6. Terlena

1307 Kata
Mau dikata apes, tapi tidak. Mau dikata membahagiakan, tidak juga. Yang pasti, hari ini aku mendapat libur sehari dari Bu Julia. Memang seminggu sekali aku diberi libur, tidak mungkin juga bekerja setiap hari tanpa ada liburnya. Harusnya, ini adalah hari yang membahagiakan, karena aku bisa bercengkraman dengan Ayu. Aku sudah mendapat gaji, tentu bisa membelikan Ayu makanan enak. Tapi sepertinya gagal total, karena ada si benalu yang kini kembali ikut tinggal denganku dan Ayu. Rumah yang biasanya ramai karena ocehan Ayu, pagi ini semakin ramai saja atas senda gurau Bapak Anak diruang tamu. Ayu yang mulai menyukai mengenali warna dan suka menggambar, kini sedang cekikikan saat Mas Arta melontarkan lawakan yang sama sekali tidak lucu. Tanganku sibuk membolak balik tumis kacang dan tempe, namun telinga dan pikiranku terus terfokus pada ruang tamu. Ini terlalu aneh, bahkan malam tadi Ayu memilih tidur dengan Mas Arta, menolak tidur bersamaku. Bahkan Ayu menangis dengan teriakannya saat aku memaksanya tidur bersamku. Sempat Mas Arta merayu untuk tidur bertiga, tapi maaf saja, aku tidak sudi! Berakhirlah keduanya tidur dikamar sebelah yang memang kosong. Kumatikan kompor begitu tumisku sudah matang, sebenarnya tidak sudi memasakkan makanan untuk si benalu itu, tapi aku dan Ayu juga butuh makan, mau tak mau aku harus memasak kan? Awas saja kalau lelaki itu tak memiliki malu dan tetap ikut makan! Setidaknya aku harus menyiapkan dua piring saja, biar si benalu itu makan pakai daun atau apalah terserah. Baru aku mau berbalik dan mengajak Ayu sarapan, keduanya sudah terlebih dahulu masuk ke dalam dapur. Ayu bahkan membuntut dibelakang Mas Arta, membuatku iri karena kedekatan keduanya. "Pagi Dek," Ew! Menggelikan! Dasar buaya! Kalau ada maunya saja panggil Dek! Dulu kemana saja? "Nah, ayo sarapan Ayu, sini Ayu duduk samping Bapak, biar Bapak suapin ya?" Aku masih menonton keakraban asing itu dengan kesal. Sampai kapanpun itu akan terus asing dan mencurigakan, pasalnya Mas Arta tidak pernah menyuapi Ayu, tapi kenapa tiba-tiba berubah? Sepertinya aku harus segera menyembunyikan akta lahir Ayu, surat tanah dan lain sebagainya. Kalau di sinetron, biasanya buaya taubat adalah tanda akan ada petaka. Bisa saja si buaya sedang mengincar target secara diam-diam. Buktinya sapiku dulu pernah raib, lalu harta yang tersisa bisa saja ikut di eksekusi kan kalau keadaan mendukung? Dasar k*****t! Saat asik menatap Ayu dan Mas Arta, mataku terpaku pada leher lelaki itu. Disana terdapat kalung dengan liontin macan ditengah bulan sabit. Seumur-umur menjadi istri Mas Arta, aku tidak pernah melihat lelaki itu mengenakan aksesoris. Bahkan cincin pernikahanpun lenyap digadaikan, hanya sisa cincinku saja yang masih bertahan dijari manis. Cepat atau lambat, cincin ini akan kujual juga, untuk apa disimpan? Lebih baik tukar sembako. "Aku minta maaf dek, aku janji ndak akan mengulangi kesalahanku. Kita perbaiki semuanya baik-baik ya? Demi Ayu." Mas Arta mengatakan itu dengan santai, bahkan sempat-sempatnya ia tersenyum yang sialnya begitu manis. Sejak kapan senyumannya semanis ini? Sial! Apa ini efek lama tak berjumpa? Aku memilih diam, dan Mas Arta terus saja menyuapi Ayu dengan telaten. Sepertinya tampangku sering dibilang judes, bahkan muda-mudi yang doyan ngerumpi sering membicarakan seberapa sadisnya wajah dan tatapanku. Tapi sepertinya saat ini tak berlaku, karena Mas Arta sama sekali tak tersinggung dengan wajah kesalku. Antara dia bodoh, atau tak lagi punya muka dan kini sedang menjilat? Entahlah. "Ibuk sama Bapak bakal tinggal bareng lagi kan? Kita tidur bertiga lagi kan Buk?" Jantungku mendadak ser-seran, berdegup cepat dengan emosi yang tiba-tiba naik hingga kepala. Rasanya ingin berteriak kesal dan memaki anakku sendiri, tapi dia anakku, mana mungkin aku melakukannya? Aku kesal, benci! Mengapa semua begitu mudah untuk orang lain? Sedangkan untukku hanya sisa kepedihan dan kesusahan saja? Aku mati-matian menyembuhkan lupa perselingkuhan yang kualami, mencoba mengenakan topeng agar tidak dikasihani. Ayu paham itu, walau dia baru berusia 5, tapi cecaran belas kasihan dan cerita tetangga yang sering meracuninya, selalu diingat Ayu dengan baik. Bahkan setiap malam sebelum tidur, Ayu selalu mengatakan jika dia membenci Bapaknya karena sudah membuatku menangis. Tapi kenapa sekarang Ayu meminta kita kembali bersama? Ya Tuhan, sepertinya aku sudah gila. Bagaimana bisa aku merasa kesal pada anak berusia 5 tahun? Yang membaca dan menulis saja masih belum lancar. "Ayu makan yang banyak ya, Ibuk mau nyuci dulu." Ya, aku menghindar, lebih baik begitu. Aku biasa sendiri, jadi tak apa kali ini pun kembali sendiri memperjuangkan hakku. Hak membenci Mas Arta lahir batin. Hari ini, cucianku pun tetap banyak, daripada memikirkan si tai kucing, mending mencuci. Pakaianku tak akan wangi sendiri tanpa gilasan tanganku yang sudah kapalan ini. Iri rasanya pada wanita-wanita cantik nan modis diluaran sana, mulus dan wangi pula. Sedangkan aku? Belangsak! Gosok, gosok, gosok! Untung saja Mas Arta sadar diri dan mencuci pakaiannya sendiri. Walau aneh karena pagi-pagi terdapat jemuran menetes disamping rumah, tapi setidaknya itu lebih bagus. Daripada dia membuatku mengamuk karena meninggalkan pakaian kotornya. Sepertinya cucianku akan sangat bersih hari ini, karena aku menggosoknya dengan bertenaga dan dicampur amarah. Lagi-lagi aku ingat kenyataan jika aku diselingkuhi sudah sejak lama, bahkan saat aku mengandung Ayu. Bukankah itu artinya Mas Arta dan Sumi sudah berhubungan dari lama? Bisa saja dari sebelum kami menikah kan? Mana mungkin dalam waktu 1 tahun pernikahan Mas Arta sudah main serong? Nyatanya lelaki itu terus mengelu-elukanku ditahun pertama pernikahan kita. Katanya aku istri yang jago memuaskan suami diranjang dan diperut. Lalu alasan ia main serong apa? Tentu saja karena sudah lama menjalin kasih dengan Sumi kan? Aku mencoba berdiri, tiba-tiba kepalaku terasa berat. Badanku mendadak lemas saat baru saja aku menyelesaikan mencuci pakaian. Rasa sakit menjalari dadaku, perlahan dan seakan terasa menusuk, membuat badanku limbung. Mataku berkunang-kunang, mencoba menggeleng namun terasa kian berat, hingga perlahan aku ambruk kelantai. Nafasku terasa berat dan sesak disetiap tarikan nafas, terasa amat perih. Mataku menatap langit-langit, dan saat itu aku melihat bayangan hitam yang mendekat, dan setelahnya semua gelap. Sekujur badanku seperti ditimpa beban berat, untuk menggerakkan jemari saja terasa sulit, terasa seperti mati rasa. Perlahan aku membuka mata, saat aku benar-benar sadar dan terbangun dalam remang-remang malam, badanku sudah terbujur di atas ranjang. Untuk menggerakkan kaki dan tangan saja susah, mengapa aku seakan lumpuh? Rasa panik mulai menjalariku, mencoba berteriak, namun tidak ada suara yang keluar. Saat mencoba melirik kesegala arah, Mas Arta sedang duduk dipinggiran ranjang seraya mengusap kakiku dengan telaten. Tetapi, saat ini bahkan aku tidak bisa merasakan usapan itu di kakiku, apa aku benar-benar lumpuh? Mas Arta menoleh dengan senyuman yang menyeramkan, bibirnya terus bergumam dengan kata-kata yang tidak kupahami. Ia mendekat, menggeser duduknya dan kini mencondongkan badannya. Aku tak bisa melakukan apapun, badanku sama sekali tidak bisa digerakkan. Hingga Mas Arta meniup wajahku dan mataku otomatis terpejam rapat. Perlahan mataku terbuka, dihadapanku Mas Arta tersenyum dan mengusap keningku lembut. "Sudah malam Dek, kamu belum mandi. Mas lap badanmu dengan handuk dan air hangat ya?" Mas Arta adalah lelaki penyayang dan perhatian, kenapa kemarin aku membencinya? Bahkan Mas Arta tetap peduli saat aku sedang terbujur sakit seperti ini. Aku hanya tersenyum saat Mas Arta mulai mengelap lengan dan badanku yang sudah telanjang. Sesaat, hanya ada usapan handuk yang hangat saja, namun lama kelamaan tangan Mas Arta lah yang beralih mengusap kulit tubuhku. Sudah lama kami tidak berhubungan, dan aku merindukan sentuhan Mas Arta. "Mas kangen Dek," Aku hanya sanggup mengedipkan mata dengan cepat saat Mas Arta menyerang leherku. Mulutku bahkan tak mengeluarkan suara walau rasanya ingin memekik saat tangan Mas Arta membelaiku. Ini mendebarkan, sentuhan Mas Arta selalu membuatku lemah dan berpacu secara bersamaan. Aku tak tahu lagi, semua begitu cepat, saat Mas Arta naik keranjang dan kembali menjamahku, aku hanya sanggup megap-megap tanpa suara. Badanku tak bisa digerakkan, namun sensasi nikmat ini sama sekali tidak bisa dibohongi. "Semoga Ayu bisa punya adik," bisik Mas Arta sebelum meghujamkan miliknya dengan kuat. Lelaki itu tetap gagah walau lama tak merasakannya, Mas Arta tetap menawan walau telah melukaiku. Aku kalah, hancur dan melebur bahagia. Entah bagaimana, aku terlena dengan mudah. Pada pria yang beberapa jam lalu bahkan masih sanhat aku benci.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN