Aku terbangun dengan lemas saat mendengar teriakan tangis Ayu, putriku menangis dengan terus mengguncang badanku. Mataku mengedar kala mampu terbuka sepenuhnya, ada pak Lurah dan RT yang berdiri didekat kursi diruang tamu rumahku. Dengan sigap aku terbangun seraya memegangi kepalaku yang masih terasa berdenyut sakit. Kehadiran pak Lurah dan pak RT membuatku bertanya-tanya, ada apa hingga rumahku didatangi orang penting?
"Mbak Ros, sudah enakkan? Di minum dulu ini." pak RT menyodorkan segelas air putih, dengan gesit kuraih air putih itu, mengabaikan Ayu yang masih terus memekik menangis.
Baru setelah air putih mengaliri tenggorokanku yang kering, pak Lurah duduk disampingku dengan wajah serius.
"Maaf mbak Ros, saya tahu waktunya tidak tepat, tapi mas Arta tadi di sidang di Balai Desa. Saya dan pak RT di sini mau menjemput mas Arta, tapi malah menemukan mbak Ros pingsan di depan rumah."
Penjelasan sederhana itu tak bisa membuatku merespon dengan sigap. Aku perlu waktu beberapa detik hanya sekadar untuk mengernyit saat mulai paham dengan ucapan Pak Lurah.
"Di sidang kenapa pak? Suami saya salah apa?"
Tentu pikiranku masih terarah pada anak sapiku yang dibawa pergi oleh Arta. Aku beranggapan jika suamiku di sidang karena merebut paksa sapi milikku dan membuatku pingsan karena terkejut. Tapi pikiranku salah besar. Karena penjelasan lanjutan dari Lurah, membuatku membeku tak bergerak.
"Beberapa hari lalu mas Arta kepergok warga desa Gumbungan sedang bersama wanita di dalam rumah. Wanita itu sudah memiliki suami, dan beberapa hari lalu mas Arta juga sempat menginap di sana. Tidak hanya sekali mbak, tapi berkali-kali dan puncaknya warga berang karena ulah keduanya."
"Warga Gumbungan baru menemui saya tadi siang untuk bermusyawarah tentang masalah ini. Hari ini mas Arta harus sidang di Kabupaten, ternyata warga sana sudah melaporkan masalah ini hingga pengadilan. Dan karenanya mas Arta harus membayar denda perzinahan." Jelas pak Lurah dengan runtut.
Tanganku dengan reflek menutupi kedua talinga Ayu, air mataku bahkan turun tanpa aba-aba. Hatiku terasa teriris saat Lurah menjelaskan sebab Arta di sidang. Sungguh aku tak percaya, mana mungkin suamiku mengkhianatiku? Bahkan seminggu belakangan tak ada masalah besar yang terjadi. Kami baik-baik saja, bahkan mas Arta pulang ....
Tidak, beberapa hari lalu mas Arta pergi dengan alasan ikut temannya bekerja harian di proyek perumahan. Bahkan minggu lalu mas Arta meminjam uang gajiku untuk pegangan selama pergi bekerja. Lalu, apakah saat itu kejadiannya berlangsung?
Nyawaku seakan dicabuta paksa dari raga, sekujur tubuhku terasa sakit karena kelelahan. Namun hatiku ikut diuji, 5 tahun kami menikah dalam kesusahan hidup, 5 tahun aku bekerja banting tulang menjadi babu, tapi ini balasannya?
Aku bahkan terima saja saat mas Arta jarang memberiku uang belanja, dengan dalih aku bisa bekerja sendiri, aku menguatkan kepercayaan penuhku padanya. Tapi ...
"Katanya mereka sudah berselingkuh dari 4 tahun lalu mbak."
Hancur sudah bendungan kesabaran dan percayaku, mas Arta benar-benar berselingkuh, bahkan saat Ayu masih di dalam kandungan?
Ya Tuhan, ujian hidup apa lagi ini? Apakah kemiskinan belum cukup untuk membuatku menjadi hamba yang rendah?
Seakan semua beban hidup dilimpahkan padaku, semua terungkap dengan menyakitkannya. Suamiku pergi dengan satu-satunya harta yang kumiliki, dan lebih hebatnya, ia menduakan kepercayaanku. w************n mana yang mau dengan suamiku yang kere itu?
"Buk, selingkuh itu apa?"
Selingkuh adalah tai kucing nak, kotor, bau dan tak bermanfaat, dan lelaki adalah kambing conge! Mending kalau punya uang, sudah kere, berani selingkuh!
Jangan-jangan, uangku yang dipakai untuk selingkuh?!
***
"Ayu! Ayo buruan, lama sekali uuk-nya? Ibuk mau kerja!"
Entah sudah keberapa kalinya aku berteriak pada Ayu, namun ia belum juga keluar dari kamar mandi. Sepertinya sudah lebih dari 30 menit Ayu minta buang air besar, namun belum juga teriak minta cebok. Sedangkan waktu kian siang, aku harus segera pergi membabu lagi.
Haha iya, membabu, itu memang pekerjaanku kan?
Selepas drama perselingkuhan yang berakhir sidang di balai desa, Mas Arta tak lagi kembali pulang. Aku bahkan belum bertemu lagi dengannya setelah rebutan sapi.
Terhitung sudah seminggu lebih ia pergi, dan tak ada kabarnya. Menelepon saja aku enggan, masih banyak rasa sakit yang belum aku lontarkan padanya, namun hanya untuk menanyakan di mana dan kapan pulang pun tak sudi.
Aku tak lagi menitipkan Ayu pada Ibu mertua, beliau bahkan kemarin datang kemari, lagi-lagi untuk meminta Ayu tinggal bersamanya. Ibu takut kalau aku memisahkan Ayu dengannya, gara-gara hubunganku dan Mas Arta yang diprediksinya tak akan lanjut. Sudah pasti aku tak akan membiarkan Mas Arta mengambil Ayu, tapi kepada Ibu mertua, tentu saja akan kubiarkan cucu dan nenek saling bertemu seperti biasa.
Namun, Ibu yang memaksa meminta Ayu tinggal dengannya membuatku khawatir, bisa saja Ayu akan disembunyikannya jika aku masih menitipkan pada Ibu. Bahkan, Ibu sama sekali tak menaruh rasa prihatin padaku atas perselingkuhan ini, seakan Ibu memang sudah mengetahui kebusukan Mas Arta. Apa ibu memang benar-benar mengetahui?
"Buk! Udah!"
"Iya!"
Terserah, mau Ibu tahu atau tidak, aku tak peduli. Kulempar pakaian ayu ke dalam tas dan menutupnya dengan kasar, aku tak apa-apa!
Setelah menceboki Ayu, aku bergegas pergi bekerja, mau tak mau aku membawa Ayu ikut serta. Namun dengan izin Bu Julia selaku majikanku, beruntung aku memiliki majikan yang baik dan pengertian. Hanya satu yang kusayangkan, "gimana perkembangan masalahmu dengan Arta?"
Sayang Bu Julia adalah salah satu Ibu kepo yang suka bergosip. Dia sering mengorek informasi tentang masalahku yang menggemparkan seluruh desa. Arta selingkuh, Arta di sidang di balai desa bahkan sampai pengadilan, Ros yang diselingkuhi, dan segala gosip lain beredar dimasyarakat. Keberadaanku di rumah salah satu geng gosip elit membuat bu Julia sering mengorek dengan lihainya, dan mau tak mau aku bercerita, daripada dia kesal lalu tak lagi baik padaku?
"Lusa aku harus ke pengadilan Buk, ngikutin sidang dan jadi saksi."
"Suami Sumi juga datang?" Saut Bu Julia semangat.
