Pagi itu berakhir dengan keheningan yang menggantung. Setelah Arman berangkat kerja, Nindya tetap duduk di meja makan beberapa menit lebih lama, menatap cangkir tehnya yang sudah dingin. “Ia mulai panik,” gumamnya pelan. “Dan orang yang panik selalu membuat kesalahan.” Langkah Arman yang biasanya acuh kini berubah menjadi pengawasan terselubung. Siang itu, ia benar-benar datang ke sekolah dasar tempat Nindya mengajar untuk menjemputnya. Para guru lain sempat melirik heran ketika melihat mobil Arman terparkir tepat di depan gerbang. “Kok tumben kamu dijemput?” tanya Indri setengah berbisik. Nindya tersenyum tipis. “Katanya demi keamanan.” Di dalam mobil, Arman berusaha bersikap biasa. Namun tatapannya beberapa kali mengarah ke Nindya, seolah memastikan ia benar-benar duduk di sana. “K

