Seperti yang dikatakan bang Rafly kami pun berkeliling dari babyshop satu dan lainnya. Aku dan bang Rafly sangat profesional, kami saling melengkapi dalam memasarkan produk ini. Alhamdulillah reaksi calon reseller sangat baik, mereka antusias itu artinya proyek ini insyaallah akan terus berlanjut. Kira-kira pukul dua siang kami menyudahi perjalanan dinas ini hehe. untuk mencairkan suasana bang Rafly memutar lagu sambil bersenandung, eh kalian jangan mikir yang iya-iya ya. aku sama bang Rafly murni bos dan karyawan gak ada unsur pelakor dicerita ini. oke back to suasana menuju toko, bang Rafly memecah keheningan dengan mengajak ku ngobrol.
"sa, gimana kamu sama Aska?" tanya bang Rafly tanpa menoleh.
"ga gimana-gimana bang" jawabku tidak tertarik . yang mana saat obrolan itu dimulai kami sedang melewati rumahnya Aska tentu saja bang Rafly tidak tahu, karena aku tidak cerita rumah Aska disekitar jalan ini. mataku mengawasi gerbang rumahnya barangkali Aska sedang diluar rumah.
sebenarnya hati ku sudah mati rasa dengan Aska, 1000% tidak ada peduli ku lagi. Tapi aku masih bingung bagaimana cara mengakhiri hubungan ini tanpa melukai Aska. aku takut ketika aku membuat orang lain sakit hati, mendapatkan doa buruk dari orang tersebut. itulah yang menjadi pertimbangan kenapa aku masih terus bertahan. bukan karena masih cinta, karena diumur ku yang sudah 23 tahun ini aku sudah gak mau ngebucin lagi, fokus ku adalah lulus kuliah dan bekerja.
"sa Abang serius loh, udah putuskan sama Aska?" tanya bang Rafly kali ini sambil menatap ku
"hmmm belum bang, tapi aku sama Aska sedang break. sebenarnya aku udah lama banget gak mau lanjutkan hubungan ini bang" curhat ku pada bang Rafly
"kalau gitu segera putuskan sa, jangan kamu gantung kalau pada akhirnya kamu pun gak menginginkan dia" jawab Rafly
"iya sih bang, tapi aku takut dia bertindak bodoh bang" kataku sambil memijit kening yang entah mengapa tiba-tiba pusing..
"pokoknya Abang mau kamu bersama orang yang terbaik sa, yang bisa membimbing mu dan membantu menaikan derajat keluarga mu, kamu udah Abang anggap seperti adik Abang sendiri" ungkap bang Rafly sambil tersenyum namun tatapannya lurus kedepan.
"insyaallah bang, semoga Allah pertemukan" kataku lagi
"Abang yakin bentar lagi ketemu kok sa, asal kamu beneran single aja dulu wahahahahaaa" bang Rafly sudah mode lawak ini.
aku pun mengiyakan. dalam pikiran ku sekarang adalah bagaiman aku bisa putus dengan Aska tanpa menyakitinya. aku terus terbenam dalam pikiran ku hingga tanpa ku sadari kami sudah sampai di halaman toko.
___________________________________
Minggu pagi di kiddos babyshop
hari ini aku libur karena ada mama bang Rafly datang dari Padang untuk berobat, mama bang Rafly sedang sakit gula yang memang sudah parah. kakinya sudah sulit berjalan sehingga kami pun membuatkan kamar dadakan dilantai bawah, satu lantai dengan tempat kerjaku.
aku senang mama bang Rafly datang itu artinya akan ada teman setiap hari ketika belum ada customer.
"Larisa udah lama kerja disini?" tanya nenek (mama bang Rafly, aku mengikuti anak bang Rafly yang memanggil nenek)
"Alhamdulillah sejak toko buka nek" jawabku sambil tersenyum.
"maaf ya sa, aromanya gak enak" tiba-tiba nenek menjadi sensitif, benar saja karena luka kaki nenek tidak mengering akibat penyakit gulanya.
"tidak apa nek, Larisa sudah punya pengalaman seperti ini. nenek jangan sungkan, ini hal biasa. yang penting nenek semangat untuk sehat, anak-anak dan cucu nenek pasti ingin lihat nenek sehat seperti dulu lagi" kata ku sambil menatap mata nenek, meyakinkan bahwa aku baik-baik saja, tidak terganggu dengan adanya nenek.
"malahan Larisa bersyukur nek, nenek datang. soalnya kalau pagi gini sepi nek, apalagi kalau hari biasa. lebih sering ramenya jam 10 keatas nek" lanjutku sambil cengar-cengir
"nenek bersyukur Rafly punya karyawan seperti kamu, kamu betah-betah ya sa disini nenek titip Alila sama alisha, kasihan mereka orangtuanya sibuk" ucap nenek sambil menerawang langit-langit
"nek, jangan bilang gitu iiiih. kayak mau pergi jauh aja titip titip segala" jawabku sambil memeluk nenek
"manusiawi sa, kita ga tau kapan ajal menjemput " balas nenek sambil menepuk lenganku lembut.
aku pun melepaskan pelukan, setelah nenek bilang dia ingin tidur, tentu saja aku larang karena ini masih terlalu pagi dan itu sangat buruk bagi penderita diabetes. akupun membujuk nenek untuk tahan kantuk sambil mendengarkan aku bercerita tentang pengalaman ku dikampus sampai kenapa aku bisa bekerja disini. nenek sesekali tertawa sambil mengusap sudut matanya . aku yakin selama ini nenek kesepian, dirumahnya sana hanya tingga sendiri, karena menurut cerita nenek anak-anaknya merantau yang paling dekat di Solok itu anak kedua, anak pertama di Jakarta, sementara bang Rafly anak ketiga di Pekanbaru.
seketika hatiku terenyuh, bagaimana ibuku? sama-sama single parent bedanya kami semua di Pekanbaru. pasti sangat berat menjalani hidup tanpa suami, karena sebisa - bisanya meluapkan perasaan kepada anak tentu beda rasanya dengan bersama suami.
semoga Allah meridhoi umur panjang untuk ibuku, sehingga aku masih memiliki waktu untuk membahagiakannya.
3 Minggu berlalu
Aska kembali muncul dihidupku, kali ini hubungan kami terasa merenggang. dia tidak banyak protes, mungkin sudah sadar posisinya terancam. aku pun tak ambil pusing.
"yang nanti aku jemput ya" kata Aska disambungan telepon
"maaf Aska lain kali saja ya, karena di toko sedang ramai. ada kakak bang Rafly datang jadi aku diminta untuk pulang malam dan diantar oleh adik ipar bang Rafly" jawab ku jujur
"kok kamu ga cerita yang, ada adik iparnya. pasti cowok adik iparnya kan" katanya posesif
"oh aku pikir ini bukanlah hal yang penting ka, jadi aku ga cerita" jawabku sekenanya
"terserah kamu aja!" bentaknya sambil mematikan telepon
tut Tut Tut..... sambungan telepon terputus
akupun hanya bisa menghela nafas. lelah sekali aku menghadapinya, aku harus segera memutuskan Aska.
_____________________________________
"kak Larisa keren ya, bisa dekat dengan Alila dan alisha" kata kakak pertama bang Rafly yang dipanggil mami oleh Alila dan alisha
"tidak juga mami, itu karena mereka juga anak yang baik" kataku sambil tersenyum mengagumi kecantikannya
Sumpah kakaknya bang Rafly ini cantik banget guys, padahal usianya aku yakin sudah kepala empat.
"makasih ya kak Larisa, selama mama disini sudah menemani mama dengan sangat baik, mama banyak bercerita tentang kak Larisa" ungkapnya
"sama-sama mami, malah aku bersyukur bisa bersama nenek. selama ini kesepian kalau pagi" jawab ku santai
"sekalian mau pamit kak, sore nanti mami balik ke Jakarta. titip mama, Alila dan alisha. juga bantu-bantu Rafly ya sa"
"loh kok cepat banget mi?" tanya ku
"iya anak-anak susah kalau mau sekolah ga ada maminya, dan mami harus kerja sa" jawabnya sambil berjalan menuju lantai atas.
yap, nenek sudah dipindahkan ke lantai atas. karena takut mengganggu customer, bang Rafly lah yang menggendong nenek.
hari Sabtu sore , seminggu setelah mami kembali ke Jakarta.
