Ratna masih berdiri di sudut ruangan ketika musik kembali diputar, tetapi suasana pesta tidak lagi sama seperti sebelumnya. Tawa para tamu terdengar lebih kaku, percakapan terasa dipaksakan. Matanya tidak pernah lepas dari Arman dan Nindya yang masih berdiri berdekatan di tengah ruangan. “Kenapa kamu melihatnya seperti itu, Ratna?” tanya ibu Arman yang berdiri di sampingnya. Ratna tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada pasangan itu. “Menurut Tante… Arman berubah, gak?” katanya akhirnya pelan. Ibu Arman mengerutkan kening, mengikuti arah pandangan Ratna. “Berubah bagaimana?” “Dia tidak pernah bersikap seperti itu pada Nindya sebelumnya,” jawab Ratna dengan nada hati-hati. Ibu Arman hanya menghela napas. “Kamu terlalu banyak berpikir.” Jawabnya tidak ingin memperbesar

