Dua hari kemudian, Nindya sengaja mengambil izin cuti dari sekolah dasar tempatnya mengajar. Pagi itu ia tidak mengenakan pakaian dinas guru, melainkan blus sederhana dan rok panjang yang membuatnya tampak seperti tamu biasa. Tujuannya jelas… SMA Harapan Bangsa, tempat Arman, Dewi, dan Ratna pernah menorehkan masa muda mereka. “Aku harus melihat sendiri tempat semuanya bermula,” gumam Nindya pelan saat berdiri di depan gerbang sekolah yang megah namun terasa asing baginya. Halaman sekolah itu luas, dipenuhi pohon trembesi tua yang menaungi bangunan bercat krem. Suasana masih sepi karena jam pelajaran sedang berlangsung. Nindya melangkah ke ruang Tata Usaha dengan jantung berdebar, mencoba menyusun kalimat yang masuk akal untuk menggali informasi. “Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya ba

