8. Guna-guna

1734 Kata
Hari kian berlalu, berkat bantuan Joe yang mendatangkan orang pintar—bukan guru atau profesor—keadaanku semakin membaik. Nyai Sumarsih, yang hampir tiap hari datang kerumah hanya untuk berkomat-kamit dan memercikkan air dengan dedaunan serta bunga tujuh rupa. Aku tak paham apa tujuannya, yang pasti dia mengatakan jika aku dan Ayu sedang diikuti oleh makhluk yang berniat buruk. Lebih ringkasnya, aku dan Ayu terkena guna-guna. Yang lebih menyeramkan, kami akan berakhir bertemu malaikat pencabut nyawa kalau saja terus dibiarkan tanpa pertolongan. Ini terlalu tidak masuk akal, aku sama sekali tidak mempercayai hal gaib diluar nalar ini, namun malah mengalaminya langsung. Tidak hanya dengan bantuan orang pintar, aku sempat mendapat perawatan di rumah sakit sebelumnya, bahkan melalukan CT Scan. Namun sudah dapat ditebak, tak ada penyakit berbahaya apapun, yang ada hanya penyakit darah rendah yang sudah sejak lama sering aku alami. "Rumah ini sudah menjadi sarang, walau diberi penangkal pun mereka akan terus kemari," Mereka? Mereka siapa? Perasaan tidak ada yang datang terus-terusan kerumah ini, malahan Nyai Sumarsih lah yang sering datang, bersama Joe tentunya. "Makhluk halus, jin, setan dan sejenisnya," tambah Nyai Sumarsih karena menangkap raut penuh tanyaku. Oke fix, kalau Joe memang setan, lelaki m***m yang sedikit kurang waras, tapi kalau nyai Sumarsih? Aku melirik kearah pekarangan rumah, disana Ayu dan Joe sedang asik bermain petak umpet. Ya, Ayu sudah kembali sadar dari ketidaksadaran yang sebelumnya memang benar-benar aneh. Ternyata prasangkaku bukan hanya kecurigaan semata, nyatanya Mas Arta— ah! Untuk apa aku memanggilnya Mas? Si setan Arta menggunakan guna-guna untuk membuat Ayu menempel padanya. Itulah yang Nyai Sumarsih katakan. Mengingat setan Arta, siang itu kami berdebat hebat, bahkan terjadi rebutan antara setan dengan Joe. Aku meminta bantuan Joe untuk membawa Ayu, berakhirlah mereka melakukan adu jotos, hingga Ayu menangis histeris karena dipisahkan dengan Bapak sintingnya. Namun, yang paling mengejutkan, Arta yang bonyok dipukuli, dan berteriak histeris akan melaporkan ke pihak berwajib, seketika pindah haluan. Lelaki itu diam membisu dan tersenyum cerah setelah disawer dengan beberapa lembar uang berwarna merah. Dasar lelaki mata duitan! Awalnya aku merasa khawatir, takut jika Joe akan dipidanakan, walau dia adalah seorang pengacara. Tetapi ternyata mantan suamiku adalah sampah! Untuk apa aky khawatir? Gilanya lagi, saat menanyakan pada Joe tujuan dari saweran itu, sang pengacara tampan itu berkata dengan enteng. "Aku emang bisa urus dengan gampang, kalau-kalau dia mempidanakan pemukulan yang aku lakukan. Tapi aku nggak suka aroma tai kucing, udahlah aku comot itu tai pakai duit, kelar kan?" Aku tak paham harus dengan bagaimana untuk mengambarkan ekspresi Joe saat itu. Yang pasti wajahnya sangat menyebalkan, terkesan angkuh, meremehkan, songong, namun membuatku ingin bersorak bahagia. Selama hidupku yang sudah kulalui 23 tahun lamanya, baru kali ini aku merasakan di dukung. Sedangkan yang mendukungku adalah lelaki menyebalkan yang sering kujuluki lelaki m***m. "Nyai sudah menyiapkan ritual pengusiran, kalau berkenan bisa bertemu sebulan lagi." "Sebulan?" Ulangku. Jelas aku kaget, mengapa selama itu? Walau keadaanku kian membaik, namun selama beberapa hari ini aku masih susah tidur. Tiap memejamkan mata dalam waktu beberapa saat, sering kali aku merasakan cekikan atau hantaman yang menyesakkan d**a. Seakan aku hendak dihabisi, bahkan Ayu sering bermimpi buruk selepas sadar dari guna-guna Arta. Ini begitu menyiksa, bagaimana kami bisa kuat menjalai hidup untuk sebulan ke depan? "Jadwal nyai padat mbak, banyak yang lahiran, dan nyai harus memijat bayi sama ibunya, jadi ndak bisa cepat. Nyai juga sudah dapat bayaran dimuka, jadi ndak bisa membatalkan pasien." Ah ... jadi orang pintar macam Nyai Sumarsih ini masih butuh dan harus mencari uang? Kukira mereka tidak butuh uang, hidup hanya untuk memperdalam ilmu batin dan raga saja. Nyatanya, mereka memang masihlah manusia yang butuh pangan maupun materi. Aku hanya mengangguk-angguk saja, mataku mengikuti Nyai Sumarsih masuk semakin dalam, meninggalkanku yang duduk di ruang tamu. Tak lama Nyai Sumarsih keluar, dengan membawa baju Ayu yang kini diletakkan di atas meja. Awalnya aku tak paham dan bertanya-tanya, namun saat baju Ayu dibuka, terlihatlah sebuah buntalan putih menyerupai boneka yang masing-masing kaki, tangan dan kepalanya diikat dengan rambut, ya rambut, terlihat sangat jelas. Tapi itu apa? "Dia simpan ini di lemarimu, guna-guna yang dia pakai bermacam-macam, ini yang paling awet. Kalau aku ndak ke sini ya kamu sama anakmu tetap bakal patuh sama suamimu," "Mantan." Koreksiku dengan jutek. "Iya mantan, maaf mbak, lupa." Nyai Sumarsih meringis, menampilkan giginya yang semerah darah. Bukan karena dia mengonsumsinya, namun karena dia doyan mengunyah kinang. Melihatnya menyengir seperti itu, aku mengurungkan kemarahanku, sudahlah ... wajar jika orang berumur suka lupa. "Kalau begitu nyai permisi ya mbak, sudah mendung, jemuran belum diangkat," "Iya nyai, terima kasih," aku menyalami nyai seraya mengantarnya keluar rumah. Rasanya lucu, lagi-lagi aku mempertanyakan, apakah orang pintar sepertinya juga butuh menjemur pakaian? Apakah tidak bisa mengeringkannya dengan jampi-jampi? "Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" Senyuman geliku hilang, tanpa sadar bahkan aku tersenyum macam orang kurang waras. Kini senyumanku bergantikan dengan tatapan sinis, tentu saja aku masih menyimpan dendam dengan Joe! Setelah insiden telanjang, dan memakaikan pakaian waktu itu, serta tangannya yang cari-cari kesempatan, aku masih belum bisa memaafkannya. Walau ia membantuku, walau ia baik dan peduli pada Ayu, tetap saja aku merasa kesal sekaligus malu! "Ndak apa mas," Ayu dan Joe tertawa bersama, bahkan kini Ayu lari ke dalam kamar, mengambil tas dan buku gambarnya. Melihat Ayu yang bahagia dan dengan semringah meminta Joe mengambar untuknya, membuat hatiku terasa hangat. Kedekatan Ayu dengan Bapaknya sendiri tempo hari terasa menyakitkan untukku, namun saat bersama Joe, mengapa aku ikut tersenyum bahagia? Joe dengan sabar dan telaten menjaga Ayu, layaknya seorang yang memang menyukai anak-anak. Jika dipikir, selama ini Joe sudah banyak membantuku, saat aku kesusahan ia selalu ada. Bahkan dengan baiknya Joe membantu meminta izin pada bu Julia, karena aku tak bisa bekerja. "Oh iya Mas, mau minum apa?" Joe tampak berfikir, "air putih saja." Setelahnya aku masuk untuk mengambilkan air putih. Ia sudah banyak membantu, karenanya aku harus sedikit lebih baik padanya. "Pa, semalam Ayu mimpi jahat lagi," cicit Ayu tiba-tiba, membuat langkahku terhenti dan bersembunyi dibalik tembok untuk menguping pembicaraan Ayu dengan Joe. "Mimpi jahat?" "Iya, Ayu mimpi dipukuli sama makhluk item-item. Terus Ayu teriak, tapi Ibuk ndak nolongin Ayu, huh jahat! Badan Ayu sakit pas bangun tidur, tapi ndak berani cerita ke Ibuk, soalnya Ibuk nangis pas bangun tidur. Ayu ndak mau bikin Ibuk tambah sedih." Cerita dari Ayu membuat hatiku seperti teriris, aku memang hidup dalam kesengsaraan. Kedua orang tuaku termasuk kuno, sama sekali tak pernah membiarkanku hidup dengan bebas. Aku adalah wanita yang tidak diizinkan hidup dengan derajat yang tinggi. Tapi aku tak ingin hal itu terjadi pada Ayu, aku ingin Ayu hidup dengan lebih baik. Bebas, memiliki apa yang ia inginkan, mengejar cita-citanya, bahkan selalu bahagia. Tapi apa? Karena permasalahan kedua orang tuanya, gadis berusia 5 tahun itu sudah harus hidup dalam tekanan, ini terasa sesak, membuatku tak bisa leluasa bernafas. "Ayu sering mimpi begitu?" Dalam tangisan dengan meredam suara isakan, aku melongok mengintip Ayu. Ayu mengangguk membenarkan, dia menjinjing roknya dan menunjukkan pahanya yang membiru. "Ayu selalu mandi sendiri Pa, Ayu ndak mau Ibu lihat kaki Ayu yang sakit." Hancur sudah bendunganku, aku berlari menuju kamar dan menenggelamkan diri pada bantal. Menangis dengan terus menahan isakan. Hatiku hancur, akan nasib yang seharusnya tidak dialami oleh putriku. Bagaimana bisa dia ditakdirkan memiliki Bapak yang b******n? Ayu adalah anak yang baik, pengertian dan penurut, dia tak pantas mendapatkan siksaan seperti ini. Dalam perasaan sakit hati, hancur dan terluka, ponsel jadulku berdering, sebuah pesan dari kakak iparku——yang belakangan sering bertukar pesan denganku——masuk dengan porsi tulisan yang panjang. Bahkan terdapat tulisan *Sebagian Teks Hilang* maklum, ponselku masih sangat-sangat jadul, berbeda dengan ponsel layar lebar yang bisa disentuh. Membaca pesan tambahan yang sudah masuk penuh, aku membelalak, tanpa sadar bahkan aku terduduk, mendadak jantungku berdebar-debar, ada rasa kesal dan tak rela. Segera kuusap air mataku, lalu berlari keluar untuk menemui Joe. "Mas Joe? Aku boleh pinjam rekening Mas buat nitip uang transferan?" Joe tampak memicing menatapku, namun kemudian dia mengangguk dengan tangan mengusap rambut Ayu yang sedang fokus mewarnai. Lelaki itu sangat perhatian pada Ayu, membuat hatiku kembali sakit. Mengapa Arta tak pernah sesayang ini pada anaknya? Bukannya menyayangi, dia malah menyakitiku dan Ayu dengan penderitaan tak kasat mata ini. "Maksudnya ada yang mau transfer kamu uang, terus kamu nitip pakai rekening aku?" Aku mengangguk membenarkan, tatapanku masih terarah pada Joe yang merogoh kantung celananya untuk mengeluarkan ponselnya. "Boleh, ini nomornya." Ucapnya seraya menyodorkan ponsel kearahku, dengan sigap kusalin nomor rekening miliknya. "Memang mau ditransfer berapa? Sepertinya kamu butuh banget ya? Kalau iya, biar aku kasih sekarang, daripada ke ATM dulu," "800 ribu mas," "Oh, aku ada kalau segitu," "Syukurlah, terima kasih Mas," potongku lalu kembali masuk ke dalam kamar. Segera kukemas pakaianku dan Ayu untuk dimasukkan kedalam tas jinjing. Tak hanya pakaian, bahkan uang celengan kaleng roti tak seberapa milikku pun aku bongkar dan kubawa serta. Setelah mengemas pakaian dan perlengkapan Ayu yang wajib dibawa, aku keluar dengan dua tas jinjing besar. Tatapan Joe seketika menajam, ia mangernyit penuh tanya, namun Ayu lah yang pertama aku datangi. "Nak, sudah ya mewarnainya, ayo ikut Ibuk," "Kemana Buk? Kok bawa tas?" "Pewarna sama buku gambarnya dibawa juga ya, ayok Ayu anak baik," "Ros, ada apa sih? Kok kamu bawa tas besar segala?" Potong Joe menahan lenganku yang sibuk memasukkan peralatan warna Ayu. "Mas tolong lepaskan," lirihku seraya menghempas lengan Joe. "Sama Papa juga kan Buk?" Mendengar Ayu memanggil Joe dengan sebutan Papa, rasanya aku semakin malu saja. Saat kulirik lelaki itu, ia tampak bergeming, hanya menatapku dengan ekspresi kesal. Apa karena aku menghempas tangannya tadi? Kenapa jadi lelaki kok baperan sekali sih? Begitu saja ngambek! "Aku mau ke Sulawesi." Tegasku, membuat Joe yang awalnya diam, kini mencengkram lenganku kuat-kuat. "Ngapain?" "Nyusul suamiku." "Nyusul suamimu? Kalian mau rujuk?! Sinting!" Iya aku sinting, hanya karena sebuah pesan dari kakak iparku, yang mengatakan jika Arta sekarang sudah berada di Sulawesi, dan pesan kompor yang membakar lainnya, membuatku nekat akan menyusul kesana. Aku hidup dengan rasa sakit karena guna-gunanya! Tidak bisa tidur dengan nyenyak, begitupun Ayu, lalu bagaimana ia bisa hidup senang di Sulawesi bersama selingkuhannya? Tentu aku tak rela, akan kubalaskan dendamku dulu, setelahnya persetan! Dia mau jungkir balik, salto, kayang, aku tak peduli! Demi Ayu, aku harus membalas dendam! Dengan mudah ia memutar balikkan fakta dan mengatakan jika aku yang berselingkuh. Lalu ia kabur dan akan menikah di sana tanpa ada penjelasan apapun? Arta bahkan sibuk mengurus tuntutan hak asuh Ayu, begitulah kata Kakak iparku. Lalu mana mungkin aku bisa diam saja?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN