiksa kalian..." lirihnya disela tangis yang masih berlangsung. Bersyukurlah supir taksi yang ditumpanginya tidak banyak bicara bahkan bertanya perihal apa yang dialaminya. Pria paruh b

