Nalendra menggeleng lalu meninggalkan ibunya. Duduk di balkon kamarnya sembari menikmati rokok yang telah menyala. Menghirup udara untuk mencari pelepasan akan masalah yang belum juga menemukan jawabannya. Marsya, harus segera dicarikan obat. Akan tetapi, ke mana? Nalendra tidak tahu harus mencarinya di mana. Ke rumah sakit pun serasa tidak berguna. Dokter tidak bisa mendeteksi penyakitnya. “Nalendra, makan .... “ “Nanti saja. Ma, tahu Kyai yang bisa mengobati secara Islami tidak?” tanya Nalendra yang mencoba untuk tetap bersikap baik dengan ibunya. Melupakan semua rasa kesalnya. Lagi pula, saat ini wanita itu telah ada di sisinya. Ibunya duduk di sebelah Nalendra. Menatap ke arah putranya dengan segala rasa penasarannya. Menatapnya dalam untuk meminta sebuah cerita lengkap dari mulut

