Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan. Cahaya matahari yang masuk dari celah tirai hanya menerangi ruangan, tanpa mampu mengusir beban yang menggantung di dalam rumah itu. Nindya sudah duduk di ruang kerja sejak subuh, menatap layar laptop dengan fokus yang semakin tajam. Ia tidak lagi sekedar membaca data. Ia mulai menyusun pola, menghubungkan alur, dan menandai titik-titik lemah dari setiap nama yang terlibat. Semua terasa lebih jelas sekarang, seolah kabut yang selama ini menutup pandangannya mulai tersibak perlahan. “Aku gak punya banyak waktu,” bisiknya pelan. “Mereka pasti juga sudah mulai bergerak.” Ia menggulir layar, berhenti di satu nama, lalu mengetuk meja dengan pelan. “Kalau aku jatuhkan yang ini dulu… yang lain akan ikut goyah.” Di luar ruang kerja, Arman berd

