Malam terasa berjalan lambat bagi Nara. Ia berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara senyum kecil tak henti terlukis di wajahnya. Matanya terpejam, tapi pikirannya melayang jauh ke kampung halaman, ke rumah sederhana, dan terutama ke wajah Ibunya yang sudah lama tak ia peluk. “Bu… Besok Nara pulang,” bisiknya lirih, seakan Ibunya bisa mendengar. Setiap kali mencoba memejamkan mata, rasa bahagia itu justru semakin menguat. Jantungnya berdebar, perutnya terasa ringan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nara merasa punya harapan yang nyata. Hingga tanpa terasa, suara ayam samar terdengar dari kejauhan. Pagi telah tiba, dan Nara bahkan belum benar-benar tertidur. Ia segera bangkit, membersihkan diri, lalu mengenakan pakaian sederhana yang sudah ia

