4. Papa Joe

1267 Kata
Aku menghela nafas lega begitu keluar dari ruang sidang, di dalam sana terasa sesak, padahal sidang ini tidak dihadiri banyak orang. Mungkin karena kesal harus satu ruangan dengan dua pengkhianat itu, atau karena merasa sakit hati sebab sapi milikku benar-benar tidak akan kembali karena sudah digunakan untuk membayar denda? Entahlah, yang pasti saat ini aku kesal, karena pasangan hasil menikung itu sudah bebas dari tuntutan. Keduanya tak akan lagi dijerat hukum, karena Sumi dan suaminya pun sudah mengajukan perceraian. Sedangkan aku? Cerai? Siapa yang akan membiayainya? Uang untuk mengajukan cerai saja tidak ada. Kecuali jika Mas Arta yang akan membiayainya, tapi aku tak yakin lelaki kere itu memiliki uang. Di saat seperti ini, aku tiba-tiba rindu dengan Ayu, walau putriku itu sangat cerewet dan sering memalukan saat di keramaian, tapi ternyata dia lah satu-satunya alasan kebahagiaanku. Membicarakan tentang Ayu, hari ini Bu Julia menawarkan untuk menjaga Ayu, kebetulan beliau akan pergi berbelanja bulanan, karena itu Ayu diajak pergi bersama, dengan Thomas dan Joe—lelaki kurang ajar bin m***m. Pusing walau hanya memikirkannya saja, lelaki yang bahkan belum ku kenal dengan baik itu bermulut manis, ucapannya hanya berupa pancingan halus yang menjerumuskan. Aku masih ingat saat kemarin lelaki itu berniat akan mengantarku pulang. Dengan lihai ia menawarkan diri, mengatakan jika tak baik wanita pulang sore-sore sendirian. Bodohnya aku menjawab tak mau merepotkan, lagipula penolakan apa lagi selain itu? Namun dengan kurang ajarnya lelaki itu menjawab, "kalau begitu beri aku imbalan, biarkan aku menginap di kamarmu misalnya?" Dasar lelaki m***m! Tidak hanya itu saja kemesumannya, saat aku sedang mengangkat jemuran, lelaki itu dengan lancangnya memeluk pinggangku. Memang saat itu aku hampir terjatuh karena menginjak batu, tapi jangan menempelkan burungnya dipantatku dong! Cari enak hah?! Tuh kan emosi. "Mbak Ros?" Emosi yang sudah mengumpul menjadi satu di kepala, perlahan mereda saat mendengar panggilan dari suara nan lembut itu. Saat menoleh, sosok Bagus mendekat dengan senyuman tipis. Bagus adalah suami Sumi, lelaki baik yang bekerja di bengkel. Kulitnya memang kecoklatan, namun Bagus sangat manis dengan lesung pipi disisi kiri wajahnya. Mas Arta memang tampan, tapi kalau duit saja tidak ada, apa gunanya? Mending Bagus yang memiliki pekerjaan jelas. "Iya ada apa?" Bagus tampak kikuk, merogoh kantung celananya dan menyodorkan ponsel keluaran cina yang bisa dibilang murah. Tapi lumayan, daripada milikku yang masih saja Nokia dari zaman dulu sampai sekarang. Itupun belum cerdas, sepertinya aku harus lebih giat mencari uang untuk menyekolahkan ponselku agar menjadi ponsel pintar. Masuk kedalam dunia milenial, tapi ponselku masih berbunyi cekluk-cekluk saat dipencet? Sedangakan orang lain sudah tidak memiliki keyboard lagi diponselnya. Parah, parah! "Boleh minta nomor Wa-mu?" Baru saja aku meratapi nasib, sudah diajak meratap lagi? Jangankan Wa, untuk simpan lagu pun tidak biasa, hanya ada suara jangkrik, kodok dan ayam saja yang biasa kudengarkan dari ponselku. "Saya ndak punya Mas, cuma ada nomor telepon biasa," "Ndak apa, nomor saja!" Mendengar seberapa gesit Bagus menjawab, aku merasa was-was, sebenarnya untuk apa ia meminta nomorku? Masalah Mas Arta dan Sumi bahkan sudah selesai dengan denda, aku pun tak memiliki masalah apapun dengan Bagus maupun Sumi. Ya, tidak ada masalah, karena aku tidak sama sekali melabrak Sumi seperti di televisi yang viral itu. Bagiku balasa Tuhan saja yang menggantikannya, jika aku ikut turun tangan melampiaskan kekecewaan, bisa saja aku tidak mendapat balasan dari nikmat kesabaran. Halah, sabar-sabar gundule! Aku terus menangis saat malam hari, sakit hatiku masih belum hilang karena pengkhianatan ini! Diluar aku terus mengatkan rela dan masa bodoh, tapi tiap malam aku terus menangis macam orang gila. Bagaimana tidak? Aku mengabdikan hidupku untuk Arta dan Ayu, namun balasannya adalah lara. "Mbak Ros?" Bagus menyentuh lembut lenganku, telapak tangannya sangat kasar, menandakan jika dia pekerja keras. "Iya?" "Nomor," Tanpa berpikir macam-macam lagi, aku meraih ponsel itu, beruntung sudah tinggal memencet angka saja. Kalau saja harus mencari sendiri letak mnmengetik angka, rasanya aku akan berakhir malu karena tidak mengetahuinya. "Kamu pulang sama siapa Mbak? Mau bareng saja?" Ucap Bagus dengan malu-malu. Mungkin, jika Bagus bukan suami Sumi, aku akan membuka lengan lebar-labar pada penawaran itu. Dari gerak-geriknya, Bagus juga seperti memiliki niat lebih. Tapi karena dia adalah calon mantan Sumi, aku merasa geli. Bukan geli yang jijik dan tidak mau kenal, tapi geli karena kesal. Masa kita tukaran pasangan? *** "Terima kasih Mas," aku tetap berterima kasih walau dengan wajah buluk dan bermandikan keringat. Langit sudah sore, dan aku baru sampai rumah. Semua karena motor Bagus yang bocor, dan dengan terpaksa kami mendorongnya hingga menemukan tambal ban. Kenapa apes sekali sih nasibku? Kami berjalan hingga beberapa kilo jauhnya, dan sialnya lagi tidak ada angkutan umum lewat, karena mogoknya dijalan pesawahan. Rasanya aku ingin bermimpi mempunyai bathup atau shower yang bisa memanjakanku. Tapi, jangankan shower, mandiku saja hanya menggunakan ember besar untuk menampung air. Miris sekali bukan? Itu karena bak penampung air yang bocor, namun gagal perbaiki karena uangnya lagi-lagi dipakai Mas Arta. Mengingat ini, semakin membuatku merasa teramat bodoh karena mudah sekali tertipu. Selama ini tidak ada yang berbeda dari Mas Arta, ia masih berperilaku seperti ia biasanya, jadi mana mungkin aku curiga? Ia masihlah lelaki yang gemar bermanja dan merayu, walau intensitasnya berkurang semenjak cek-cok di mana ia sering iri pada Ayu anaknya. "Ndak perlu terima kasih Ros, aku yang minta maaf karena membuat kamu jalan kaki." Sepanjang kami pulang bersama, banyak obrolan yang Bagus ceritakan. Kami semakin dekat dan memutuskan untuk berbicara dengan santai, karena itulah Bagus tidak lagi memanggilku Mbak. Bahkan Bagus sudah tidak canggung lagi, sudah tidak sepemalu awal. Satu kenyataan menggemparkan yang kudapat dari cerita Bagus. Sumi mengidap kangker rahim stadium awal, tetapi dokter menganjurkan padanya untuk mengangkat rahim, namun Sumi tidak mau, ia menolaknya. Mendengar cerita itu, aku merasa sedikit bahagia—lupakan tentang adab, aku bahagia karena dia mendapatkan azabnya—Arta melepasku untuk wanita itu. Wanita penyakitan yang kata Bagus tidak akan bisa memiliki anak. Tidak hanya itu, bahkan kata Bagus, Sumi kerap pingsan karena sakit perut, lebih tepatnya sakit pada rahimnya saat datang bulan. Kita lihat, apakah Mas Arta sanggup membiayai pengobatannya? "Maaf ya Ros, sampai kering—" "Ibuk!" Teriakan Ayu menghentikan tangan Bagus yang hendak menyentuh keningku, lelaki itu mencoba lancang, namun terhenti berkat Ayu. Aku tersenyum semringah menatap Ayu berlari mendekat, aku tak mempedulikan pakaian Ayu yang sudah berubah, karena kini aku merentangkan kedua lengan, merengkuh putriku ke dalam pelukan. Saat memeluk Ayu, mataku membelalak begitu melihat sosok lelaki yang berjalan mendekat dengan tas merah muda yang tersampir dilengan kirinya. Jelas itu tas unicorn milik Ayu, serta beberapa paper bag ditangan kanannya. "Kau sudah pulang?" Sapanya, Joe! "Ayu, kok pulangnya ndak sama Ibu Julia?" Ayu melepaskan diri, menggeleng seraya menoleh pada Joe. "Ayu kan perginya sam papa Joe!" Hah?! Papa?! Gila! Aku bahkan berdiri dengan sempoyongan karena terkejut dengan penuturan Ayu. Apa-apaan? Bagaimana bisa Ayu memanggil lelaki m***m itu dengan panggilan papa? "Papa?" Ulang Bagus dengan memandang kami bertiga bergantian. Tiba-tiba jantungku berdetak lebih kencang saat mendengar Bagus tampak mempertanyakan. Aku khawatir jika Bagus salah paham, khawatir pula jika obrolan ini akan terdengar hingga telinga Mas Arta. Saat Mas Arta tahu kalau aku dekat dengan lelaki lain sebelum bercerai, aku takut jika dia akan memutar balikkan fakta dan mengarang cerita bahwa aku juga berselingkuh. Bukankah ini hanya akan semakin merugikanku nantinya? "Ndak Mas, dia temannya anak majikanku," jelasku, tampak sedikit raut kelegaan dari wajah Bagus, lelaki itu mengangguk lalu tersenyum. "Ayu, panggil Om saja, jangan Papa." Tegurku. Ayu tampak tidak suka, ia memeluk lengan Joe lalu berucap dengan luar biasanya. "Kata eyang Jul, Papa itu orang yang memberi makan dan memberi uang Buk, kan Papa Joe memberi makan, baju, mainan, sama uang buat Ayu. Berarti Papa Joe Papa Ayu dong!" Ladalah ... rusak sudah, rusak!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN