bc

WIDOW

book_age18+
40
IKUTI
1K
BACA
revenge
kickass heroine
powerful
independent
self-improved
confident
inspirational
drama
bxg
female lead
like
intro-logo
Uraian

Menikah muda, hidup susah bahkan miskin, diselingkuhi, menjanda. Beban hidup Ros Alata sesulit itu. Hatinya menjadi tumpul, baginya lelaki adalah penghangat rahim saja, sedangkan ia sudah memiliki putri, lalu untuk apa ia kembali terjun ke dunia gelap bernama cinta?

Pembodohan! Ia menyesal pernah mencintai suaminya tanpa tolak ukur. Arta, lelaki b******n yang membuatnya terus menangis dengan bodohnya. Menangis karena hidup penuh kemiskinan, menangis karena diselingkuhi selama masa pernikahannya.

Namun semua berubah, saat lelaki itu muncul, Ros kira lelaki itu hanyalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk sesaat. Tapi siapa sangka, Joe bahkan berhasil mencuri perasaannya yang telah lama padam.

Saat Ros hendak memulai kehidupan baru, beragam permasalahan kembali mengantre untuk meruntuhkannya. Sanggupkah dia berdiri kuat dengan kedua kakinya, dan menyandang gelar janda yang selalu dipandang buruk oleh masyarakat?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Sebelum Bencana
Awalnya hidupku baik-baik saja, meski tinggal di kampung, miskin, bahkan hanya lulusan SMA, aku tetap bahagia. Masa remajaku berlalu dengan normal, bahkan terkesan tidak ada yang istimewa karena aku benci menjadi sumber sorotan. Sampai masa itu datang, di mana kebebasanku direnggut paksa. Aku harus menikah di usia muda, karena adat dan lingkungan yang menormalkannya. Membayangkan sebelumnya pun enggan, semuanya tidak pernah aku impikan sedari aku belajar tentang bercita-cita. Impianku luas, cita-citaku berjajar panjang tiap kali orang lain menanyakannya. Bahkan untuk memilih cita-cita hari senin dan selasa saja aku kerap binggung, karena begitu banyaknya yang ingin kugapai. Tapi siapa sangka, jika aku akan menikah diusia 18 dan di usia 23 tahun aku harus mengurus putriku yang sudah berusia 4 tahun? Namaku Ros Alata, nama yang modern untuk lingkungan yang sama sekali tidak mendukungku untuk maju. Tinggal di sebuah desa yang belum semaju ibu kota, bahkan kabupaten sekalipun, membuat gadis desa menikah di usia tamat SMA. Begitupun aku, menikah dengan suamiku Viarta yang sehari-harinya hanya bekerja mencuci mobil di cucian milik Haji Malik. Hidup kami tidak kekurangan, namun tak ada lebih, istilah kasarnya tak ada nasi jika tak mencari, tak ada daging jika tak ada hari besar. Begitulah kasarnya istilah yang aku perjuangkan di usia muda, apalagi saat putriku Rahayu Kartika Sari lahir ke dunia ini. Seorang malaikat yang Tuhan kirimkan untuk pelipur lara. Meski aku ibunya, namun sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menyumbang nama bagi putriku sendiri, Viarta dan ibu mertua lah yang memaksa untuk memberi nama putriku seperti itu. Aku dan suamiku bukanlah anak yang mendapat warisan berlimpah. Masing-masing dari orang tua kami hanyalah petani sederhana yang memiliki tempat berteduh dan lahan kecil untuk bertani. Mengharap warisan banyak, tanah terhampar luas, bukanlah suatu kemewahan yang berani kami impikan. Tiga tahun lalu bapakku meninggal karena stroke, lalu tak berselang lama, ibu ikut menyusul kepergian bapak, hanya berjarak setahun kemudian. Di usia muda, dengan seorang putri yang harus aku hidupi, serta suami yang tidak bisa mengayomi. Aku laksana hidup sebatang kara, mengais kehidupan untuk keluarga kecilku. "Mas, aku sudah masak, Ayu aku titipkan pada ibuk. Nanti kalau mau makan siang di panaskan saja sayur nangka di dandang, aku pulang sampai sore." Celotehku dengan tangan yang masih sibuk mempersiapkan segala macam pakaian dan perlengkapan main untuk Ayu yang sempat kulupakan. Putriku termasuk anak yang centil, ia selalu mengomel tiap kali aku melupakan bando kelinci ataupun sapu tangan merah jambunya. Saat ia marah, tangisannya bisa terdengar hingga RT sebelah, itulah mengapa aku tak mungkin melalaikan Ayu. Aku bahkan rela kembali berjalan kaki pulang hanya untuk mengambil perlengkapan Ayu yang terlewat. Tak mungkin kubiarkan ibu mertuaku sakit kepala dan telinga atas teriakan Ayu. Jika terjadi, aku yang akan dihina sebagai ibu yang tidak pandai merawat anak. Sementara aku sibuk bekerja menjadi tulang punggung keluarga, sekaligus merawat putriku yang sedang aktif-aktifnya. "Iya, ayo mas antar kalau sudah siap." Gerakanku merapikan perlengkapan Ayu terhenti, sesaat aku merasa asing, sejak kapan suamiku menjadi perhatian? Walau semalam kami sempat bergumul di ranjang, namun hawa dingin diantara kami sama sekali tidak pernah menipis. Semenjak kelahiran Ayu, Arta merasa diduakan, ia selalu mengeluh tiap kali aku bercengkraman dengan Ayu selepas pulang bekerja. Itu terlalu konyol, namun pembelaanku selalu ia jawab dengan kata-kata judes yang inti patennya ia tak mau diduakan. Sering kali kita berkahir dengan cek-cok panjang yang selalu kita sembunyikan dari Ayu. Tidur satu ranjang jarang, berboncengan apalagi. Aku terbiasa hidup mandiri semenjak mendapat hadiah motor dari arisan yang kuikuti diam-diam. Ke sana kemari menyetir motor sendiri hingga lenganku belang kecoklatan, tak pernah bergantung pada suami yang mulai acuh padaku. Tapi tiba-tiba Arta menawarkan mengantar? "Ban motormu kan bocor, kamu mau naik angkutan ke tempat majikanmu?" Majikan? Kata itu masih terasa rendah ditelingaku, walau itu memang pangkatku, walau itu memang pekerjaanku, tapi mendengar langsung dari mulut suamiku, masihlah terasa perih. "Ya, aku naik angkutan saja mas, kamu nanti telat bekerja." "Aku hanya buruh cuci mobil Ros, jangan berlebihan. Aku bukan pekerja kantoran yang akan diberi SP jika telat masuk. Berhenti berbicara tak penting dan bergegaslah!" Terdapat nada paksaan dari ucapan Arta, membuatku yang menenteng tas Ayu menjadi mengencangkan remasan tanganku. Kutatap pantulan diriku dicermin kecil merah jambu yang tergantung didinding. Lingkaran hitam mengelilingi mataku, kulitku memang putih mulus, namun tanpa polesan bedak dan pewarna bibir, terlihat membosankan. Aku bahkan tak sempat berdandan, tak seperti wanita seusiaku yang sudah mahir memoleskan bedak, aku bahkan tak paham sama sekali. Hidupku hanya kucurahkan pada pekerjaan dan keluarga, mana sempat mempercantik diri? Diriku dengan kesederhanaannya ini sering kali membuat Arta kesal, ia mengomel karena istrinya tidak glowing macam wanita diluaran. Sedangkan dana saja tak pernah ia beri, uang gajinya selalu habis untuk modal usaha baru. Yang sampai saat ini belum juga membuahkan hasil. Aku lelah hidup dalam kesusahan, bekerja banting tulang tanpa menyisakan hasil apapun. Aku lelah saat kerja kerasku dihargai ejekan yang terasa amat merendahkan. Aku lelah dengan semuanya! Pada Arta, Ayu, Ibu mertua, bahkan diriku sendiri. Kapan aku bisa merasakan hidup dengan dimanjakan kebahagiaan? "Ros! Aku bisa telat kalau kau tak keluar juga!!" Teriakan itu membuatku memejamkan mata, bahkan dalam keterpejaman, dalam kegelapan, hidupku yang susah ini masih lebih gelap dan kelam. "Kamu hanya buruh cuci mas, seperti katamu." * * Selesai membabu, aku menjemput Ayu ditempat mertua, setelah pulang ke rumah, dilanjut mengurus anak sapi hasil dari menjual sawah dekat sungai yang terkena gerusan perusahaan batu split. Begitulah rutinitasku, tak ada kesan feminim dari pekerjaanku. Keibuan? Bullshit! Itu hanya pujian berbelati yang sama sekali tak membuat pembantu sepertiku merasa bangga. Aku benci dengan rutinitasku membersihkan rumah, memasak, dan segala macamnya yang kukerjakan seorang diri di dua rumah sekaligus. Rumah warisan bapak, serta rumah majikanku Bu Julia. Mengusap keringat dipelipis, kuusaikan kegiatan mengeruk kotoran sapi yang begitu menjijikkan, namun bernilai untuk manusia miskin harta sepertiku. Langit mulai redup, sebentar lagi akan datang malam, namun belum ada tanda-tanda Arta pulang. Sering kali ia pulang telat, atau tak pulang karena mencari pekerjaan tambahan jika mendapat tawaran dari teman. Ayu sudah merengek minta masuk play group, karenanya kami membutuhkan biaya tambahan. Gaji pokokku yang tak seberapa, masih kurang untuk menyekolahkan Ayu disekolah impiannya. Impian, aku ingin Ayu dapat meraihnya. Cukup Ibunya saja yang gagal dan berakhir meratapi kemiskinannya, anakku jangan! "Buk!" Rengekan Ayu yang pulang dari selepas main, membuatku tersadar dari lamunan. Dengan sepeda roda empat dituntunannya, Ayu mendekat dengan wajah merah bekas menangis. Hatiku terasa sakit tiap melihat putriku menangis, karena kerap kali tangisannya adalah tentang betapa tak mampunya aku memberikan kebahagiaan untuk Ayu. "Ibuk sudah punya uang? Ayu pengen ayam goreng." Sesuai dugaan, tangisan putriku adalah cambukan, betapa aku bukanlah Ibu yang bisa membahagiakannya. Dua minggu lalu Ayu harus puas menangis karena permintaan ayam gorengnya tak terkabul. Minggu lalu pun menangis, kembali gagal membelinya karena uangku dipakai untuk pegangan Arta pergi mencari pekerjaan tambahan. Minggu ini, sepertinya ia akan kubiarkan menangis karena kembali gagal mendapatkan ayam gorengnya. Lagipula, mengapa anak sekecil Ayu masih mengingat ayam goreng yang sudah 2 minggu berlalu. Seingin itukah anakku pada ayam goreng? "Kalau Ibuk tidak punya uang tidak apa kok buk, Ayu tunggu sampai Ibuk gajian, minggu depan kan? Ayu main lagi ya!!" Jingkrak Ayu begitu melihatku mengangguk menenangkan. Ayu bahkan melepaskan sepedanya dan berlari dengan lagu kebahagiaan yang berlirik ayam goreng. Membuatku kembali tercubit, apakah minggu depan ayam gorengnya akan terbeli? Sedangkan gajiku yang hanya sebesar delapan ratus ribu rupiah, sudah harus dipotong uang setoran untuk motor bang Arta? Belum listrik, air, sembako, serta arisan yang masih kuikuti. Ayam goreng, mungkin harganya tak seberapa, tapi bagaimana jika Ayu menyukainya? Bagaimana jika anakku akan meminta ayam setiap hari? Sedangkan sehari-hari saja kami memakan sayur bayam yang kuambil dari samping rumah. "Ya Tuhan ..." Tak ada tempatku berkeluh kesah selain Tuhanku, kedua orang tuaku telah tiada, mengadu pada Ibu mertua hanya akan membuat masalah kian membesar seperti kobaran api. Tentu mertuaku akan membela Arta, bagaimanapun buruk sifatnya. Setelah kupastikan kotoran sapi terkumpul menjadi satu, aku memutuskan mencuci kedua tanganku sebelum melanjutkan pekerjaanku menyapu pekarangan. Namun langkahku hendak meraih sapu lidi terhenti, saat melihat sosok Arta mendekat dengan berjalan kaki. "Motormu mana mas?" Arta tak menjawab, ia hanya berjalan lurus menuju kandang sapi dan masuk kedalamnya. Saat ia keluar dengan tali yang menghubungkan pada leher sapi, baru aku mendekat dengan pikiran penuh tanya. "Mau dibawa ke mana sapinya?" "Ros, sapinya aku jual dulu ya, nanti kalau kita ada rejeki dibeli lagi yang lebih besar. Aku ada masalah, usahaku yang kemarin kurintis gagal, dan hari ini juga aku harus bayar ganti ruginya. Tak ada yang lain yang bisa dijual selain sapi, jadi-" "Tidak!" Dengan sigap aku menghalangi langkah Arta. Kutatap sapi yang tak tahu apa-apa itu dengan miris, sedari sapi itu masih kecil, hanya aku yang memberinya makan. Mencari rumput di sawah atau lapangan, dan membersihkan kotorannya seperti aku mengurus anakku sendiri. Lalu dengan mudahnya suamiku berniat menjualnya? Hal gila macam apa ini? "Ini sapi aku! Hasil dari tanah warisan bapakku, dan aku ndak akan menjualnya mas!" Tegasku keras. Sapi ini satu-satunya harapanku, aku berniat merawatnya untuk sedikit mensejahterakan hidupku kelak. "Kamu, jadi istri tidak peduli sekali sama suami ya?! Suamimu mau maju tapi dihalangi, kamu mau aku masuk penjara?!" Aku bersikukuh tak mau menghindar, bahkan kuraih tali tambang yang membelit leher sapi itu. Namun dengan kasarnya Arta menghempas badan ringkihku dengan mudahnya. Dia dengan tega menjatuhkanku dan terus menyerat anak sapiku pergi. "Mas! Jangan! Aku cuma punya sapi ini untuk masa depan Ayu!" "Ayu punya Bapak! Dan Bapaknya yang akan menjamin masa depannya!" Arta terus menarik sapiku, berkali-kali mendorongku saat hendak mendekat, hingga aku kembali terhempas. Kepalaku terasa pening, badanku yang terasa amat lelah, serta rasa terkejut dan tak rela satu-satunya hartaku dijual, membuatku merasa lemas. Perlahan mataku menggelap, dan badanku terjatuh ketanah. Debu dari tanah dan mataku yang kian gelap, benar-benar mengantarku tak sadarkan diri dan semua terhenti. Hanya perasaan sakit hati dan kecewa saja yang membuatku merintih sebelum benar-benar tak sadarkan diri. "Sapiku, mas ..."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.3K
bc

TERNODA

read
201.6K
bc

Kali kedua

read
221.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook