Kakak Ibu Nara akhirnya masuk ke dalam ruangan rawat inap dengan langkah tergesa namun tertahan. Matanya langsung tertuju pada tubuh adiknya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Selang infus terpasang, monitor berdetak pelan, dan wajah itu pucat, jauh dari kata sehat. Ia mendekat perlahan, lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya menggenggam tangan Ibu Nara yang terasa dingin. Dadanya sesak saat mendengar gumaman lirih itu kembali terdengar. “Nara… Nara…” Suara itu begitu lemah, nyaris tak terdengar, tapi jelas menyebut satu nama yang sama berulang kali. Kakak Ibu Nara mengusap wajahnya sendiri, berusaha menahan air mata. “Kenapa sih kamu… Bahkan dalam keadaan begini pun masih mikirin anakmu,” bisiknya lirih, penuh rasa bersalah. Perawat yang berdiri di samping menjelaskan

