Bak Kucing Dengan Tikus

1192 Kata
Erlangga coba menghindar dengan berjalan mundur, tetapi Kayla malah mengikutinya sambil berjalan maju dengan posisi sedikit membungkuk, membuat pria berusia tiga puluh lima tahun itu bukan lagi memperdulikan bagian tubuhnya yang terkena kuah panas, tetapi ketakutan istri kecilnya benar-benar menyentuh bagian itu. Erlangga meraih kedua tangan Kayla, lalu memutarnya ke belakang punggung, membuat gadis berusia dua puluh tahun itu merengek kesakitan. "Aw... sakit tau!" "Lagian nggak bisa dibilangin sih. Aku bilang udah ya udah," teriak Erlangga. "Aku kan cuma mau nolong. Sebagai bentuk rasa bersalah, aku bantu keringin," jawab Kayla yang di dalam pikirannya tidak ada maksud ke manapun. "Tapi nggak gitu caranya!" "Terus apa? Pakai hair dryer? Jemur di bawah terik matahari?" pertanyaan Kayla semakin aneh. "Ini anak benar-benar ngaco, ya," gerutu Erlangga tanpa melepaskan cengkramannya. "Terserah deh. Lepasin tangan aku!" perintah Kayla dengan tegas. Erlangga melepaskan tangan istrinya, lalu berbalik badan, mengipasi bagian yang basah dengan tangannya sambil menggerutu. "Tau gitu mending tadi aku tidur. Biar kelaperan, kelaperan deh sekalian." "Kalau aku tau bakal tumpah juga aku ogah nurutin keinginan Mas Elang suruh ambil nasi. Aku jadi gak makan, kan? Nyesel sumpah!" Keributan mereka membangunkan Herlita yang saat ini sedang tertidur lelap. Dia yang baru saja membuka mata, beringsut turun dari atas ranjang, memakai sandal yang sudah tersedia, lalu keluar dari kamar. "Siapa sih ribut tengah malam gini?" "Nggak bisa ya kalau satu kali aja nggak buat kesalahan? Bisa nggak kamu nggak bikin aku kesel?" seru Erlangga terdengar samar-samar oleh sang ibu. "Siapa yang bikin masalah? Mas Elang nya aja yang terus nyalahin aku. Yang kerugian besar di sini itu aku! Udah aku capek pulang kerja lapar, udah aku yang beli sotonya sampe bela-belain jalan jauh. Eh, sekarang malah tumpah. Laper iya, dan parahnya lagi, malah aku yang disalahin." Ternyata bukan hanya suara Erlangga, ia juga mendengar ocehan Kayla. Sambil berjalan wanita berusia lima puluh lima lima tahun itu bergumam, "Ada apa lagi sama mereka?" Mereka berdua terus ribut, lalu Herlita yang baru sampai di ruang makan pun langsung memanggil keduanya. "Erlangga, Kayla!" Keduanya menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan. Erlangga masih mengibas-ngibaskan celananya yang basah, sedangkan Kayla menyahuti panggilan sang mertua sambil menunduk. "Iya, Tante." "Ada apa? Kenapa kalian ribut tengah malam?" tanya Herlita berjalan menghampiri mereka berdua, lalu berdiri di sampingnya. Erlangga diam, begitu juga dengan Kayla. "Kenapa nggak ada yang jawab?" tanya Herlita lagi. "Mamah tanya aja sama anak kecil itu," ketus Erlangga menunjuk dengan ujung matanya. Kayla yang tidak terima atas panggilan anak kecil itu pun melayangkan protes. "Anak kecil? Aku? Jangan sembarangan dong, Mas!" "Ya emang masih anak kecil, kan? Kamu baru lulus sekolah dua tahun lalu, pengalaman kerja baru satu tahun, anak manja, masih suka nangis, suka bikin masalah," beber Erlangga. "Ini nggak ada kaitannya sama usia, ya!" Mereka terus berdebat saling menyalahkan satu sama lain perihal tumpahnya soto yang Kayla beli, lalu Herlita coba melerai dengan menasehati putranya lebih dulu. "Erlangga. Kenapa sih nggak mau ngalah? Udah dong! Kamu itu udah dewasa, malah lebih dari dewasa." "Mamah nggak liat celana aku basah kayak gini? Ini panas loh tadi, Mah." Erlangga bicara sambil menunjukkan area yang terkena kuah, lalu Herlita pun menahan tawa sambil menutup mulutnya. Hal itu tentu membuat Erlangga semakin kesal. "Mamah malah ketawa lagi." "Maaf, maaf," ucap Herlita, lalu ia bicara kepada menantu kecilnya. "Memang seharusnya kamu minta maaf sama Elang, Sayang." "Kok Tante jadi belain Mas Elang?" Raut wajah Kayla berubah murung. "Sayang, kamu tau bertapa pentingnya aset itu? Kalau aset suami kamu kenapa-kenapa, gimana kalian bisa punya keturunan? Bahaya, kan?" Setelah berkata demikian, tawa Herlita semakin kencang. Kayla yang baru mengerti pun ikut tertawa, dan mengejek. "Mamah bener. Jangankan aku, mungkin cewek mana pun nggak akan ada yang mau sama Mas Elang yang asetnya udah rusak. Memang bahaya sih itu." Mereka berdua tertawa bersama, hal itu membuat Erlangga yang sedang kesal pun semakin kesal. "Mamah apa-apaan sih? Pernikahan ini terjadi atas dasar sebuah keterpaksaan, bukan karna cinta. Jadi, sampai kapan pun aku nggak akan pernah mau menyentuh Kayla, apa lagi punya keturunan dari dia!" "Mas Elang yakin?" Kali ini Kayla yang bicara dengan nada meledek. "Yakinlah. Sama anak kecil kayak kamu, mana aku nafsu?" balas Erlangga juga meledek. kayla mengangguk-anggukkan kepala sambil memajukan bibir bawahnya, meledek. "Awas ya kalau suatu saat Mas Elang suka sama aku, lalu minta jatah. Dengan tegas aku jawab dari sekarang, ogah. Tolong beri garis bawah!" ucap Kayla dengan menekan kalimat ogah. "Iihh... jangan harap, anak kecil,” jawab Erlangga dengan ekspresi jijik. "Awas nanti kamu menjilat ludah sendiri,” sambung Herlita. "Tidak akan pernah!" Setelah berkata demikian Erlangga pun pergi, Herlita dengan Kayla tertawa bersama. *** Setelah Dava berkunjung dan mengadakan pertemuan dengan atasan PT. NISO perusahaan yang bekerjasama dengan Len Industri, Erlangga pun mengadakan meeting dengan beberapa staff offic di perusahaannya. "Kamu sudah tau shift mana yang melakukan kesalahan?” tanya Erlangga dengan raut wajah mengerikan. Bagaimana tidak, selain nama baik dan kepercayaan yang dipertaruhkan, Len Industri pun jelas mengalami kerugian, karena harus mengganti beberapa barang reject dengan barang yang baru. Dava yang bertugas mengurus permasalahan ini, menjawab apa adanya. "Kesalahan dilakukan oleh shift pagi saat tiga Minggu yang lalu, dan land yang mengerjakannya adalah land nomer lima puluh, gedung dua." "Land lima puluh?" ulang Erlangga dengan dahi mengerut. Dia duduk dengan tegak di atas kursi kebesarannya, melihat ke arah Dava dengan serius. "Iya, Tuan," jawab Dava. "Susan!" panggil Erlangga kepada sang sekretaris yang saat ini duduk di kursi barisan sebelah kiri. Dengan cepat Sekretaris Susan menyahutinya. "Iya, Tuan?" "Hubungi ketua tim leader gedung dua. Berikan perintah untuk membawa orang-orang yang bekerja di land lima puluh ke ruang meeting!" "Baik, Tuan." Sekretaris Susan langsung menghubungi ketua tim leader gedung dua, yaitu Bu Wilda. Tidak lama Bu Wilda dengan karyawan land lima puluh berjumlah enam karyawan itu pun datang ke ruangan meeting dengan perasaan takut. "Siapa yang bertanggung jawab di land lima puluh?" tanya Erlangga kepada Bu Wilda. Dengan cepat Bu Wilda menjawab, "Fauziah." Dia bicara sambil menunjuk seorang wanita yang saat ini berdiri tepat di belakangnya. Karena namanya sudah disebut, Fauziah pun melangkah maju satu langkah. "Saya, Tuan." "Empat orang yang ada di belakang kamu itu adalah tim kamu?" kali ini Erlangga bertanya langsung kepada Fauziah selaku ketua grup leader land lima puluh. Sambil menunduk Fauziah menjawab, "Maaf, Tuan. Bukan empat, tapi lima karyawan. "lima?" tanya Erlangga heran, karena yang ia lihat saat ini karyawan yang berseragam sama itu berjumlah empat orang. "Semua ada lima, Tuan. Mungkin yang satu sedang ke toilet dulu." "Baiklah. Saya mau bertanya lagi. Yang bertugas menjadi QC land lima puluh siapa?" Sebelum menjawab, Fauziah menoleh ke belakang mencari orangnya, tetapi sayang orang itu tidak ada di sana "Ke mana dia?' gumam Fauziah terus mencari. "Mana?" tanya Erlangga yang sudah tidak sabaran. "Sebentar, Tuan." Saat Fauziah akan bertanya kepada teman lainnya, pintu ruangan pun diketuk, lalu dibuka secara perlahan setelah mendapatkan izin. "Nah itu, Tuan!" tunjuk Fauziah ke arah pintu, di mana saat ini wanita cantik berusia dua puluh tahun itu berdiri di depan pintu. Erlangga berdiri sambil melihat ke belakang, lalu terperanjat saat melihat istri kecilnya ada di sana." "Kamu! Kayla?" "Iya, dia QC land lima puluh, Tuan," jawab Fauziah. Kayla menunduk, bergumam dalam hati. "Masalah lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN