One - First Meet
“Aku berangkat dulu.” kata sang istri berdiri sambil merapikan penampilannya meninggalkan meja makan mengabaikan suaminya yang masih duduk rapi menikmati sarapan.
“Hmm.” balas sang suami dengan nada dingin, masih tetap fokus pada sarapan dan koran pagi yang sedang dibacanya. Tak ada pelukan ataupun ciuman kasih sayang diantara keduanya, apalagi mereka baru saja memperdebatkan sesuatu hal.
Di pagi yang cerah ini, wanita cantik itu melajukan mobil sedannya dengan kecepatan sedang menuju kantor sambil telinganya terpasang headset dan mulutnya berbicara dengan seseorang di telpon. Ia terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya. Ia masih berusia dua puluh delapan tahun dan sudah menjabat sebagai Product Manager di salah satu perusahaan elektronik terbesar di Amerika. Muda, cantik, seksi, stylish, dan memiliki suami yang sukses dan juga tampan. Hidupnya benar-benar terlihat sempurna.
Ia adalah Kimberly Anastasha, istri dari seorang Mark Juan Stephan. Meskipun suaminya adalah seorang pengusaha sukses, namun Kim tidak pernah memanfaatkan kekuasaan sang suami untuk membantu karirnya. Kim bekerja di perusahaan lain yang bukan milik Mark dengan usaha sendiri dan ketekunannya dalam bekerja sehingga mencapai posisi yang kini ditempatinya.
Kim sudah menikah dengan Mark lebih dari satu tahun dan belum memiliki momongan. Kim dan Mark memang menundanya, apalagi wanita itu masih ingin fokus dengan karirnya. Sebenarnya mereka menikah karna dijodohkan oleh orang tua. Kim sama sekali tidak mencintai suaminya dan pernikahan mereka selama setahun ini berjalan hambar dingin karna masing-masing sibuk akan karirnya.
"Selamat pagi, Kim." sapa beberapa anak buah Kim saat ia melewati kubikel menuju ke ruangannya.
"Pagi."
"Morning Kimmy, ada apa dengan wajahmu? pagi-pagi sudah ditekuk?" tanya Erica saat masuk ke ruangan Kim. Erica adalah sahabat Kim sekaligus Assistant Product Manager.
"Nothing Er, hanya saja tadi pagi aku bertengkar lagi dengan Mark." jawabnya lesu. Kim menyalakan laptop dengan wajah tak semangat.
"Again? Ohh come on. Kalian ini, selalu saja bertengkar seperti kucing dan anjing."
"Dia masih saja teguh dengan pendiriannya, menginginkanku untuk berhenti dari pekerjaan ini."
Erica hanya diam saja mendengarkan.
"Kau tau kan bahwa pekerjaanku ini adalah segalanya bagiku. Aku memulai semuanya dari bawah, dari hanya sebagai staf biasa dan sekarang ketika baru saja enam bulan aku diangkat menjadi manager, dia memintaku untuk berhenti. Bukankah itu sangat menyebalkan?"
“Aku mengerti perasaanmu.”
Obrolan mereka kemudian diinterupsi oleh salah satu staf yang masuk hendak meminta tandatangan Kim. Setelah staf tersebut pergi Kim kembali melanjutkan keluh kesahnya.
"Sepertinya memang pernikahan ini sudah tidak bisa dilanjutkan lagi."
"What!! Noo, Kimmy! What the hell are you thinking?!"
"Jangan memutuskan sesuatu dengan hati yang panas seperti ini. Kau pasti akan menemukan jalan keluarnya, kau hanya harus berbicara baik-baik pada Mark. Dia pasti mengerti bahwa kau mendapatkan semua ini bukan dengan hal yang mudah, kalian hanya perlu berbicara dari hati ke hati dan saling memahami." saran Erica.
"Pikirkan baik-baik, jangan sampai kau menyesalinya. Ingat orang tuamu pasti akan sedih dengan keputusanmu ini. Aku akan melanjutkan pekerjaanku." Erica kemudian keluar dari ruangan Kim.
“Aku tak tau bisa bertahan sampai berapa lama lagi dengan pernikahan semu ini.” kata Kim bermonolog dengan dirinya sendiri sepeninggal Erica.
*
"Ayo kita ngopi-ngopi sebentar Kim, sudah lama kita tak pergi keluar bersama. Ada coffeeshop baru buka yang tidak terlalu jauh dari sini, kita harus mencobanya." ajak Erica setelah membereskan mejanya, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.
Kim pun menggangguk, sepertinya minum kopi akan merubah moodnya lebih baik. Mereka berdua lalu meluncur menuju tempat tersebut.
Sudah satu jam lebih mereka bergossip dan tertawa, Erica tau jika sahabatnya ini sedang butuh merelaksasikan pikirannya. Erica kadang menceritakan lelucon konyol hingga membuat Kim tertawa sampai mengeluarkan airmata. Tak lama Kim permisi untuk ke toilet. Ketika ia baru saja beranjak dari kursinya, tiba-tiba ia menabrak seorang pria yang sedang membawa segelas kopi panas berjalan melewati meja mereka.
"Aaauuuwww.. aaauuwwww..." ujar Kim yang merasa pedih karna sebagian isi kopi panas tersebut tumpah ke dadanya.
"Oh My God!!! Sorry sorry. Apa kau kepanasan?" tanya pria bertopi dan berkacamata hitam itu sambil mengambil tissue yang ada dimeja sebelahnya lalu membersihkan baju Kim dan menyeka bagian atas dadanya yang kena tumpahan kopi.
"What the f*ck are you doing?!" ujar Kim kaget menyingkirkan tangan pria itu dari dadanya. Kebetulan saat ini Kim menggunakan kemeja putih yang kancingnya dibuka agak rendah serta blazer hitam dan rok pensil pendek berwarna senada. Dengan pakaian seperti itu saja sudah cukup menimbulkan kesan seksi bagi Kim yang memang sudah kelihatan seksi darisananya meskipun ia hanya berpakaian biasa.
"I'm so sorry. I didn't mean it," ucapnya. "Aku hanya ingin membantumu."
"Sudah.. sudah.. aku tak apa-apa." jawabnya kesal tanpa melihat wajah pria itu sambil membersihkan dadanya.
"Tapi kopi itu panas. Lihat, kulitmu memerah." Kulit Kim yang putih mulus berubah menjadi kemerahan.
"Aku sudah bilang aku tak apa. Now, could you please, just go?" usir Kim, masih belum melihat pria itu, meskipun benar memang kulitnya terasa perih akibat tumpahan kopi itu.
"Aku benar-benar minta maaf, Nona. What can I do for you?"
"Just go! Maaf aku harus ke toilet." Kim lalu pergi disusul oleh Erica.
Kim berjalan menuju toilet dengan wajah kesal sambil berupaya membersihkan kemejanya yang basah dengan tisu. Ketika di toilet, Erica memandang Kim tak percaya dengan reaksi yang ditunjukkan oleh sahabatnya itu.
“Kim, apa kau sedang PMS? Kenapa bisa semarah itu, padahal pria tadi tampan loh. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?” kata Erica yang sibuk berbicara namun tak digubris oleh Kim.
“Aku tak peduli siapa dia, yang jelas dia sudah merusak moodku serta pakaianku. Apalagi tadi dia berusaha menyentuh dadaku. Kurang ajar, kan?”
“Um, mungkin dia hanya refleks ingin membantu membersihkan.” bela Erica.
“Jika saja aku yang bertabrakan dengan pria tadi, mungkin aku akan memaafkannya tapi dengan syarat pria itu mau memberikan nomor ponselnya. Hihihi.” lanjut wanita itu sambil membayangkan macam-macam.
“Dasar kau ini. Makanya cari kekasih sana. Sudah berapa lama kau tak pernah disentuh pria hingga kau berlaku seperti gadis yang haus kasih sayang?”
Erica menepuk lengan Kim kesal, gadis itu bukannya kekurangan kasih sayang, dia hanya senang mengagumi keindahan Tuhan lewat pahatan sempurna seorang pria.
“Aku sudah kehilangan mood, lebih baik kita langsung pulang saja!” seru Kim mengakhiri pembicaraan tak jelas mereka.
Setelah Kim selesai membersihkan pakaiannya, kedua wanita itu pun kemudian pulang. Mood Kim langsung buruk kembali, mungkin pulang dan mandi akan menyegarkan kembali otak dan pikirannya.
*
Beepp.. beepppp..
Kim membaca pesan yang baru saja masuk setelah ia keluar dari kamar mandi, sembari mengusap-usap rambutnya dengan handuk.
Mark : Aku ada meeting mendadak di luar kota selama lima hari, langsung berangkat dari kantor.
Kim : Okay. Becareful.
Seperti itulah kehidupan rumah tangga Kim dan Mark. Seperti dua orang aktor yang sedang memainkan perannya masing-masing menjalani skenario kehidupan rumah tangga yang diatur oleh orang tua mereka.
Untuk urusan ranjang, jangan kalian tanya, mereka manusia normal. Kim tetap melayani kebutuhan Mark diatas ranjang meskipun tidak ada perasaan apa-apa diantara keduanya, hanya saling memuaskan kebutuhan masing-masing. Itupun jarang sekali mereka melakukannya, Kim yakin Mark diluar sana bermain dengan wanita lain juga. Berbeda dengan Kim, dia hanya fokus kepada karirnya saja tanpa pernah memikirkan urusan hati.
Wanita itu lalu naik ke ranjang Kingsize nya dan mulai melihat beberapa berita di ponselnya dan membuka akun sosial media lalu asik berseluncur di dunia maya. Ia memang masih sangat berjiwa muda. Sejujurnya, ia sangat senang travelling seperti kebiasaannya dahulu saat masih kuliah, namun tuntutan pekerjaannya yang membuatnya sangat sibuk hingga sudah bertahun-tahun hobi tersebut tak dijalaninya lagi.
"He's cool." ucap Kim saat melihat akun seorang pria yang sedang menikmati indahnya pemandangan alam yang berlatar belakang air terjun. Sepertinya dia seorang model, tubuhnya cukup kekar.
Selagi sibuk dengan dunia maya, ia membuka aplikasi pesan dan menyapa sahabat-sahabatnya, di dalam pembicaraan grup tersebut hanya terdapat Kim dan tiga orang teman dekatnya.
Kim : Guys, besok malam minggu ayo kita bersenang-senang
Haylie : Woww ada angin apa Kim, tumben sekali tiba-tiba kau mengajak kami ;)
Erica : Kimmy, sebegitu suntuknya kah kau? hahaha
Kim : --__--
Kim : Mark sedang keluar kota. Ya sudah, kalau kalian tidak mau aku pergi sendiri saja. Bye!
Ana : Dia ngambek. hahaha. Okay Kimmy baby I'm in :*
Disusul kedua teman lainnya yang juga ikut menyetujui. Kim memang sering dijadikan bahan bullyan dari ketiga sahabatnya itu karna dia yang paling serius diantara mereka berempat. Kim juga satu-satunya diantara sahabatnya yang menikah duluan.