Restoran Nusa Rasa masih ramai ketika percakapan Nindya dan Bima berlanjut lebih santai. Gelas es teh di tangan Nindya sudah setengah kosong, sementara Bima tampak menikmati makanannya tanpa tergesa. “Kamu kelihatan lebih bahagia hari ini,” ujar Bima sambil menatapnya penuh perhatian. “Seperti ada beban yang mulai kamu lepaskan.” Nindya tersenyum samar. “Atau mungkin aku sedang belajar mengatasinya dengan cara yang berbeda.” Bima hendak menanggapi ketika ponselnya bergetar di atas meja. Nama Arman tertera jelas di layar. Bima dan Nindya saling berpandangan singkat. “Angkat aja,” kata Nindya tenang. Bima mengangguk dan menerima panggilan itu. “Halo, Man.” Di ujung sana, suara Arman terdengar datar. “Kamu di mana?” “Lagi makan di luar,” jawab Bima santai. Arman terdiam sejenak, lalu

