Chapter 8

1509 Kata
Hidupnya sudah penuh air mata. Tak jarang ia terombang-ambing dalam keputusasaan dan kesedihan yang tak kunjung sirna. Selama ini ia tetap bertahan walau dunia selalu menghempasnya. Meremukkan semua tiang penopang yang memberinya semangat untuk tetap hidup di dunia ini. Walau begitu, ia masih tetap bertahan. Karena ia masih memiliki tangan mungil yang selalu mengulurkan tangan saat ia mulai lelah untuk bangkit. Saat terakhir hatinya terasa begitu gundah tak menentu adalah saat ibunya berpulang. Rasanya bagaikan ribuan jarum yang menusuk jantungnya berulang hingga remuk tak berbentuk. Perlu waktu beberapa bulan untuk mengembalikan kewarasan. Dan tentu, semua itu bukanlah hal yang mudah bagi Shasha. Rasanya ... ia hampir gila karena kesedihan yang tak terbendung. Ia selalu berdoa agar kejadian semacam itu tidak akan pernah terulang. Namun, kini semua harapan itu terhempas begitu saja. Kabar tentang Ain benar-benar menguras tenaga dan emosinya. Lemas, tubuhnya tak memiliki tenaga. Hancur, hati yang semula tabah kini pecah tak berbentuk. Ia tidak bisa memungkiri bahwa kekhawatirannya melanda, merobek kewarasan hingga tidak ada lagi yang tersisa. Ia tidak peduli jika pekerjaannya terancam, atau Fabian Lin yang kembali menjungkir-balik hari-harinya. Fokusnya hanya pada Ain. Pada keselamatan Ain. Hampir tiga puluh menit bersama Fabian memang terasa mencekik jika ia dalam keadaan biasa. Namun, kini pikirannya kacau dan hanya ada kekawatiran tentang adik kecilnya. Bibirnya bungkam, tatapannya kosong layaknya boneka. Namun, hatinya tak berhenti mengucap doa untuk keselamatan saudaranya yang ia sayangi. Saat mereka tiba di rumah sakit, kakinya otomatis melangkah cepat ke arah pintu depan rumah sakit. Mengabaikan kebaikan Fabian dan Kiel yang mengantarnya tanpa menarik imbalan. Di sana, sang sahabat telah menunggu dengan raut kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya. “Shannon,” bisiknya, lirih. Sahabatnya langsung menoleh, saat Shannon mendapati Shasha berdiri tak jauh darinya. Keduanya langsung saling memeluk dan menumpahkan air mata. “Maafkan aku! Seharusnya aku menyadari keadaan Ain lebih cepat agar ia tidak terlambat mendapat perawatan!” ujar Shannon. Seketika, Shasha menggeleng. Semua ini bukan salah Shannon. Justru ia adalah orang yang paling bisa disalahkan karena ia yang mengabaikan tanda-tanda sakit Ain. “Bukan kau yang salah, tapi aku,” balas Shasha. “Di mana Ain sekarang?” Melepas pelukan, Shannon pun menyeka air mata. “Dokter sedang menanganinya.” “Bisakah kau mengantarkanku ke ruangan Ain dirawar?” Mengangguk pasti, Shannon pun memandu Shasha untuk mengunjungi ruang Ain dirawat. Keduanya menunggu di depan ruangan, hingga akhirnya sang dokter pun keluar dan memberikan penjelasan tentang keadaan Ain. Dokter mengatakan bahwa Ain menderita demam thypoid. Sebuah penyakit yang memang jarang ditemukan saat musim dingin. Sayangnya, penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi bakteri Salmonella sp. tersebut tidak bisa diobati dalam waktu yang singkat. Memerlukan beberapa tahap diagnosa dan juga terapi antibiotik yang memakan banyak waktu. Jika dibiarkan pun hasil akhirnya tidak akan seperti demam biasa yang bisa datang dan pergi jika waktunya telah tiba. Demam thypoid akan menimbulkan komplikasi dan infeksi berulang jika tidak mendapatkan perawatan yang tepat. Atau bisa jadi, penyakit itu akan menjadi penyakit kambuhan menahun yang tentunya sangat menyiksa sang pasien. Tentu saja, Shasha yang mendengar berita tersebut langsung melemas. Bibirnya menipis, menahan kegelisahan yang melanda. Setelah sang dokter melangkah pergi, gadis itu menatap Ain yang kini terbaring di ranjang ruang rawat inap. Tangannya menyentuh lembut tangan Ain, memberikan sebuah kekuatan agar bocah itu tetap tegar. Shannon yang melihat sang kakak-beradik hanya bisa membelai lembut punggung Shasha. “Ain anak yang kuat,” bisik Shannon. “Dia akan baik-baik saja.” Mengangguk pelan, Shasha pun tersenyum lemah. Berbagai macam pikiran pun bergentayangan dalam benaknya. Ia benar-benar tidak ingin memikirkan hal buruk. Pikirannya kini berusaha untuk mengalihkan tema, memikirkan hal yang bisa membuatnya kembali merajut semangat hidup. Ya, yang harus ia temukan adalah penyelesaian dari cobaan yang Tuhan berikan. Ain harus sembuh! Apa pun yang terjadi, Ain harus sembuh! Berapa pun biayanya, ia akan berusaha! Sebuah dering ponsel menggema, membuyarkan ratapan Shasha. Gadis itu menoleh ke arah sahabatnya yang kini sibuk mengambil ponsel di tas. Sejenak, raut wajah Shannon tidak menunjukkan sebuah perubahan yang berarti. Namun, setelah beberapa detik berlalu, ekspresi wajah gadis itu langsung berubah menjadi lebih serius. “Aku bilang aku tidak mau pulang sebelum—” Shannon menghentikan kata-katanya, hingga akhirnya gadis itu menutup telepon dengan raut wajah yang menyiratkan sebuah ketidaksukaan. Shasha tidak berani mengucap sepatah kata. Namun, tanpa diminta pun Shannon akan menjelaskan semuanya pada Shasha. Menoleh, gadis itu menepis semua ekspresi yang ia gunakan sebelumnya. Saat ia menatap Shasha, saat itu pula senyum kecutnya mengembang. “Shasha, untuk masalah biaya pengobatan Ain ... aku tidak bisa membantumu karena—” “Ayahmu memblokir kartu-mu?” potong Shasha, menebak. Menghela napas, Shannon pun mengangguk lesu. Di sisi lain, Shasha memang telah menduga bahwa hal semacam ini akan terjadi. Entah mengapa, ada sebuah kelegaan karena faktanya ia tidak akan merepotkan sahabatnya kali ini. Ia memang tidak ingin Shannon terus-memerus memanjakannya. Shasha sudah berhutang banyak pada gadis itu. “Tapi jangan khawatir! Aku akan segera pulang dan membujuk ayahku untuk mengembalikan tabunganku!” seru Shannon dengan penuh semangat. “Kau tidak perlu khawatir, Shasha. Aku akan membereskan semua secepatnya.” Menoleh, Shasha menatap punggung Shannon yang kini melangkah menjauh dan akhirnya hilang di balik pintu. Seketika, bibirnya menipis. Ia tidak akan bisa tenang walau Shannon kembali membantunya sekalipun. Ia tidak ingin terus-menerus menjadi beban pada orang sekitarnya. Terutama Shannon dan Alvin. Ia sudah cukup banyak merepotkan keduanya. Kini ... saatnya ia mengambil langkah untuk dan berusaha dengan kemampuannya sendiri. Tidak. Lebih tepatnya ... ia akan mengorbankan dirinya sendiri. Menghela napas, gadis itu mengingat kata-kata Shannon. Sebuah kata-kata yang mampu membuka hatinya dan menyadari satu hal ... berkorban bukan berarti sebuah kekalahan. Jika semua itu diperlukan untuk merekahkan senyuman pada orang yang kita sayangi, pengorbanan adalah penebusan yang setimpal. “Untuk apa mempertahankan jalan yang kau yakini jika orang-orang yang kau sayangi terluka? Aku lebih memilih untuk mengorbankan diriku sendiri agar orang-orang yang aku sayangi hidup bahagia.” Selama ini, Shasha selalu ada di jalan yang ia yakini. Ia berpegang teguh pada apa yang isi hatinya katakan. Namun, jika dihadapkan dengan hal semacam ini ... ia tidak akan mungkin mempertahankan ego dan mengabaikan Ain. Helaan napasnya pun terdengar, sebuah pencerahan kini merasuk dalam jiwanya untuk menjernihkan pikiran. Memikirkan satu jalan tercepat untuk Ain, yang terlintas di pikirannya hanya satu hal. Saat pintu ruang rawat terbuka, saat itu juga Shasha menoleh dan menatap pada sepasang manik kelam yang selama ini terus membayang. Fabian Lin, kini melangkah masuk dan duduk di sampingnya. Pria itu sejenak menatap Ain yang masih tertidur, hingga akhirnya ia menatap Shasha dan melayangkan seulas senyuman. “Kau bisa berubah pikiran,” ujar Fabian. “Dan tentu saja ... adikmu juga akan aku berikan pelayanan spesial.” Bungkam. Shasha tak mampu menjawab. Walau hatinya telah menetapkan tapi untuk mengungkap semua jawaban bukanlah hal yang mudah. Di sisi lain, Fabian masih setia menunggu. Pria itu tahu kondisi Ainar dan memanfaatkan semua itu untuk membuat Shasha mengiayakan lamarannya. Terbukti, Ainar adalah senjata yang ampuh untuk melelehkan kekeraskepalaan Shanaya. “Apa ... kau janji akan menyembuhkan Ain?” bisik Shasha. Di tilik dari keadaan Ain, bocah itu memang memerlukan pengobatan lebih lanjut. Dan tentu, semua itu bukanlah hal yang murah. Shasha paham akan hal ini. Jika ia bisa menghasilkan uang pun, semua akan masuk ke biaya perawatan Ain tanpa ada sisa uang untuk bertahan hidup sehari-hari. Walau ia bisa memberikan perawatan tepat untuk Ain, tapi ia tidak akan bisa memberi makan Ain makanan yang bergizi untuk memulihkan diri dari sakitnya. Dan itu bukanlah hal yang ia inginkan. Jika ia menyerahkan diri pada Fabian, setidaknya Ain bisa mendapatkan keduanya. Bagi Fabian pun semua itu bukanlah syarat yang susah. Entah satu Ain, dua Ain, atau sepuluh Ain, ketebalan dompetnya tidak akan berkurang walau ia merawat puluhan Ain yang sakit sekalipun. Sedikit yang Shasha tahu bahwa rumah sakit itu pun bagian dari perusahaan Fabian. Mengulurkan tangan, pria itu menepuk bahu Shasha dan tersenyum. “Entah itu Ain atau kau, aku akan menjamin hidup dan kebahagiaan kalian. Jangan terlalu negatif thinking padaku. Semua yang aku lakukan didasari oleh niat baik yang tulus.” Terdiam, Shasha tidak akan mengungkit bagaimana kondisi batinnya saat Fabian mempermainkan kehidupannya. Ia tahu, semua kata-kata pria itu memang ada benarnya. Manik pria itu sama sekali tidak menyembunyikan sebuah kebohongan. Walau memang kelakuan Fabian di luar batas normal, tapi Shasha akui ... pria itu benar-benar berbelas kasih padanya. Menarik napas, Shasha pun mengambil satu keputusan yang benar-benar akan merubah hidupnya seratus delapan puluh derajad. “Tolong ... jangan pernah membuatku menyesal karena setuju untuk menikah denganmu,” ujar Shasha dengan bibir yang bergetar. Saat itu juga, Fabian membeku. Namun, yang pria itu lakukan selanjutnya di luar dugaan Shasha. Senyuman secerah mentari pagi merekah di rahang pria itu. Untuk pertama kalinya, gadis itu melihat senyuman Fabian yang berbeda dari biasanya. Kali ini ... senyuman itu benar-benar membuat hatinya hangat. “Pria yang kau nikahi ini bukanlah pria murahan. Satu sumpahku di depan altar, akan aku bawa sampai mati,” ujar Fabian penuh ketetapan hati. Dengan begitu, takdir mereka pun mulai terajut. Sebuah titik balik dari kehidupan pun di mulai saat dua cerita menjadi satu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN