Ketika melihat Kayla, raut wajah Erlangga langsung berubah. Dia bahkan tidak sengaja memanggil namanya, membuat beberapa orang di sana sedikit bingung, lalu ketua grup leader Fauziah pun bertanya, "Anda mengenal Kayla, Tuan?"
Dia yang namanya dipanggil di depan banyak orang, menunduk sambil menggaruk keningnya, dan bergumam dalam hati. "Bisa-bisanya Mas Elang keceplosan."
Joenathan yang sudah berdiri di belakang Erlangga diam-diam menyenggol punggungnya, setelah itu Erlangga menjawab pertanyaan Fauziah sedikit tergugup. "Ti–tidak. Saya sama sekali tidak mengenalnya."
"Tuan Erlangga melihat name tag itu," timpal Joenathan menambahkan agar semua orang percaya, lalu beberapa orang yang bingung pun mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jadi kamu QC land lima puluh?" lanjut Erlangga bertanya kepada Kayla.
"Iya, Tuan," jawab Kayla dengan ekspresi datar.
"Kenapa kamu bisa sampai melakukan kesalahan yang begitu besar? Kamu tau apa dampak yang diterima oleh perusahaan?"
”Maksud Anda, Tuan?” Dari sejak awal grup kerjanya dipanggil oleh ketua tim leader untuk menghadap atasan, Kayla maupun temannya belum ada yang tahu akan alasan mereka dipanggil. Tentu Kayla bingung, untuk itu Kayla bertanya demikian.
"Kamu pasti masih ingat akan permasalahan yang menimpa Lan Industri? Hal ini sudah saya bahas di meeting kemarin, di gedung dua."
Kayla mengangguk. ”Iya, Tuan."
"Dan kamu tau land mana yang melakukan kesalahan itu?" tanya Erlangga lagi dengan raut wajah mengerikan.
"Saya tidak tau, Tuan," jawab kayla masih sangat hati-hati.
"Kamu dengan teman-teman kamu yang melakukan kesalahan itu. Kamu dan teman-teman kamu yang membuat perusahaan rugi, malu, hilang kepercayaan, dan sangat merusak reputasi perusahaan!"
Kayla terkejut, begitu juga empat teman lainnya yang baru tahu setelah Erlangga jelaskan.
Belum puas marah kepada sang istri yang sekarang sedang berperan sebagai karyawannya, Erlangga melanjutkan ucapannya dengan mengajukan sebuah pertanyaan. "Kamu tau kenapa saya menanyakan hal ini kepadamu?"
Kayla masih diam mendengarkan.
"Karna kamu yang bertanggung jawab sebagai QC, kamu yang bertugas menentukan standar produk, kamu yang mengontrol semua barang. Apakah semuanya sudah sesuai dengan standar atau belum, apakah semuanya sudah memenuhi syarat kirim atau belum, lalu kenapa barang yang tidak layak kirim, barang yang tidak memenuhi standar, malah kamu loloskan? Di mana pikiran kamu saat itu? Kamu sengaja ingin menghancurkan perusahaan saya? karyawan macam apa kamu ini?" Suara Erlangga membentak. Dia bicara seperti itu bertujuan untuk meyakinkan semua orang bahwa dirinya dengan Kayla tidak saling kenal, dan memang tidak ada apa-apa.
Namun, sepertinya sikap Erlangga yang berlebihan, membuat mata Kayla berkaca-kaca. Wanita berusia dia puluh tahun itu merasa sakit hati, karena sudah dibentak di hadapan banyak orang.
Bukan hanya Kayla, semua orang di sana pun terkejut atas sikap atasannya hari ini. Tidak pernah Erlangga memaki karyawan di hadapan banyak orang, dan ini adalah kali pertama mereka menyaksikan kemarahan atasannya yang ternyata cukup mengerikan.
Tidak tega melihat kesedihan Kayla, Fauziah pun coba membelanya dengan cara baik-baik. "Maaf, Tuan. Bicara tanggung jawab, sepertinya saya yang lebih bertanggung jawab atas grup kerja. Saya rasa, jika Tuan ingin marah, lebih baik Tuan marahi saya."
"Kamu tidak saya kenankan untuk bicara, karna saya sedang bicara dengan seorang wanita yang bisanya hanya membuat keributan, kesalahan, dan kerugian!" tegas Erlangga sambil melihat ke arah Keyla dengan tatapan membunuh.
"Tapi, Tuan....?"
Belum selesai satu kalimat diucapkan, Bu Wilda sebagai ketua tim leader, menyenggol lengan Fauziah untuk berhenti bicara, berhenti membantah, dan tetap diam. Fauziah mengerti, lalu ia pun diam.
Saat Erlangga membuka mulut hendak memarahi lagi istri kecilnya, dengan cepat Joenathan menyela. "Tolong perbaiki lagi ke depannya ya, Kay."
Erlangga menoleh ke arah Joenathan. Dia mengerutkan dahinya, tetapi Joenathan tidak perduli, dia tetap bicara kepada Kayla. "Kamu sebagai garis finish harus benar-benar teliti, agar kejadian seperti ini tidak terulang. Memang benar apa yang Tuang Elang katakan, dampak dari masalah ini akan merambat, dan semua karyawan akan merasakan dampaknya. Kamu mengerti kan, Kay?" Joenathan bicara penuh kelembutan, berbeda dengan Erlangga setiap kata yang keluar dari mulutnya menyakitkan.
Kayla mengerti. Ia menjawab dengan suara lembut. "Saya mengerti, Tuan."
"Bukan hanya untuk Kayla. Ini juga berlaku untuk semuanya. Terlepas dari keteledoran Kayla dalam memeriksa, hal ini tidak akan terjadi jika produksi awalnya tidak melakukan kesalahan. Kalian semua mengerti?"
"Mengerti, Tuan," jawab yang lain secara bersamaan.
"Ya sudah. Kalau begitu, kalian semua bisa kembali bekerja. Ingat, konsentrasi. Untuk Bu Wilda, Fauziah. Tolong kerja anak-anaknya diperhatikan! Teguran Tuan Elang terhadap Kayal, ini juga berlaku untuk kalian semua."
"Baik, Tuan."
Setelah itu mereka melangkah mundur dengan teratur, lalu pergi. Sedangkan Kayla masih tetap di sana menatap wajah Erlangga sambil meneteskan air mata, dan hal itu tidak diketahui oleh siapa pun, karena saat semua orang membubarkan diri, staf office kembali duduk, begitupun dengan Joenathan juga Dava yang memang ada di sana.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Erlangga. Ketika Kayla meneteskan air mata, dalam hitungan detik pria arogan itu melihat ke arah lain coba menghindar. Setelah itu Kayla pun keluar dari ruangan. Berjalan menuruni anak tangga sambil menangis.
"Jahat. Suamimu jahat, Mbak, kamu lihat sendiri, kan. Dia memarahiku di hadapan banyak orang. Aku malu, Mbak. Aku merasa tidak memiliki harga diri lagi," gumam Kayla dalam hati. Jari lentik itu sibuk menyeka air mata yang sejak keluar dari ruang meeting sampai sekarang tidak mau berhenti mengalir.
Hal yang paling menyakitkan bukan karena dimarahi, baginya itu sudah biasa. Kayla merasa sakit hati, merasa sedih, karena kenapa Erlangga harus dimarahi habis-habisan di hadapan banyak orang? Bukan hanya ada empat atau lima. Tujuh, dua belas, mungkin hampir ada lima belas orang ada di sana termasuk orang-orang penting, juga Dava yang hanya bisa menatapnya dari kejauhan dengan perasaan sedih.
***
Sedangkan suasana di dalam ruang meeting setelah perginya karyawan dari gedung dua, Erlangga yang baru menyadari akan kesalahan yang tadi ia lakukan, hanya bisa diam, melamun, memikirkan ulang kata-kata apa saja yang keluar dari mulutnya, sehingga membuat Kayla sangat sakit hati, lau menangis.
"Bagaimana, Tuan? Saya pribadi, saya sangat keberatan?" tanya salah sat staf.
Erlangga yang sedang melamun pun menjawab asal pertanyaan karyawannya. ”Saya setuju."
Jawaban Erlangga membuat semua orang bingung, mereka menatap satu sama lain sambil menggidikkan bahunya tidak tahu.
"Lu ngomong apa sih, Lang? Maen iya iyain aja setuju," gumam Joenathan di dekat telinga Erlangga.
Erlangga langsung berdiri dari duduknya, meeting yang berjalan setengah pun dinyatakan ditunda sampai waktu yang belum bisa pastikan.
"Kayla adalah aku, aku adalah Kayla. Menyakiti Kayla, sama dengan kamu menyakiti aku." Kata itu yang terus terngiang di telinga, membuat Erlangga kehilangan konsentrasinya.
"Lu kenapa sih?" tanya Joenathan mengikuti langkah kaki Erlangga dari belakang. Ia jalan beriringan dengan sekretaris Susan.
"Nggak apa-apa," jawab Erlangga singkat tanpa mengehentikan langkah kakinya yang saat ini sedang menuruni anak tangga.
"Ya nggak mungkin lah lu nggak kenapa-kenapa. Lu pasti nyesel kan udah marahin is...." kalimatnya mengambang ketika sadar bahwa saat ini mereka tidak sedang berdua, tetapi ada Sekretaris Susan juga di sana.
Sekretaris Susan yang mendengar pun bertanya, "Is apa, Tuan?"
Erlangga langsung menghentikan langkah kakinya, melihat Joenathan dengan tatapan mengerikan.
"Maksudnya, is itu... istirahat deh biar kamu nggak ngaco!" ralat Joenathan.
"Ini bukan lagi jam istirahat, Tuan Joe. Tapi jadwalnya pulang. Nih," tunjuk Susan sambil memperlihatkan angka digital pada jam tangannya.
"Oh ya? Secepat itu waktu berlalu?"
"Padahal jomblo ya, Tuan. Tapi sepertinya Anda sangat menikmati kejombloan Anda," ledek Sekretaris Susan sambil tersenyum menutup mulut dengan tangannya.
"Heh. Biarpun aku jomblo, banyak cewek ngantri di luar sana!"
"Luar mana?"
"Luar alam," jawabnya singkat dengan nada kesal.
Sekretaris Susan tertawa terbahak-bahak atas jawaban yang ia dengar.
***
Siapa yang tidak merasa sakit hati kalau dimarahi di hadapan banyak orang. Mungkin di sini konteksnya bukan antara suami dan istri, melainkan antar atasan dengan bawahan. Tetapi, atasan mana yang tega memarahi habis-habisan karyawannya di hadapan banyak orang? Kalau untuk ditegur, iya. Setelah itu mendapat SP 1.
Semua kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut Erlangga masih terngiang jelas, dan sepertinya jika harus bertemu sosok yang menyebalkan malam ini di rumah, Kayla belum siap. Dia merogoh benda pipih dari dalam sakunya, lalu mengirim pesan kepada Dava.
"Kamu sudah tidur, Mas?"
Tidak langsung dibalas. Kayla sempat mengepak barang ke dalam box berukuran sangat besar, lalu yang ditunggu pun datang. Sebuah balasan dari Dava.
Kayla mengumpat di bawah, membaca balasannya yang berisi, "Belum. Ada apa?"
"Kamu bisa antar aku pulang?"
Ajakan Kayla membuat Dava terkejut. "Kamu yakin? "
"Yakin. Memangnya kenapa? Mas Dava sibuk?" tanya Kayla lagi.
"Nggak, bukan itu. Bisa ko bisa. Nanti mobil aku parkir di depan minimarket."
"Oke. Terima kasih, Mas Dava."
Setelah berbalas pesan dengan Dava, Kayla kembali bekerja. Dalam hati ia bergumam. "Aku nggak mau pulang ke rumah tante Herlita. Aku nggak mau jadi istri Mas Elang. Aku mau pulang ke rumah ibu." Tidak terasa air mata kembali menetes.