bc

CINTA KEDUA DALAM PERJANJIAN

book_age18+
4
IKUTI
1K
BACA
family
love after marriage
friends to lovers
arranged marriage
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
brilliant
city
office/work place
actor
substitute
like
intro-logo
Uraian

#Warning! Mengandung unsur dewasa! #Cerita ringan menemani istirahat kalian sambil ngopi joss!

Di kalangan elite ibu kota Jakarta, satu hal sudah menjadi rahasia umum—perjanjian pernikahan antara keluarga Santoso dan Pratama.Semua orang tahu. Semua orang membicarakannya.Namun, tak ada yang benar-benar memahami bagaimana perasaan orang yang terjebak di dalamnya.---Malam itu, hujan deras mengguyur Jakarta tanpa ampun.Jalanan gelap, lampu kota berpendar samar tertutup tirai air.Di tengah malam yang kacau itu, Jasmin Santoso berlari.Langkahnya tergesa. Nafasnya memburu.Seseorang mengikutinya.Perasaan dingin menjalar dari tengkuknya—insting bahaya yang tak bisa ia abaikan.Di ambang antara hidup dan mati, satu nama terlintas di pikirannya.Tunangannya.Namun kenyataan terasa jauh lebih kejam.Di saat dirinya terancam, pria yang seharusnya melindunginya justru sedang merayakan ulang tahun sahabat perempuannya—tertawa, bersulang, seolah dunia begitu indah.Hati Jasmin… hancur saat itu juga.Bukan sekadar kecewa.Tapi benar-benar mati rasa.---Sejak malam itu, ia mengambil keputusan.Ia akan membatalkan pertunangan.Tak peduli apa kata keluarga. Tak peduli konsekuensinya.---Namun, pada malam sebelum semuanya benar-benar berakhir—Seseorang datang mengetuk pintu kamarnya.Tok... tok... tok...Suara itu pelan, tapi terasa begitu jelas di keheningan malam.Jasmin membuka pintu.---Di luar, cahaya bulan sedang terang-terangnya.Putih, dingin, dan sunyi—seperti embun beku yang menyelimuti dunia.Dan di bawah cahaya itu… berdiri seorang pria.Posturnya tinggi, tegap, dengan aura tenang yang sulit dijelaskan.Langkahnya seolah membawa dingin malam bersamanya.Wajahnya tampan dengan garis tegas namun halus, sorot matanya samar—seolah ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.Perasaan yang tertahan.Perasaan yang sudah lama dipendam.Pria itu menatap Jasmin.Tatapannya dalam. Tenang. Tapi di balik itu—ada gelombang emosi yang nyaris tak terlihat.Saat ia berbicara, suaranya datar… namun entah kenapa terasa hangat.“Di keluarga Pratama… bukan hanya ada Rendra Pratama.”Ia berhenti sejenak.Matanya tak lepas dari Jasmin.“Ada aku.”Hening.Lalu, dengan nada yang tetap tenang—namun penuh kepastian—“Aku datang untuk memenuhi perjanjian pernikahan itu.”---Malam itu, tak hanya hujan yang mengguyur Jakarta.Takdir pun… diam-diam mulai berubah arah.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Malam Hujan, Bayang-Bayang yang Mengintai.
Malam bulan Agustus di Jakarta terasa begitu menekan. Awan hitam menggumpal di langit, berat dan pekat, seolah sedang menahan amarah yang siap tumpah kapan saja. Dan benar saja— Kilatan petir membelah langit. Disusul dentuman guntur yang menggetarkan d**a. Hujan turun seketika, deras dan brutal. Butiran air sebesar biji kacang menghantam aspal, menciptakan suara riuh yang tak beraturan. --- Di tengah badai itu, Jasmin Santoso berjalan sendirian. Sebuah payung ia genggam erat, meski tak banyak membantu. Langkahnya berat—terperosok di genangan air yang tak terlihat jelas di jalanan yang gelap. Sepatunya sudah penuh air. Kakinya mati rasa, jari-jarinya tak lagi terasa. Lampu jalan di sepanjang rute itu sudah rusak sejak dua hari lalu. Kini, hanya ada kegelapan. Dan Jasmin… sangat takut gelap. Seluruh sarafnya menegang. Setiap suara terasa mengancam. --- Di antara gemuruh hujan— Ia mendengar sesuatu. Langkah kaki. Pelan. Namun… semakin mendekat. Jasmin menggigit bibirnya tanpa sadar. Tubuhnya menegang seketika. Tangannya mencengkeram gagang payung begitu kuat hingga telapak tangannya terasa nyeri. Langkah itu semakin dekat. Semakin jelas. Jantungnya berdegup kencang, bulu kuduknya berdiri. Tanpa berani menoleh, Jasmin mempercepat langkahnya. --- Dengan tangan gemetar, ia merogoh tas dan mengeluarkan ponsel. Air hujan menampar layar, tapi ia tak peduli. Pikirannya kosong. Secara refleks—ia menekan satu nama. Rendra Pratama. Tunangannya. Ponsel itu ia tempelkan erat di telinga. Nada sambung berbunyi… lama… terlalu lama. Tak ada jawaban. Langkah di belakangnya kini terasa begitu dekat—seolah hanya beberapa langkah lagi. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Angkat… tolong angkat… Ia berdoa dalam hati. --- Akhirnya—panggilan tersambung. Namun yang terdengar bukan suara yang ia harapkan. Melainkan… keramaian. Tawa. Musik. Suara orang bernyanyi. Air mata Jasmin langsung jatuh. Suaranya bergetar saat ia berbicara. “Rendra… ada yang mengikuti aku… aku takut… kamu bisa jemput aku sekarang?” --- Di sebuah ruang karaoke mewah— Lampu warna-warni berputar. Asap rokok menggantung di udara. Aroma alkohol bercampur dengan suasana pesta yang gemerlap dan berlebihan. Rendra Pratama berdiri di sana, santai, dengan segelas minuman di tangan. Mendengar suara Jasmin, gerak tangannya sempat terhenti. Namun yang ia tanyakan justru— “Sudah malam begini, kamu masih di luar ngapain?” Bukan soal keselamatan. Bukan soal bahaya. Melainkan… alasan. --- Jasmin yang panik tak memperhatikan langkahnya. Kecipak! Ia menginjak genangan air dalam. Tubuhnya oleng. “A-aku… tabletku rusak, jadi aku beli di mall… Rendra, aku benar-benar takut… kamu bisa datang?” --- Sebelum Rendra sempat menjawab— Suara perempuan terdengar lebih dulu. Ringan. Manja. Sedikit mengejek. “Sekarang ini negara hukum, mana ada bahaya begitu? Kalau memang ada, ya hubungi polisi saja. Anak perempuan memang suka bikin ribet.” Itu suara Bela Sadino. Ia mengangkat gelas ke arah Rendra, tersenyum lebar. “Hari ini ulang tahunku, lho. Kamu sudah janji mau temani aku. Kalau kamu nggak minum, berarti kamu nggak anggap aku teman.” Rendra terlihat ragu sejenak. Namun Bela belum selesai. “Lihat, semua orang juga ada di sini. Masa kamu mau pergi cuma buat jemput seseorang? Nggak enak, kan?” --- Keraguan itu… hilang. Rendra tersenyum ringan. “Iya, iya… aku minum.” Ia meneguk habis isi gelasnya. Bela tertawa puas. “Baru begitu, dong!” --- Tanpa memedulikan apa yang terjadi di seberang telepon— Rendra berkata singkat, datar. “Jasmin, aku habis minum. Nggak bisa nyetir. Kamu pulang saja naik taksi.” Lalu— Tut. Panggilan terputus. --- “Rendra! Rendra!” Jasmin berteriak putus asa. Namun yang menjawab… hanya keheningan. --- Dulu— Rendra adalah segalanya baginya. Mereka tumbuh bersama. Saat di sekolah, Rendra selalu menjaganya. Saat ia kehilangan orang tuanya dan menjadi bahan ejekan—Rendra berdiri di depannya, memaksa para pelaku meminta maaf. Saat ia sakit demam tinggi, Rendra yang berjaga semalaman. Namun— Sejak mereka resmi berpacaran setahun lalu… Semua berubah. --- Bela Sadino. Sahabat perempuan Rendra sejak SMA. Mengaku tidak suka berteman dengan perempuan, selalu bersikap santai dan terbuka. Namun batas di antara mereka… terlalu jauh dilanggar. Jasmin sudah berkali-kali memperingatkan. Tapi setiap kali— Bela akan memancing suasana. Dan Rendra… selalu memihak Bela. Ia menyebut Jasmin terlalu curiga. Terlalu sensitif. Bahkan… kekanak-kanakan. Setiap pertengkaran— Jasmin selalu yang mengalah. Karena ia merasa berutang budi pada keluarga Pratama. --- Namun malam ini— Segalanya terasa berbeda. Hatinya… benar-benar dingin. --- Saat ia hendak menghubungi polisi— Tiba-tiba— Sebuah tangan besar mencengkeram lengannya! “Ah—!” Payung dan tasnya terjatuh. Kilatan petir menyambar— Menerangi dunia sekejap seperti siang hari. --- Jasmin melihat wajah pria itu. Memakai jas hujan hitam. Wajah kasar. Senyum menjijikkan, memperlihatkan gigi kuningnya. Guntur menggelegar keras. Hujan makin menggila. Angin meraung seperti binatang buas. --- “Jangan sentuh aku! Tolong! Tolong!” Jasmin meronta sekuat tenaga. Ia mengayunkan ponsel ke arah kepala pria itu. Namun— Dengan mudah pria itu menepisnya. Ponsel jatuh ke genangan air. --- Pakaian tipis musim panasnya kini basah kuyup. Menempel di tubuhnya. Tatapan pria itu berubah semakin rakus. Gerakannya makin kasar. “Nggak akan ada yang datang menolong kamu… lebih baik kamu nurut saja!” Tawa cabulnya bercampur dengan suara hujan. Hati Jasmin tenggelam dalam keputusasaan. Air mata dan air hujan bercampur di wajah pucatnya. Pria itu meraih pakaiannya— --- Tiba-tiba— Sorot lampu mobil menembus gelap. Silau. Pria itu refleks menutup mata. --- Mobil belum sepenuhnya berhenti— Pintu belakang terbuka. Seorang pria turun. --- Ia mengenakan setelan jas hitam rapi. Posturnya tinggi, tegap, berwibawa. Wajahnya tegas. Tatapannya tajam. Aura seorang pemimpin… terasa begitu kuat. Dalam sekejap— Ia sudah berdiri di depan pria berjas hujan itu. Tanpa banyak kata— Ia mencengkeram kerahnya. Otot lengannya menegang. Urat-urat di tangannya menonjol. Tatapannya dingin— Namun penuh amarah yang membara. --- Buk! Satu pukulan keras mendarat di wajah pria itu. Darah dan gigi berhamburan. Belum cukup— Dugh! Satu tendangan menghantam perutnya. --- “AAARGH!” Pria itu terlempar, berguling di jalan, menjerit kesakitan. Tubuhnya meringkuk, seolah isi perutnya teraduk. --- Di tengah hujan deras— Pria berjas itu berdiri tegak. Seperti bayangan pelindung… yang datang dari kegelapan. Dan untuk pertama kalinya malam itu— Jasmin merasa… ia mungkin selamat. ----- Pria berjas hujan itu memandang sosok di depannya dengan wajah pucat pasi. Aura dingin dan mengerikan yang terpancar dari pria berjas hitam itu… seperti iblis dari neraka. Dengan tubuh gemetar dan menahan rasa sakit, ia bangkit dengan susah payah. Tanpa berani menoleh lagi, ia kabur terbirit-b***t, jatuh bangun di tengah hujan. Bersambung... ​

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
661.9K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.3M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
900.1K
bc

A Warrior's Second Chance

read
318.0K
bc

Not just, the Beta

read
323.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook