Hari berangsur sore, namun pekerjaanku belum juga selesai, menjadi kian banyak karena kepulangan Thomas. Ternyata om-om yang dimaksud Ayu adalah Thomas yang sedang mengerjai, meminta Ayu mengatakan jika ada tamu. Sebenarnya aku heran, sejak kapan Thomas mengetahui cara bercanda? Setahuku dia adalah lelaki yang tak banyak bicara.
Tapi, lelaki itu banyak berubah, hampir empat tahun aku tak melihatnya, dan dia bukanlah lagi Thomas yang dulu.
"Ros, sprey dikamarku sudah diganti?"
Aku yang sedari tadi menyiram bunga dibelakang rumah terjingkat kaget, karena pundakku yang ditepuk. Disampingku Thomas berdiri dengan bertelanjang d**a, dengan kaca mata bertengger dibatang hidungnya. Itulah salah satu perubahan dari Thomas, baru beberapa jam aku berjumpa lagi dengannya, lelaki itu sama sekali tak malu wira-wiri tanpa kaus. Benar-benar bukan Thomas yang dulu.
Thomas adalah seorang yang pendiam, itulah mengapa dia pernah dirundung oleh remaja desa. Tidak hanya di rundung, karena memiliki keluarga yang berada, Thomas pun sering di palak. Dia bahkan tak pernah bisa melawan. Tapi, sekarang visual dan sikapnya bahkan berubah drastis.
"Sudah Mas,"
Thomas mengangguk paham, melepas kaca matanya dan sedikit mengucak mata. Lelaki itu sedari tadi tidur di sofa, hanya karena terlalu lelah dan tak suka warna sprey. Bahkan ia meminta kamarnya dibersihkan ulang, katanya masih banyak debu dan kurang wangi. Karena itulah pekerjaanku bertambah, tak bisa pulang cepat, dan terpaksa membiarkan Ayu yang sudah mandi dan kelelahan tidur di kamar Lily.
"Kalau begitu tolong bangunkan temanku di mobil." Setelah mengatakan kalimat perintah itu, Thomas berlalu pergi menuju kamarnya.
Meninggalkan aku yang membelalak heran, wajar saja ia sendirian, sedangkan kata Bu Julia temannya yang pengacara handal akan datang. Tapi, bagaimana bisa Thomas membiarkan temannya tidur di dalam mobi? Gila, ini bahkan sudah berselang 3 jam sedari lelaki itu datang.
Kulempar selang yang sudah kumatikan, lalu berlari menuju pekarangan rumah. Dulu desa pernah gempar karena orang meninggal di dalam mobil, kehabisan oksigen dan keracunan gas entahlah apa. Dengan panik aku segera membuka pintu mobil, mengguncang badan lelaki yang terpejam dengan damai itu.
Ya Tuhan, dia belum lewat kan?
"Mas, mas bangun!"
Setelah guncangan yang entah keberapa kali, lelaki itu membuka matanya yang memerah. Wajahnya kucel khas bangun tidur, namun lelaki itu sangat tampan. Kulitnya putih bersih, rambutnya yang belahan samping menampakkan keningnya yang tak berjerawat sama sekali. Hidungnya besar dan tinggi, matanya sangat tajam, dan tanpa sadar aku sibuk mengamati wajah yang terlihat kesal itu.
Namun dengan lega aku mengusap d**a bersyukur, ternyata dia tidak lewat, beruntunglah dia tidak viral karena meninggal.
"Bisa nggak sih bangguninnya santai saja? Kalau aku mati kaget bagaimana?"
"Milih mati kaget apa mati keracunan karena tidur berjam-jam di dalam mobil?"
Lelaki itu menaikkan satu alisnya, jok yang awalnya dibuat merendah untuk tempatnya tidur, kini tiba-tiba kembali berdiri. Aku yang belum mundur dari mobil pun dibuat terkejut dan menjauh dengan kaget. Namun nahasnya belakang kepalaku mengantuk mobil, membuatku menggerang kesakitan.
"Sorry, sorry, nggak berniat begitu. Sakit?"
Coba kau rasakan sendiri! Benturkan kepala kau, rasakan sakit atau tidak?! Jelas saja sakit! Segala ditanya!
Tentu saja aku tak mungkin melayangkan kekesalanku, menggeleng dan mundur perlahan, aku menggusak kepalaku yang bisa saja akan benjol nantinya. Tak apa, sekali-kali merasakan besar kepala, biasanya aku tak pernah merasakannya kan? Apa pula yang bisa kusombongkan?
"Mustahil untukku mati, jendelanya kebuka," lelaki itu menutup pintu dengan ransel yang ditentengnya, "kalau mati kaget, itu sangat mungkin. Ceroboh!"
Wajahnya saat mengatakan kalimat terakhir terlihat sangat menyebalkan, seakan sedang meremehkan ketololanku yang tadi panik. Baiklah, aku ceroboh!
"Maaf Mas, aku ndak tahu," ucapku dengan penekanan.
Lelaki asing itu hanya diam, dengan tas yang disampirkan dibahu kanannya, matanya terus menatapku menyeluruh. Dari wajahnya terlihat sedang menilai, dan itu membuatku malu. Dengan pakaian lusuh dan murah ini, rambut yang acak-acakan dan keringat dimana-mana, aku merasa rendah. Lelaki dihadapanku terlihat mewah, penampilannya terlihat berkelas, sepertinya pakaiannya sangat mahal, mungkin lebih mahal dari gajiku 4 bulan.
"Selera Thomas unik juga, kamu pacarnya?"
Hah? Pacar?
Aku menggeleng spontan, mana mungkin aku pacar Thomas, dan bagaimana bisa lelaki ini menyimpulkan begitu? Sungguh tidak masuk aka!
"Tidak mas! Aku ... aku hanya pembantu." Entah mengapa lidahku terasa kaku untuk mengatakan kata itu, aku merasa malu. Dianggap sebagai pacar Thomas, tapi nyatanya aku hanyalah seorang kacung, pembantu, babu.
"Pembantu?"
Dengan kedua bibir yang kutipiskan dengan rapat, aku mengangguk seraya meremas rok sebawah lutut yang kukenakan. Namun saat lelaki itu melangkah maju dengan senyuman miring, aku perlahan mundur.
"Luar bisa, Thomas pintar memilih pembantu. Kau cantik" setelah jarak kami semakin dekat, lelaki itu tersenyum lebar, dan kembali berucap, "dan sexy. Ah! Dan kuharap kau masih single, karena aku pun begitu."
Kurang ajar! Apa maksudnya?! Pelecehan! Ini adalah pelecehan verbal! Belum sempat dan tak berani untuk protes, lelaki itu sudah lebih dahulu pergi menuju kediaman Bu Julia. Aku hanya bisa mematung, menatap lelaki itu yang kini menoleh, melambaikan tangan dengan senyuman menyebalkannya. Pasti dia adalah seorang playboy! Pengacara handal katanya? Mana mungkin ada pengacara bentuknya semacam itu? Kurasa Bu Julia salah kaprah.
"Ayo masuk, aku ingin mandi."
Sinting! Mandi ya tinggal mandi! Untuk apa mengajakku?!
Namun, kurasa kekesalanku berakhir membuatku malu sendiri. Dengan bodoh aku mengira lelaki itu meminta ditemani mandi, padahal ia hanya minta menyiapkan air hangat. Lagipula, lelaki dewasa mengapa mandi dengan air hangat sih? Ayu saja mandi dengan air dingin, tadi!
Dengan kesal, aku keluar dari kamar mandi milik Thomas. Menyebalkan, aku kesal pada otakku yang berfikiran macam-macam, dan lebih kesalnya lagi karena lalaki itu memberi perintah yang menyebalkan. Ada shower hangat maupun dingin, tetapi ia meminta mandi air hangat di bathup. Merepotkan!
"Sudah?"
Sabar Ros, kau hanya pembantu, tidak pantas untuk kesal dan marah. Aku mengangguk, lelaki yang tak kuketahui namanya itu beranjak dari ranjang dan dengan santainya menanggalkan kausnya. Sinting! Dalam beberapa jam saja aku bisa melihat dua lelaki bertelanjang d**a! Sialnya, otot d**a dan perut lelaki ini malah begitu menawan. Mau tak mau aku terus meliriknya walau dengan jemari menutup wajah, sial!
"Aku mandi dulu ya cantik," ucapnya dengan senyuman c***l.
"Lo mau mandi?"
Aku menurunkan tanganku begitu mendapati sosok Thomas berdiri di depan pintu. Buru-buru aku meninggalkan kamar, namun lelaki asing itu menahan lenganku, membuatku menoleh dengan mata melotot. Sialnya! Lelaki itu tampan, mau dia c***l atau kurangajar, dia tetap tampan.
Benar kata orang, visual memang bisa menurunkan tingkat kriminalitas seseorang.
"Siapa nama kamu?"
"Ros, namanya Ros." Itu suara Thomas, yang kini mendekat dan duduk dipinggir ranjang.
"Ah, Rose, oke akan kuingat. Namaku Joenatan, panggil saja Joe, senang berkenalan denganmu."
"Dia sudah bersuami geblek! Nggak usah tebar pesona deh lo, hahaha. Tapi kalau lo sabar nunggu, bentar lagi dia pisahan kok, dia cewe yang gue ceritain kemarin."
Lelaki itu tampak membelalak, namun tersenyum miring kemudian. "Ah, calon janda sexy satu anak itu? Menarik,"
Ya Tuhan, bolehkah aku meminta satu saja permintaan? Bolehkah aku menghilang saja dari peradaban? Atau jika susah, buat aku lahir kembali menjadi capung saja. Walau keberadaannya tak penting, namun tetap dibutuhkan jika ada anak kecil yang masih mengompol. Setidaknya capung bermanfaat, sedangkan aku? Hanya disakiti dan menjadi bahan gosip.
***
Dengan menggandeng Ayu yang berjingkrak bahagia dengan lolipop di tangan, senyumanku tak juga pudar. Langit sudah berwarna jingga, sebentar lagi suara pengundang ibadah pasti akan terdengar. Setelah lelah bekerja seharian, dan mendapat bonus dari ibu Julia karena bekerja lebih lama di banding biasanya, akhirnya aku bisa membelanjakan jajanan kesukaan Ayu.
Permen lolipop rasa melon, serta s**u. Hanya dengan itu saja, Ayu yang belakangan sering murung karena diejek teman-temannya, kini sudah kembali ceria.
"Ibuk, nanti kalau gajian jadi beli ayam goreng kan?" Celoteh Ayu.
Mata murninya berbinar bahagia, dan hal itu sedikit menghantam perasaanku. Ayam memang bukan makanan yang terlampau mahal, namun kebutuhan hidup yang lain pun tak kalah penting bukan?
"Iya, nanti ibu belikan ayam utuh buat Ayu."
Ayam utuh, alias telur.
"Yey! Ayam kriuk!" Semangat Ayu, lalu melepas genggamanku dan berlarian bahagia.
Ayu adalah sumber kebahagiaanku, dia selalu menguatkanku untuk semua nasib buruk yang aku alami. Namun, suara kasak kusuk yang mulai terdengar begitu kami hampir melewati perempatan jalan, membuat langkahku melambat.
"Selamat sore ibu-ibu!" Sapa Ayu dengan sopan.
Ayu memang selalu aku ajari untuk bertingkah sopan pada yang lebih tua. Dengan perangai ramah dan cerianya, Ayu selalu menjadi primadona di kalangan ibu-ibu. Tetapi, respin dari sapaan ramah Ayu, benar-benar diluar perkiraanku.
Ibu-ibu nampak cuek, dan fokus bergumam seraya mencuri lirik kepadaku.
"Mari, buk." Sapaku, seraya meraih tangan Ayu untuk diajak melangkah lebih cepat.
"Kasihan ya si Ayu. Anak baik, tapi kedua orang tuanya tidak becus. Jadi janda kan aib, tapi Ros tetap milih cerai dari Arta. Sama sekali tidak peduli sama anak."
Suara sahutan-sahutan membenarkan mulai terdengar, sedang aku tetap meneruskan langkah dengan lebih cepat. Mari tak usah dipedulikan dan tebalkan telinga.
"Ibuk, janda itu apa?" Lirih Ayu.
Aku tersentak saat mendengar pertanyaan Ayu. Memilih menggeleng dan meraih Ayu untuk kugendong. "Bukan apa-apa nak, belum saatnya Ayu tahu arti janda."
Entah kapan waktunya, Ayu pasti akan tahu tentang semua pertanyaan yang ada di kepalanya. Dia juga akan tahu, jika sang bapak adalah seorang berengsek yang tak memiliki malu dan perasaan. Namun, setidaknya saat itu bukanlah sekarang, karena aku tak ingin semakin melenyapkan kebahagiaan dari wajah putriku sendiri.