Sumi adalah selingkuhan suamiku, wanita yang bekerja di warung tempat di mana Mas Arta bekerja mencuci kendaraan. Sumi bahkan sudah berkeluarga, hanya saja belum memiliki anak, perselingkuhan yang kejam bukan? Masing-masing memiliki pasangan, tapi bisa-bisanya main serong.
Aku mengangguk, dengan tangan yang masih sibuk merapikan kamar Thomas, putra sulung bu Julia. Bu Julia memiliki dua anak, Thomas dan Lily, keduanya beruntung memiliki orang tua yang kaya raya, sehingga bisa berkuliah. Usia Thomas tak terlalu jauh denganku, hanya terpaut 4 tahun, dan saat ini ia bekerja sebagai pengacara di Jakarta. Sedangkan Lily, gadis jelita itu kini berusia 20, berkuliah di Jakarta, mengambil jurusan Ilmu Gizi. Kedua anak Bu Julia jarang pulang, dan nanti sore Thomas akan pulang setelah berbulan lamanya tak pernah menginjakkan kakinya di rumah.
"Gemes aku Ros! Aku ikut ya lusa, pengen lihat secantik apa sih selingkuhannya?! Sampai istri sebaik dan secantik kamu kok dikhianati! Kalau Thomas nggak punya pacar juga aku mau jadiin kamu mantu, lumayan udah dapat Ayu yang lucu begitu. Heran aku sama Arta, kerja nggak beres, tapi berani main serong!"
Aku hanya sanggup menyengir saja, ucapan seperti itu sudah kerap Ibu Julia lontarkan. Aku tak paham, apakah ia lupa kalau pernah mengucapkannya, atau ia ingin kembali menekankan jika Mas Arta adalah lelaki berengsek? Entahlah. Yang pasti aku kesal pada ucapan mau menjadikan mantu, Thomas adalah lelaki loyo, lemah gemulai yang tidak tegas. Walau aku miskin sekalipun, aku tak mau menikah dengannya, pasti lemah diranjang.
Menikah dengan Mas Arta bukanlah keputusan yang enteng. Aku juga memantaunya dulu sebelum menerima pinangan. Mas Arta adalah lelaki bugar, sebelum kami menikah, dia bekerja di pabrik tahu dekat rumah, tiap hari aku sering melihatnya telanjang d**a. Ototnya terbentuk dengan baik, suaranya juga tegas dan laki sekali, jelas aku mempertimbangkannya untuk menjadi suamiku. Walau tak kaya, tapi dia tampak perkasa, dan penyayang. Namun itu dulu.
"Ndak usah Buk, Ibuk kan sibuk, kalau ikut aku malah merepotkan. Aku datang juga sebagai saksi saja, kalau Ibu pengen lihat Sumi, mending cuci Mobil ditempat Haji Malik."
Sebenarnya aku heran, Bu Julia mengetahui nama simpanan Mas Arta, tapi tak tahu wajahnya? Dasar ibu-ibu penggosip. Saat kutoleh Bu Julia yang duduk diranjang, ia menjentikkan jari seraya mengangguk.
"Oke, nanti aku cuci mobil di sana, kamu mau titip salam jambak sekalian ndak? Kalau ketemu aku mau ulek mukanya, aku giles juga congornya! Hih gemes aku!"
Satu hal yang aku sukai dari Ibu Julia, dia adalah perempuan baik dan peduli pada orang disekitarnya. Aku hanyalah pembantu, namun di sini aku diperlakukan layaknya keluarga. Apa saja yang aku masak di sini akan kubawa pulang juga. Walau kebanyakan sayuran, karena Lily sang ahli gizi terus memaksa keluarganya hidup sehat. Coba saja keluarga ini sering makan Ayam, aku tak harus berbohong pada Ayu yang terus merengek minta Ayam kriuk.
"Ndak usah Buk, biar Tuhan aja yang jambak."
Bu Julia tergelak, suara tawanya sangat khas, bahkan aku berangsur ikut tertawa karena tawanya.
"Kalau Tuhan yang balas, jambakannya otomatis nyeret Sumi ke neraka Ros... lucu kamu."
Bagus, itu malah lebih baik! Pendosa kan harusnya di hukum. Apalagi dosa menyakiti hati seorang istri, bukankah akan terus menambah berat dosanya, jika sang istri masih sakit hati? Lalu untuk apa pendosa hidup? Mending mati sekalian.
"Oh iya, kalau kamu butuh pengacara, biar Thomas yang urus. Aku sudah ngomong ke Thomas, temannya yang pengacara handal kebetulan ikut menginap di sini untuk liburan. Nanti kamu akan dibantu, tenang saja, urusanmu sama Arta akan diselesaikan dengan baik. Sapimu juga, aduh ... itu harus diurus tuntas pokoknya!"
Aku sama sekali tak dapat berkata-kata, mataku terasa perih seakan ada jarum tak kasat mata yang menusuknya perlahan-lahan. Rasanya air mataku ingin menetes, aku kira tak ada yang peduli padaku, namun ada sosok Ibu Julia yang bahkan tanpa diminta, ia menanyakan beban maslahku. Walau aku tak yakin, apakah tujuannya murni bertanya atau mencari bahan gosip.
"Bahkan aku siap mencarikan calon suami baru untuk kamu, kamu cantik! Jangan mau nikah sama lelaki kere kayak Arta! Sudah kere, main serong lagi! Nggak malu sama dompet!"
Aku hanya mampu meringis saja, benar kata Bu Julia, Mas Arta memang lelaki kere, tapi berani-beraninya main serong. Kalau Mas Arta memberiku kebahagiaan lahir batin dan uang yang banyak untukku berhura-hura, mungkin akan kuwajarkan jika ia selingkuh. Uangnya banyak, mungkin binggung menghabiskannya, jadilah mencari selingkuhan. Lah ini? Entahlah, lelah harus terus membahas betapa kerenya dia. Walau aku akan segera menjanda, namun untuk mengenal lelaki baru, kurasa itu bukan prioritasku saat ini.
Diselingkuhi membuatku sadar, cinta hanyalah pemodohan! Aku menyesal pernah mencintai suamiku tanpa tolak ukur. Segalanya kuberi padanya, bahkan menuntut hak saja aku tak pernah, semua kulakukan karena cinta. Aku mencintainya, walau menikah karena terpaksa, membayangkan lelaki lain pun tak pernah.
Namun lihatlah, aku yang tersakiti akibat perasaan utuhku. Sekarang, bagiku lelaki hanyalah penghangat rahim saja, sedangkan aku sudah memiliki putri, untuk apa aku kembali pada dunia gelap bernama cinta?
"Ndak usah Bu, aku mau fokus sama Ayu saja,"
"Tap-"
"Buk! Ada oom ganteng di luar!" Suara teriakan dan Ayu yang mendekat dengan berlarian, membuat aku dan bu Julia menoleh bersamaan.
"Eyang, ada tamu," tambah Ayu seraya mendekat pada bu Julia.
Memang bu Julia meminta Ayu untuk memanggilnya Eyang, berkat Ayu yang mudah bergaul, baru pertama kali ia menyambangi rumah ini, Ayu sudah akrab dengan Bu Julia. Bahkan Ayu yang cerewet malah disukai, ia bahkan sudah mengantongi uang pecahan seratus ribuan yang diberi oleh suami Bu Julia tadi pagi. Yang lucu, Ayu sempat memamerkan uang itu dengan sumringah, mengatakan jika akhirnya dia bisa membeli ayam goreng, setelah minggu ini kembali gagal karena gemparnya masalah perselingkuhan Mas Arta. Ayu diusia sekarang ini, sudah mulai memahami jika Ibunya sedang tidak baik saja, dan dengan lapang tak meminta apapun selain menemaniku serta menghiburku dengan ocehan polosnya.
"Oh ya? ayo lihat tamunya,"
Untung Ayu datang, kalau tidak, aku tak tahu harus beralasan apa untuk kata 'tapi' yang akan dilontarkan Bu Julia.