"nenek Larisa pamit ya" teriak ku dari luar kamar
"sini dulu sa, tidur sini ya" kata nenek lirih, bukan karena tua renta melainkan nenek menahan rasa sakitnya
"insyaallah besok ya nek , tidur sini nya"kata ku sedikit menoleh dari pintu kamar
entah kenapa seperti hatiku bilang bahwa ada sesuatu yang janggal pada nenek. akupun mengabaikan lantas melanjutkan perjalanan pulang.
Minggu pagi
"assalamualaikum..... kak Rita.... oh kak Rita gurita" aku berteriak dari luar, karena tumben sekali pintu toko hanya terbuka sedikit dan suasana senyap. lagi - lagi aku berteriak sambil naik ke tangga.
tiba-tiba kak Rita berjalan sambil menggendong alisha mendekati ku sambil mengisyaratkan agar aku diam.
"syuuuuut.... jangan ribut" katanya berbisik
aku pun jadi tak enak hati dan bingung, ada apa ini? kenapa suasana tidak enak sekali.
"kenapa kak? kenapa?" tanyaku juga dengan berbisik
"nenek....." kak rita menjawab lirih, dia menangis.
nenek kenapa? kenapa tidak ada Abang dan Bu Vivin? kenapa suasana tidak enak? aku pun berlari ke kamar melihat nenek. nenek sedang memejamkan mata, dari mulutnya keluar buih. astaghfirullah ini kenapa? aku pun menelepon tanteku dengan tangan bergetar. meminta bantuannya agar datang ke toko.
tak lama Tante ku datang, begitu pula dengan bang Rafly. bang iwang dan Bu Vivin menyusul mereka baru dari apotik membeli obat untuk gula darah nenek ternyat. sementara bang Rafly dibawah menelepon temannya yang dokter. kok tadi aku tidak lihat.
tanteku mendekati nenek, sambil menangis... "innalilahi wa innailaihi"
katanya.
"sa ayo kita panggil dokter, untuk memastikan nenek" ajak tanteku sambil meraih tangan ku. kamipun berjalan tergesa-gesa.
semua orang panik, menangis sementara aku berusaha untuk tenang agar masih ada penguat mereka semua.
dokter pun datang bersama kami, dan benar nenek sudah tiada. suasana haru menyeruak, seketika aku teringat pesan nenek sebulan yang lalu. "titip Alila dan alisha" pesan berupa amanah . semoga aku sanggup memenuhinya nek. dan aku menyesal tidak tidur bersama nenek, ternyata itu adalah permintaan terakhir nenek.
keluarga ku datang ke toko untuk membantu, termasuk sepupu ku. aku menggendong alisha karena dia sedikit rewel, ditemani Reza sepupuku. kami berdiri di halaman toko.
sebelum ke bawah aku melihat seorang laki-laki yang rasanya terlihat familiar, aku berusah keras mengingat tapi ga juga berhasil, mungkin suami teman kerja Bu Vivin pikirku. tapi kenapa akrab sekali dengan bang Rafly bahkan tadi bang Rafly memeluknya sambil terisak, ah udahlah akupun mengalihkan fokus kepada alisha sambil ngobrol dengan Reza.
"za, nanti bantuin ya bang Rafly angkat nenek ke bawah, kayaknya dimandikan dibawah" kataku kepada Reza yang tengah menggelitik kaki alisha
jarak umur hanya tiga Tahun membuat Reza seperti seumuran denganku
"iya mbak" katanya singkat.
tidak lama muncul lah orang yang sempat mencuri fokusku. dia tersenyumlah, senyumnya hangat dan mendebarkan. astaghfirullah...... larisaaaaaaaa suami orang itu
"mbak...." sapanya kepadaku sambil tersenyum
"iya pak" jawabku juga tersenyum
"jam berapa berpulangnya tadi mbak?" oh dia nanya
"sekitar jam 7.30 pak" jawabku singkat
"kok bapak? mbak Larisa lupa sama saya?" lah dia malah nanya.. dia bertanyea - tanyea.....
hayoooooo kira-kira siapa bapak ini? kenapa ingatan Larisa terhadap orang baru buruk sekali ya guys.