Mobil Arman masih terparkir di seberang jalan. Mesin sudah mati sejak beberapa menit lalu, tapi ia belum juga bergerak. Tatapannya masih tertuju pada arah kafe, meski Nindya dan Bima sudah tidak terlihat lagi. Ia bersandar di kursi, menghembuskan napas panjang yang terasa berat. “Apa yang sebenarnya aku rasakan…” gumamnya pelan. “Kenapa ini terasa berbeda?” Tangannya masih menggenggam setir dengan erat, seolah mencoba menahan sesuatu yang perlahan muncul dari dalam dirinya. Sesuatu yang tidak ia kenali sebelumnya, atau mungkin… sesuatu yang selama ini ia abaikan. “Aku gak pernah peduli sebelumnya,” lanjutnya pelan. “Lalu kenapa sekarang aku jadi seperti ini?” Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikirannya yang semakin kacau. Di sisi lain, Nindya sudah kembali ke mobilny

