5. Kejanggalan

1025 Kata
Tidak hanya aku, Bagus pun membelalakkan matanya karena terkejut pada penuturan lugu Ayu. Dengan cengiran malu, aku mensejajarkan tubuh dengan Ayu dan mengusap lembut rambutnya yang dikuncir rapi. "Ayu, kan Ayu udah punya Bapak sayang, napak Arta." "Ndak Buk ... bapak Arta ndak pernah ngasih Ayu uang! Dia bukan Bapak Ayu!" Ayu berteriak dengan wajah memerah, dari rautnya sudah siap untuk menangis. Belakangan Ayu memang gampang merengek dan berkahir menangis, dia bahkan sudah susah dirayu dan dibohongi. Mendengar ucapan Ayu, rasa sakit menyerang hatiku, inilah sebabnya anak kecil jangan diajak membicarakan hal dewasa. Ayu memang belum pernah mendapat uang jajan dari Bapaknya. Anak sekecil Ayu mana paham tentang begini jika tidak menyerap dari orang dewasa? Pecah sudah tangisan Ayu, dengan telatennya Joe menenangkan dan mengendong Ayu. Aku terpaksa mendekat—walau enggan—mengusap punggung Ayu menenangkan. Namun, tatapan tajam Joe, membuatku melirik kearahnya. Ada yang aneh dari lelaki m***m ini, dia biasanya sangat banyak omong dan suka merayu, tapi sedari tadi ia hanya diam saja. Ataukah ... karena dia menyesal saat tahu jika aku sudah memiliki anak? Tatapan Joe berpindah pada Bagus, lalu kembali padaku, entah mengapa ada semburat kekesalan dari tatapan tajamnya. Lelaki yang sedari awal kukenal playboy dan suka menebar senyuman maut, kini berubah menyeramkan. "Dia suamimu? Si tai kucing?" "Hah?!" Aku berseru macam orang bodoh, jelas aku tidak paham dengan pertanyaannya. "Ayu bilang bapaknya selingkuh, dan kata kamu selingkuh itu tai kucing?" Ayu! Ya Tuhan! Kenapa harus menceritakan hal itu pada orang lain sih?! Kenapa?! Memalukan saja ini anak! "Ayu sayang, digendong Ibu dulu ya, Papa mau ngobrol sama bapak kamu." Ayu yang masih menangis diserahkan padaku, walau awalnya merengek menolak, namun akhirnya ia menurut atas bisikan Joe. Aku penasaran apa bisikan itu, hingga Ayu yang belakangan rewel, jadi menurut begitu saja. Saat Joe melepaskan Ayu, dia melangkah mendekat kearah Bagus, mataku membelalak terkejut. Sedari tadi aku belum sempat menjelaskan jika Bagus bukan suamiku. Saat Joe mencengkram kerah baju Bagus, barulah aku memekik terkejut. "Jangan muncul di sini lagi kau, tai kucing!" Tidak kuasa aku untuk tidak menepuk kening, mengapa pula kata itu diadopsi dan digunakan untuk mengancam Bagus? Salah! Salah lagi karena aku sempat mengatakan jika selingkuh adalah tai kucing, harusnya saat itu aku membatin saja. Namun karena kesal pada pertanyaan berulang Ayu, yang tidak alan diam sebelum dijelaskan, akhirnya aku melontarkan kata nyeleneh yang tidak sesuai arti itu. "Pa! Dia bukan Bapak Ayu! Bapak Ayu kan ganteng! Bapak Ayu ndak item!" Aduh .... Tuhan ... kenapa punya anak satu kok mulutnya julid sekali ya? Ini gara-gara Ayu sering aku titipkan pada Ibu mertua yang suka menggosip. Anak kecil sangat cepat dan mudah menyerap kata-kata, begitu pula dengan Ayu. Tiap dia pulang dari rumah Ibu, pasti ada kata baru yang nyeleneh dan tidak pantas diucapkan anak-anak. Lagipula, mengapa Ayu memuji Mas Arta? Mengatakan Mas Arta tidak hitam, padahal kan Mas Arta juga kecoklatan, tidak beda jauh dari Bagus. Ucapan Ayu membuat Joe melepas cengkramannya, dia menoleh dengan alis yang menukik, membuatku meringis malu. Malu karena mulut anakku yang terlampau julid, perasaan aku tidak suka berucap pedas pada orang lain. Karena seringnya hanya sebatas membatin saja, tak mau membuat orang lain tersakiti. Tapi kenapa Ayu kejam sekali sih mulutnya? "Mas, kamu pulang saja ya, maafin ucapan Ayu ya." Aku meringis tak enak pada Bagus, lelaki itu tampak merapikan bajunya dengan tatapan kesal pada Joe. "Dan untuk Mas Joe, Mas pulang saja ya, terima kasih sudah ajak Ayu jalan-jalan." "Aku pamit Ros, nanti aku telepon." Bagus berpamitan seraya menunggang dan menyalakan motornya. Saat itu juga Joe menatapku seakan bertanya, tapi aku bukan dukun yang paham apa yang dia maksudkan, jadi aku memilih diam macam orang bodoh saja. "Jadi dia siapa? Kok mau telepon segala?" Lah, kamu siapa? Kok mau tahu urusan orang lain? Siapa dia, bukan urusanmu kan? "Dia suami selingkuhan suamiku." Bodoh kau Ros! Bersikap tegas saja tidak bisa! Harusnya kalimat yang ada dibatinmu yang kau lontarkan! Bukan kalimat pasrah yang lebih terbuka itu. Joe mengangguk, lalu mengusap punggung Ayu yang memeluk leherku dengan cukup erat. Sepertinya dia akan terlelap. Mulutku baru saja terbuka hendak kembali mengusir Joe, namun suara motor mendekat dan berhenti di pekarangan rumah sederhanaku, membuat ucapanku gagal terlontar. Dari kejauhan terlihat mas Arta, lelaki itu pulang dengan seorang tukang ojek, karena motor itu pergi setelah mendapat uang. "Ayu, Bapak pulang ..." Ayu yang awalnya memeluk leherku dan menelusupkan kepala dileher seperti hendak terlelap, kini terlonjak dan menoleh kearah Mas Arta. Lelaki itu mendekat tanpa malu, tanpa rasa bersalah sedikitpun, mengusap rambut Ayu dan mengecup keningnya. "Ayu kangen bapak ndak nak?" "Kangen!" Pekik Ayu seraya mengulurkan tangan dan berpindah gendongan pada Mas Arta. Melihat pemandangan itu, aku mengernyit tidak percaya, bagaimana bisa Ayu tampak seceria itu? Ayu bahkan tidak sedekat itu dengan mas Arta, biasanya suka menolak saat akan digendong. Tapi kini dengan mudahnya meminta gendong? Padahal Ayu tahu kalau Bapaknya selingkuh, Bapaknya kabur dengan wanita lain, bapaknya tai kucing. Itulah yang Ayu dapat tiap pulang dari main, karena teman-temannya suka mengejek Ayu tidak punya bapak lagi. Aku kira Ayu akan membenci Mas Arta, tapi kenapa? "Oh ini tai kucing yang asli?" Aku sempat lupa jika di sini masih ada Joe, lelaki itu sedari tadi diam namun mencerna obrolan dihadapannya. Lelaki itu mendekat, mencoba meraih Ayu namun ditolak, yang mengejutkan, Ayu lah yang menolak uluran tangan Joe. "Sayang, kamu ndak mau digendong Papa?" "Papa?" Ulang Mas Arta dengan ekspresi terheran-heran. Kejadian sudah! Akhirnya mas Arta mendengarnya, mendengar kata Papa yang coba aku sembunyikan. Dihadapanku Ayu terus berontak tiap kali Joe hendak meraihnya, sedangkan mas arta berkali-kali menjauhkan Ayu. Terjadi sedikit tarik-menarik hingga Ayu menangis histeris. Menatap kehebohan itu, aku hanya sanggup bengong saja, mengapa keadaan ini menjadi aneh? Bukankah tadi Ayu teramat lengket dengan Joe? Lalu mengapa Ayu menolak Joe dan menjadi lengket dengan Mas Arta? Aku belum bisa menerima kejanggalan ini, namun untuk mempertanyakannya saja aku tidak tahu. Ini terlalu aneh, Ayu yang tiba-tiba lengket, bahkan kini memeluk erat leher Mas Arta, sangat tidak bisa kuterima dengan nalar. Tangisan Ayu bahkan berangsur surut saat Arta mengecup puncuk kepala dan mengusap punggungnya. Hal yang bahkan sebelumnya tidak pernah terjadi, karena hubungan bapak-anak yang tidak pernah mesra dan harmonis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN