7. Maling Teriak Maling

1402 Kata
Suara ketukan tak sabaran membangunkan tidur lelapku dengan paksa, begitu membuka mata, kembali aku memejam karena sorot cahaya yang begitu menusuk. "Ros! Kamu di rumah? Ayu!" Suara ketukan yang lebih seperti gedoran itu kembali terdengar dengan cepat, bersamaan dengan suara yang tak asing lagi ditelinga. Sepertinya aku sudah sering mendengar suara ini, tapi siapa? "Ros! Ini aku Joe! Buka pintunya atau aku dobrak ya!" Lelaki m***m itu! Sepertinya ia kembali memiliki nama baru. Selain m***m, ia juga tak sabaran! Mencoba menggerakkan badan, namun terasa berat. Aku bahkan mengerahkan seluruh tenagaku, namun sama sekali tak bergerak. Saat mataku menatap turun, betapa terkejutnya aku saat menyaksikan penampilanku yang sedang tergeletak diranjang. Aku tak mengenakan sehelai benangpun, bahkan seujung selimut pun tidak menutupi kulit tubuhku. Ya Tuhan, ada apa denganku?! Seingatku, semalam badanku kaku dan tak bisa digerakkan, bahkan suaraku pun hilang, lalu. Braak! Terdengar suara dobrakan kencang, yang dapat kusimpulkan itu pasti perbuatan Joe, siapa lagi? "Ros! Kamar kamu yang mana?" Sinting! Bisa-bisanya dia langsung menanyakan kamar setelah mendobrak rumah orang? Menyadari sosok Joe yang sudah mendobrak pintu, dan kini sedang mencari kamarku, membuatku membelalak panik. Kucoba sekali lagi menggerakkan tanganku untuk menarik selimut, namun gagal. Apakah saat ini aku benar-benar lumpuh? Hanya karena jatuh tepeleset di kamar mandi? Apakah kasusku ini akan menjadi viral? Terjatuh di kamar mandi, seorang wanita mengalami kelumpuhan? Aku bahkan tak membenturkan kepalaku, atau tulang ekor, lalu mengapa penyakitku jadi seserius ini? "Berhenti!!" Teriakku spontan begitu mendengar suara pintu terbuka, "Jangan masuk!" Suaraku kembali! Tapi, bukankah sudah pasti jika teriakanku hanya sia-sia belaka? Nyatanya si m***m itu sudah masuk sepenuhnya ke dalam kamar. Matanya melotot lebar, mulutnya menganga macam orang i***t. Dia mendekat tanpa mengedip, dan kini berdiri di samping ranjang. Rasanya aku ingin menangis sekencang-kencangnya, namun karena malu, aku hanya menutup mata rapat-rapat dan menggigit bibir bawahku erat-erat. Ini memalukan! "Ya Tuhan sayang, kamu sudah siap?" "Berengsek!" Umpatku spontan. Saat membuka mata, Joe sudah menutup mulutnya dengan tatapan mata menggoda, membuatku kian malu hingga wajahku terasa begitu panas. Namun mataku membelalak begitu melihat Joe mulai melepas kaus hitamnya. "Mas Joe mau ngapain?!" Bentakku, menghentikan sejenak aksi Joe hendak melepas celana levisnya. Lelaki itu mengedip dengan polos, namun kemudian ekspresinya berubah sepersekian detik menjadi begitu garang. Dia bahkan menyeringai, semakin mendekatkan diri dan mulai menjelajahkan matanya menatap badanku. Radar bahaya otomatis berdering kencang, aku menjadi khawatir dengan tatapan macan Joe yang seperti amat kelaparan. Sepertinya emosiku hilang, berubah menjadi kesakitan dan kelemahan yang tak ada obatnya. "Mas tolong, aku sedang terkena musibah, badanku ndak bisa digerakkan, sepertinya aku lumpuh Mas ..." Kukira Joe adalah lelaki m***m, berengsek, tak sabaran dan tak punya otak, tapi nyatanya semua hanya pikiran pendekku saja. Joe adalah seorang pengacara, tentu saja dia memiliki otak yang cerdas kan? Beda cerita kalau gelarnya didapat dari warisan. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Di depan mataku, Joe tampak terkejut, dia bahkan kembali berdiri dengan mata membelalak. "Kamu serius Ros?!" Awalnya dia terlihat panik, namun kemudian memicing seakan tak percaya. Tetapi dia meraih selimut dan diselimutkan menutupi badan telanjangku. Ingatan samar mendadak hinggap di pikiranku, aku ingat apa yang terjadi semalam. Mas Arta k*****t! "Aku kira kamu emang mau nyambut aku, sampai perkututku sudah matuk-matuk ini, ternyata ... tapi kalau kamu nggak bisa gerakin badan, kenapa kamu telanjang? Jangan bilang!" Serunya begitu mengucapkan kalimat terakhir. "Nggak, nggak, pintu dikunci kok, artinya kamu nggak kerampokan atau diperkosa, lalu ... tai kucing sialan!" Joe menggeram dengan kesal, dia bahkan mengepalkan tangannya seakan siap meninju. Tetapi ia berangsur tenang dengan sendirinya, dan kini duduk dipinggiran ranjang. Perubahan ekspresinya yang begitu cepat sangat-sangat mengejutkan. Aku bahkan belum sempat bereaksi atau menjawab segala ucapannya, namun kini ekspresinya sudah berubah lagi. Joe adalah lelaki yang ekspresif. "Wajar ya? Kan kalian belum cerai, bodoh lo Joe!" Gumamnya dengan suara hampir tak terdengar. Lagi-lagi lelaki itu berubah dengan cepat, kini dia berdiri dan menatapku dengan tatapan ... aneh! Merengut dengan wajah datarnya. "Mana pakaian bersihmu? Kau harus berpakaian sebelum kupanggilkan dokter." Aku belum sempat menjawab, mulutku baru terbuka hendak berucap, namun Joe sudah terlebih dahulu berjalan menuju almari. Sehelai daster diambilnya, bahkan dengan lancangnya dia mengangkat beberapa dalaman dan diterawangnya. Dasar lelaki m***m tapi baik hati!!!! Masa bodoh, aku mengumpat sekaligus memuji! Nyatanya Joe memang baik hati, tetapi m***m! "Mas kenapa diterawang sih?! Itu bra, bukan uang lembaran!" Joe sempat menipiskan kedua bibirnya sebelum menurunkan bra peach yang ada ditangannya. Melangkah mendekat lalu duduk dipinggiran ranjang. Wajahnya kembali berubah m***m bin c***l, matanya melengkung seperti bulan sabit, dan senyumannya sangat lebar. Sepertinya bibirnya tersenyum mentok hingga ujung dan tak bisa direnggangkan lagi. "Kalau kepegang dikit nggak sengaja ya, aku kan nggak pernah pakai bra, jadi nggak bisa pakaikan, hehe." Ya Tuhan, kenapa dari jutaan manusia baik, harus iblis lah yang menolongku? Aku hanya sanggup memejamkan mata dengan rapat dan mengatupkan bibirku hingga menipis. Ingin protes tapi butuh pertolongan, ingin mengumpat tapi lelaki m***m ini adalah teman dari anak majikanku. Sudahlah, pasrah saja, makin cepat makin baik, anggap saja Joe adalah sapi yang tidak punya nafsu dengan manusia. "Mas Joe!" "Nggak sengaja kepegang loh ini!" Nggak sengaja dengkulmu! Sejak kapan meremas jadi tidak sengaja? Jelas-jelas itu diniatkan! Sekali m***m tetap saja m***m! "Mas Joe! Jangan dipegang!" Rengekku yang tak kuasa lagi menahan kekesalan. Hingga gelak tawa dan sehelai daster yang melolos masuk menutup badanku, menjadi sesi akhir dari rasa tersiksaku. "Celana dalamnya skip aja ya, takut khilaf." Edan, sinting, k*****t! Tapi baik hati juga, hiks. *** "Kalau dari pemeriksaan yang saya lakukan, ndak ada gejala serius apapun mbak, mas. Tapi ini aneh, kenapa syaraf mbak Ros ndak bekerja ya? Ototnya juga lemas." Kalau dokter mempertanyakan padaku, lalu aku bisa menjawab apa? Yang aku tahu hanya harga sembako terkini dan tata cara membersihkan rumah dengan kilat saja. Kalau masalah penyakit, mana aku tahu? Begitupun Joe, lelaki sialan itu hanya berdiri diam dengan terus memperhatikan dengan seksama, tak menjawab ucapan yang lebih ke pertanyaan itu. Rasanya aku ingin mengamuk, merasa kesal atas penyakit aneh yang begitu menyiksa, ditambah kekesalan pada iblis berkedok malaikat dihadapanku ini. Sedari awal Joe memanglah c***l bin m***m, bahkan dengan pintarnya dia membodohiku. Berdalih memakaikan baju sebelum diperiksa dokter, lalu grepe-grepe dan keasikan. Namun akhirnya, dokter yang datang adalah seorang wanita! Lalu untuk apa dia berpakaian hingga ke bra-branya? Sesama wanita tak akan tegang seperti keadaan selatan Joe saat ini! "Saya sarankan lakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit mbak, mas. Akan saya buatkan surat rujukan untuk mengetahui lebih tepatnya, bagaimana?" "Baik dok, kalau begitu nanti akan saya bawa ke rumah sakit." "Baik, kalau begitu saya pamit permisi mas, mbak," Bidan itu berpamitan pergi, bahkan Joe keluar dari kamar untuk mengantarnya. Tak lama setelahnya dia kembali, Joe mendekat, bahkan kini merundukkan badannya. "Mau apa mas?" "Mau gendong kamu, duh ... walau montok tapi ternyata kamu seringan bulu Ros," Joe dan mulutnya, seperti aspal yang disiram oli! Tak tahu mau bereaksi apa lagi, aku memutuskan memejamkan mata saja di dalam gendongan Joe. Pertama, aku tak mau bertatap mata dengan si c***l itu. Kedua, aku lelah dengan segala omong kosong lelaki itu. Ketiga, aku merasa stres memikirkan penyakit apa yang sedang aku derita. Mengapa hidupku rumit sekali sih? "Ibuk!" Mataku membelalak lebar begitu mendengar teriakan Ayu, dari kejauhan terlihat Mas Arta mengendarai motorku dengan Ayu yang membonceng di depan. Aku mendadak panik, terlebih karena saat ini aku berada di dalam gendongan lelaki lain. Rasanya seperti di pergoki sedang selingkuh. "Ibuk kok sama om itu?" Aku mengernyit heran, bukannya kemarin-kemarin Ayu memanggil Joe dengan sebutan Papa? Lalu kenapa kini berubah jadi om lagi? "Oh, bagus. Saat suami dan anak sedang tidak di rumah, kamu bawa lelaki lain masuk rumah Ros?" Mas Arta mendekat dengan Ayu yang berada di dalam gendongannya. "Jadi kamu selingkuh hah?!" Apa? Selingkuh? Maling teriak maling! "Dasar istri ndak tahu diri! Awas kamu, kupastikan hak asuh Ayu akan jatuh kepadaku! Untuk apa Ayu diasuh w************n sepertimu?!" Tolong, siapa saya yang butuh lambe untuk digunakan menjadi keset, silakan diambil saja lambe tak berguna ini! Dengan mudahnya lelaki tak berotak itu memutar balikkan fakta! Apa dia lupa, siapa yang berselingkuh sejak 4 tahun lalu? Apa dia lupa, jika sapiku raib hanya untuk membayar denda dari perzinahan yang dilakukannya? *Lambe(bibir) "Hei tai kucing, diam lo! Bau tau! Mulut apa a**s sih, kok busuk sekali!" Joe mencibir layaknya wanita yang pandai berjulid, dari ucapannya yang begitu menohok, membuat aku, Mas Arta dan Ayu diam mematung. Mulutnya memang seperti aspal disiram oli, licin sekali, tetapi ... kadang berguna juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN