Terbiasa hidup merana bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Namun, setidaknya Shasha bisa merasa bersyukur karena ia mampu bertahan dalam keadaan tersulit sekalipun. Kali ini ia beruntung, Alvin benar-benar bermurah hati padanya. Dengan gaji yang ditawarkan oleh restoran itu, Shasha tidak perlu mencari pekerjaan sampingan. Ia bisa fokus mengurus tugas kuliah dan Ain.
Restoran tempat ia bekerja bukanlah restoran mewah, tapi cukup padat dengan pembeli yang silih berganti. Menu yang fokus pada masakan tradisional China, mampu menarik pelanggan lokal maupun manca negara. Berkali-kali Shasha melihat beberapa makanan yang ia sajikan pada pelanggan, ia pun mengakui bahwa pelayanan dan kualitas rasa dari menu yang disajikan memang terlihat memuaskan. Tidak heran jika restoran sederhana itu mampu membuat setiap kursi penuh setiap saat.
Bahkan, hanya melihat daftar menu pun bisa membuatnya tergoda. Banyak menu makanan yang belum pernah ia coba. Ah, mungkin ia bisa memesannya untuk di bawa pulang. Ia yakin Ain akan sangat senang jika mendapati huǒguō dan jiaozi di meja makan mereka. Membayangkan senyuman Ain, tentu membuat hati Shasha menjadi cerah.
Namun, saat ia mengingat kejadian pagi ini, entah mengapa sebuah perasaan khawatir langsung menggelayut di benaknya. Apakah Ain baik-baik saja? Apakah bocah itu sudah makan? Apakah bocah itu menggunakan pakaian musim dinginnya dengan benar?
Pikiran Shasha benar-benar dipenuhi oleh Ain. Bukan sebuah hal yang mengejutkan. Selain menjadi "kakak" untuk Ain, Shasha pun menggantikan peran sebagai seorang "ibu" bagi sang bocah. Shasha tidak keberatan, karena ia pun mentanggap Ain sebagai malaikat mungil yang setia menerangi kehidupannya. Jika ia bisa, ia akan melakukan apa pun untuk Ain agar bocah itu pun bahagia.
Renungan Shasha pecah saat suara pintu masuk yang dibuka, terdengar. Dengan cepat, ia melangkah ke depan pintu masuk untuk menyapa pelanggan.
“Selamat siang, silakan du—”
“Terima kasih,” potong sang pelanggan seraya menatap gemas pada Shasha yang masih belum menyadari sebuah kejanggalan.
Namun, beberapa detik kemudian tatapan mereka bertemu. Saat itu pula Shasha menyadari suatu hal yang membuatnya tak berhenti mengutuk dalam hati. Sang pelanggan sudah melangkah dan duduk di meja yang sebelumnya kosong. Rasanya begitu malas jika ia harus menangani orang yang sama setiap harinya. Kakinya pun terasa begitu berat saat ia memaksakan diri untuk menghampiri dua orang pria yang kini masih duduk santai sembari mengamati buku menu.
Sekali lagi, ia harus bertemu dengan Fabian Lin.
Betapa bosan. Betapa menjengkelkan. Tapi sekali lagi, ia tidak bisa menolak atau setidaknya menampar Fabian karena telah meruntuhkan hari-harinya. Hari pertama ia bekerja tidak boleh berakhir dengan kekacauan. Walau Shasha tahu bahwa kedatangan Fabian membawa kesialan, setidaknya ia harus membuat sebuah sugesti positif untuk menangkal semua itu. Tentu, sugesti positifnya tidak akan mempan jika Fabian berlari ke ruang manager dan menyumpal mulut sang manager dengan segepok uang. Shasha pastikan, pekerjaannya akan tamat seketika.
Melangkah gontai, Shasha mencoba untuk mengabaikan firasat yang mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja. Menekan sumpah-serapah di hatinya, ia pun mencoba untuk tersenyum ramah layaknya ia menyapa pelanggan lainnya. Sayangnya, reaksi Fabian benar-benar membuatnya ingin menjejalkan kaki meja ke bibir tipis sang pria.
“Kau cantik kalau tersenyum,” goda Fabian. “Kenapa kau tidak sering tersenyum saja?”
Untaian kalimat Fabian layaknya tidak sampai ke kelinga Shasha. Atau lebih tepatnya, gadis itu mengabaikan semua ocehan sang pria yang tidak berkaitan dengan daftar menu. Sementara itu, Kiel yang melihat sang tuan muda yang terabaikan dalam hati bertepuk tangan dan menyemangati keberanian Shasha. Ah, betapa bahagia dirinya jika gadis itu benar-benar menjadi menantu keluarga Lin. Tentu saja, Kiel akan merangkul Shasha dan membuat gadis itu menjadi partner in crime-nya untuk menebar garam pada Fabian.
“Apa yang ingin Anda pesan, Tuan?” ujar Shasha, penuh penekanan.
Sang putra tunggal keluarga Lin yang sangat handal mengenai gestur tubuh tentu mengerti akan keyidaknyamanan Shasha. Jika saja mereka ada di kantin perusahaannya, mungkin Fabian akan segera melontarkan serangan balasan hingga wajah Shasha berubah menjadi semerah udang rebus. Kali ini gadis itu beruntung karena Fabian menyadari bahwa tidak baik jika mengibarkan bendera perang di luar zona kekuasaannya. Meletakkan daftar menu, pria itu pun melemparkan senyuman pada Shasha.
“Semuanya,” ujar Fabian.
Terdiam, hingga beberapa saat gadis itu kembali melemparkan senyuman paksa. “Maaf?”
“Aku pesan semua menu di restoran ini,” jawab Fabian, memperjelas kata-katanya.
Apa pria itu kembali mempermainkannya? Shasha tidak bisa menahan pertanyaan demi pertanyaan yang bermunculan dari dalam benaknya. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Fabian Lin. Ah, bukan. Faktanya, ia memang tidak akan pernah bisa mengerti jalan pikiran sang milyuner yang hobi membuang uang layaknya membuang kulit pisang ke tong sampah. Memesan semua menu di restoran untuk makan siang bersama dengan sang asisten bukanlah suatu hal yang lazim. Namun, tentu saja ia tidak melemparkan bantahan.
Mengangguk paham, gadis itu pun menulis pesanan Fabian. “Terima kasih. Mohon tunggu beberapa waktu, kami akan segera menyajikan pesanan Anda.”
Ingin rasanya menarik tangan Shasha agar gadis itu tidak melenggang pergi. Namun, Fabian memilih untuk menahan diri. Ah, tidak. Menurutnya, sekarang bukanlah hal yang tepat untuk membuat ulah dan mengacaukan kedamaian Shasha. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk mendapatkan apa yang ia mau.
Sementara itu, Shasha yang kembali ke dapur untuk menyampaikan pesanan dikejutkan oleh suara ponsel yang berdering. Seketika, tangannya meraih benda kotak yang ada di saku. Sebenarnya, ia ingin menolak panggilan itu. Namun, nama Shannon terpampang jelas di sana. Tentu gadis itu tahu benar sifat sang sahabat. Shannon tidak sering melakukan panggilan dari ponsel. Kecuali jika situasi mendesak dan sangat darurat.
Menipiskan bibir, entah mengapa hati Shasha terasa begitu khawatir. Melangkah ke tempat yang lebih sepi, gadis itu pun langsung menerima panggilan masuk dari Shannon.
“Ada apa, Shannon?” bisiknya, tanpa basa-basi.
“Shasha!” teriak Shannon, terdengar panik. “Ain ... Ain demam tinggi dan harus dibawa ke rumah sakit!”
Mendengar kabar dari sahabatnya, Shasha tak bisa menahan kekhawatiran yang membuncah. Detak jantungnya berdebar lebih cepat hingga dadanya serasa bertalu. Napasnya pun terasa sesak saat kecemasan mulai melanda.
“A—aku akan segera pulang,” bisiknya, menahan air mata. “Aku mohon, tolong jaga Ain dulu.”
Sebelum Shannon menjawab, suara karyawan lain yang memanggil Shasha menginterupsi. “Woi, anak baru! Antarkan pesanan ke meja nomor enam!”
Walau rasanya ingin segera berlari dan menghambur pada Ain, Shasha tidak bisa melakukannya. Jika ia kehilangan pekerjaan, ia tidak akan bisa menebus biaya perawatan Ain.
“Aku akan menjaga Ain,” ujar Shannon. “Jadi, jangan terlalu khawatir hingga mengganggu pekerjaanmu.”
Tersenyum lemah, Shasha merasakan sebutir air mata menetes di pipi. “Terima kasih, Shannon. Aku berhutang banyak padamu.”
Menutup panggilan dari Shannon, gadis itu menghapus setetes air mata yang menghias pipinya. Melangkah gontai, tangannya meraih satu nampan yang berisi berbagai jenis menu makanan. Walau tubuhnya bergerak, tapi pikirannya kini melayang-layang memikirkan kondisi Ain. Jujur, ia sangat tidak tenang.
Sayangnya, walau wajahnya menutupi semua kegelisahan, tangannya masih kehilangan arah karena komando otak yang kini kacau. Tak sengaja, ia menumpahkan sup dan mengenai salah satu pelanggan yang ada di meja itu. Saat tersadar, Shasha langsung memucat dan langsung meminta maaf.
“Ma-maafkan saya!” ujarnya, panik.
Sayangnya, sang pelanggan yang kini telanjur emosi langsung berdiri dan mengebrak meja. Mini dress yang ia kenakan terlihar basah di bagian kanan bawah.
“Enak saja minta maaf! Gajimu setahun pun juga tidak bisa mengganti harga bajuku!” ujar sang pelanggan yang emosi.
Wajah Shasha kian memucat, hingga ia pun kehilangan kata-kata untuk berucap. Masih belum puas, pelanggan itu pun semakin gencar menyerang. Tak peduli dengan semua pasang mata yang menatap ke arah mereka. Walau begitu, tak ada yang mau ikut campur.
“Mana manager restoran ini?! Aku akan mengadukanmu sampai kau dipecat!”
Menunduk diam, Shasha hanya bisa menahan air mata. Ah, mengapa semuanya menjadi kacau? Jika ia juga kehilangan pekerjaan ini, bagaimana ia bisa membayar pengobatan Ain? Ia tidak bisa membela diri, karena faktanya memang ia yang melakukan kesalahan. Jika ia dipecat pun, ia tidak bisa menyalahkan sang pelanggan karena memang semua itu terjadi karena keteledorannya.
Tak lama, hingga manager restoran keluar dan menatap ramah pada sang pelanggan. “Mohon maaf atas kesalahan pelayan di restoran kami. Kami akan menanggung semua kerugian yang Anda derita.”
Mendengus kesal, sang pelanggan menatap tajam pada Shasha. Seolah tidak puas dengan janji yang diberikan oleh sang manager.
“Pecat saja pelayan ini sekalian. Tidak akan ada yang tahu kapan ia akan menyiram pelanggannya lagi dengan kuah sup!” ujar sang pelanggan, ketus.
Sebelum ada jawaban dari sang manager, sosok pria berjas hitam melangkah ke arah mereka. Ia memberi isyarat hingga sang sekretaris berkacamata mengeluarkan dua lembar cek dan memberikannya pada manager restoran dan sang pelanggan.
“Apa maksudnya semua ini? Siapa kau?” sang pelanggan yang tak mengerti, langsung menatap kesal pada Fabian.
Ah, sang pelanggan mungkin tidak mengenal para sosok elit di kota mereka hingga ia berani melempar respon yang sama sekali tidak ramah pada Fabian. Namun, sang manager berbeda. Pria itu langsung mengerti apa yang Fabian maksud dan berusaha untuk menghindari masalah lebih lanjut. Sementara Shasha yang sedari tadi menunduk, kini menatap Fabian dengan pikiran yang masih berhamburan.
“Nona, isi berapa pun yang kau inginkan di cek itu untuk mengganti kerugianmu,” ujar Fabian. Setelah perhatiannya tersita pada sang pelanggan, pria itu pun mengalihkan pandangan pada manager restoran. “Kau juga sama. Isi berapa pun. Aku akan membeli restoran ini. Berkas lainnya, bicarakan saja dengan Kiel.”
Hening. Tidak ada seorang pun yang berani melemparkan balasan. Hingga Fabian menghela napas dan menatap Shasha yang masih membeku. Pria itu tidak heran jika sang gadis kini terlihat begitu kacau. Biasanya ia selalu melempar kata-kata tajam pada Fabian, tapi kini ia terlihat lebih jinak. Ah, bukan. Gadis itu lebih terlihat menyedihkan dari pada "jinak". Ia baru saja tahu semua informasi tentang Ain dari Nathan yang masih mengintai di sekitar rumah Shasha. Tak heran jika gadis itu kehilangan kewarasan saat mengetahui kondisi adiknya.
“Kiel, bawa dia,” ujar Fabian, sebelum melangkah menjauh.
“Baik.”
Entah apa yang terjadi selanjutnya, Fabian tidak terlalu mengindahkan. Yang ia tahu, sang manager berlari untuk mengikutinya dan mengucap terima kasih yang tak ada habisnya, juga Shasha yang kini mengikutinya tanpa bantahan. Entah mengapa, melihat sang gadis yang menjelma layaknya patung berjalan malah membuat hatinya tidak tenang. Ia lebih menyukai Shasha yang selalu melempar kata-kata tajam padanya.
***
Keheningan masih menyelimuti walau kini mereka telah berada di dalam mobil milil Fabian. Shasha duduk di samping Fabian yang kini pikirannya pun masih berkecamuk. Tentu ia khawatir jika gadisnya kehilangan kewarasan karena memikirkan keadaan sang adik. Bibir tipis yang selalu melemarkan tatapan tajam pun masih belum terbuka. Yang dilakukan Shasha hanyalah duduk diam layaknya sebuah patung.
Namun, tiba-tiba bibir mungil itu terbuka. “Tolong bawa aku ke rumah sakit,” ujarnya.
“Kebetulan, tujuanku juga ke sana,” sahut Fabian.
Keduanya tidak mengatakan apa pun lagi sepanjang jalan. Entah mengapa, Kiel yang ada di tempat yang sama dengan keduanya pun merasa tecekik dengan keheningan yang tak kunjung sirna. Ia sendiri pun tidak mencoba untuk membuka percakapan. Saat ia melirik sang tuan muda dari kaca spion, layaknya pria itu pun tidak mempunyai masalah dengan Shasha yang tetap bungkam. Walau begitu, Kiel tahu bahwa sebenarnya sang tuan muda pun khawatir dengan keadaan batin sang gadis.
Saat mereka sampai pun, Shasha tak mengucap apa pun. Gadis itu langsung berlari ke pintu masuk rumah sakit. Baik Fabian dan Kiel hanya bisa saling menatap sebelum mengikuti sang gadis. Namun, yang mereka lihat selanjutnya hanyalah Shasha yang berbicara dengan seorang gadis dengan air mata yang terurai. Fabian mengamati sang pujaan hati dari kejauhan dan menyadari bahwa ia baru saja melihat sisi lain dari seorang Shanaya Yin. Gadis itu selalu terlihat tegar, tapi saat ia benar-benar dilanda pergolakan batin yang cukup berat hanya air mata yang bisa mewakilkan kesedihan. Ya, walau bagaimana pun Shasha masih seorang gadis rapuh yang mencoba untuk bertahan dalam kerasnya dunia.
“Tuan Muda, apa yang akan kita lakukan sekarang?” ujar Kiel seraya menatap Fabian yang masih membeku di tempat.
Pria itu pun menghela napas dan berjalan ke ruang tunggu. “Cari detail tentang keadaan Ainar Yin. Laporkan segera padaku. Aku akan mengawasi gadis itu dari kejauhan.”
Kiel mengangguk paham. Namun, sebelum ia menjalankan tugas, ia menoleh ke arah Fabian lagi dengan wajah canggung. “Anu ... Anda tidak kembali ke kantor? Meeting dengan—”
“Tunda. Kau tidak lihat betapa khawatirnya aku dengan kewarasan Shanaya Yin? Gadis itu bahkan menjadi patung walau dia ada di sampingku selama hampir tiga puluh menit!” potong Fabian. “Aku tidak bisa mempercayai semua ini!”
Menghela napas, rasanya Kiel ingin menepuk jidat. Sayangnya, ia tidak akan menang walau berdebat dengan Fabian sekalipun. Entah apa yang sang tuan muda khawatirkan. Selama ini pria itu selalu membuat Shasha tertekan. Namun, saat melihat wajah sedih sang gadis, pria itu langsung khawatir setengah mati. Sungguh, apakah semua ini karena kepalanya saja yang tak bisa mengerti jalan pikiran seorang Fabian Lin? Ataukah memang kepala Fabian yang memang harus direparasi?
“Kenapa masih di sini?” sentak Fabian. “Kau tidak dengar aku memberimu tugas?”
Tersenyum kecut, Kiel pun membenahi kacamatanya. Ingin rasanya melemparkan balasan ketus untuk sang tuan muda. Namun, Kiel menahan diri untuk tidak berkata seenak jidatnya. Ah, jika bukan karena melindungi bonus tahunan, ia tidak akan segan melempar kata-kata pedas pada Fabian. Entah dosa apa yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya hingga sekarang ia mendapatkan bos se-sinting Fabian Lin.