“Kenapa kamu mengirim pesan seperti itu semalam?” Suara Ratna terdengar tajam di ujung telepon pagi itu. Nindya yang sedang duduk di meja makan hanya mengaduk teh hangatnya dengan tenang sebelum menjawab. “Aku hanya menjawab pesanmu,” katanya ringan. Ratna terdiam beberapa detik, seolah mencoba membaca maksud di balik nada santai itu. “Aku tidak sedang memperhatikanmu,” kata Ratna akhirnya. Nindya tersenyum tipis meskipun Ratna tidak bisa melihatnya. “Benarkah?” balasnya singkat. Beberapa detik hening berlalu di antara mereka. Ratna akhirnya memutuskan mengakhiri percakapan lebih dulu. “Kamu terlalu banyak berimajinasi, Nindya.” “Kalau itu tidak benar,” jawab Nindya tenang, “harusnya kamu tidak perlu terdengar setegang ini.” Telepon terputus. Nindya meletakkan ponselnya di meja.

