Sebelumnya, tak pernah sekalipun terpikir bahwa kehidupan bak Cinderella dalam negeri dongeng telah menunggunya. Menjungkir-balik semua duka yang menghadang. Namun, apakah semua itu adalah takdir yang cocok untuknya? Akankah akhir dari kisah hidupnya pun seindah para putri di negeri dongeng yang dipinang oleh pangeran pujaan hati mereka dan hidup bahagia selamanya? Mungkin jika apa yang Fabian lakukan padanya diketahui oleh publik, semua orang akan mengatakan bahwa ia adalah wanita paling beruntung di muka bumi. Mendapatkan pria idaman macam Fabian Lin tentu bukanlah hal yang mudah. Shasha tahu akan hal itu. Karena itulah semua pemikiran negatif kini bermunculan dalam benaknya, mempertanyakan semua takdir yang akan ia jalani. Bagaimana bisa Fabian tertarik pada wanita biasa sepertinya? Apakah pria itu hanya ingin bermain dengannya, lalu membuangnya begitu saja setelah pria itu bosan? Menipiskan bibir, memikirkan hal semacam itu membuat air matanya menggenang. Jika semua yang ia pikirkan akan menjadi nyata di masa depan, ia tidak akan bisa melakukan apa pun. Faktanya, Shasha menyetujui lamaran Fabian hanya untuk Ain. Hanya untuk kesehatan Ain. Sejak awal, tidak ada hal spesial yang mekar dalam d**a mereka. Tidak ada kaitan batin atau benang merah yang mengikat keduanya. Lalu apa yang bisa ia harapkan?
Sebuah pernikahan normal yang menjadi idaman pasangan yang saling mencintai bukanlah hal yang bisa ia wujudkan. Tidak, semua itu terlalu jauh walau hanya sekadar untuk diimpikan. Jangankan menjadi pasangan normal, bahkan untuk sekadar melirik Fabian pun Shasha ragu. Gadis itu tidak tahu apa tujuan Fabian menikahinya. Namun, Shasha yakin akan satu hal, sebuah ketertarikan dari lubuk hati yang terdalam bukanlah hal utama yang mendasari perlakuan Fabian padanya. Keputusan untuk menikahi Fabian adalah keputusannya sendiri. Keputusan yang harus ia lakukan untuk mengenyahkan belenggu takdir yang selalu menindasnya dan juga Ain. Ia telah mengikhlaskan semuanya. Ia rela menjadi istri dari Fabian Lin dan hidup dalam sangkar emas tanpa adanya cinta. Hatinya berusaha untuk menerima semua itu. Namun, mengapa ia sama sekali tidak bisa menahan air mata yang kini terkumpul di pelupuk matanya? Mengapa jemarinya tidak bisa berhenti bergetar?
Menunduk, yang bisa ia lakukan hanya menahan perih dan sesak di d**a. Ah, ia harap keputusannya kali ini bukanlah keputusan yang salah. Ia harap ... walau tidak ada cinta dan kasih, Fabian bisa memberikan seberkas harapan untuknya dan juga Ain. Sayangnya, sekuat apa pun ia menahan, air mata yang kini menuntut untuk ditumpahkan tak lagi bisa dibendung. Jatuh menetes, menjadi saksi bisu atas hati yang kini dilanda pilu.
“Menikahi pria asing yang belum kau kenal memang menyesakkan,” ujar Fabian yang diam-diam mengamati gerak-gerik Shasha.
Pria itu duduk di depan sang gadis dengan membawa beberapa dokumen di tangan. Fabian sendiri tidak merasa tersinggung saat Shasha terlihat tidak begitu ikhlas menerima dirinya sebagai seorang suami. Caranya mendapatkan Shasha memang bisa dibilang kelewatan, hanya saja ia tidak bisa memikirkan cara lain untuk membuat sang gadis setuju untuk menghabiskan sisa hidup bersamanya. Karena kesan pertama yang begitu buruk, jangankan membuat Shasha jatuh cinta, membuat kesan baik pun akan begitu sulit.
“Menangislah jika kau ingin menangis,” ujar Fabian. “Aku tidak akan menjanjikan apa pun karena aku akan membuktikan bahwa aku memang berniat tulus dan ingin membahagiakanmu.”
Sang gadis mengusap air mata yang jatuh di pipi dan menatap sayu pada Fabian. Menipiskan bibir, Shasha tak mengerti saat ia tidak menemukan sedikit pun sebuah tanda akan kebohongan di wajah Fabian. Pria itu terlihat serius dengan ucapannya. Tak lama hingga Fabian menyerahkan sebuah buku kecil bersampul merah, bukti dari ikatan pernikahan mereka. Memang, setelah Shasha setuju untuk menikah dengan Fabian, pria itu sibuk mengurus dokumen-dokumen untuk mengesahkan ikatan mereka. Hanya saja, Shasha tidak menyangka bahwa semuanya akan terjadi dengan begitu cepat. Dan sekarang, statusnya pun sudah menjadi bagian dari keluarga Lin.
“Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita. Untuk cincin dan resepsi—”
“Itu ... tidak perlu,” potong Shasha. Seketika, Fabian terdiam. Hingga kemudian pria itu menghela napas.
“Aku berniat menikahimu secara resmi. Aku bahkan tidak sabar untuk menyampaikan kabar bahagia ini pada semua orang.”
Tersenyum lemah, entah mengapa Shasha mendapati apa yang Fabian katakan terdengar begitu lucu. “Kau hanya akan membuat citramu turun dengan menikahi wanita tak berstatus sepertiku.”
“Apa itu penting?” sahut Fabian, tak sabar. “Mau berstatus atau tidak, hanya kau yang ingin aku nikahi. Bukan yang lain.”
Apa yang Fabian katakan memang terdengar manis, hanya saja logika Shasha menyangkal semua kata-kata Fabian. Hatinya masih belum bisa melihat sebuah ketulusan sang putra tunggal keluarga Lin. Jika pria itu benar-benar ingin mengumumkan pernikahan mereka pun, semua kehidupan damainya akan usai seketika. Shasha tidak ingin mengambil risiko jika masa depan pernikahan mereka pun belum mempunyai kepastian. Lebih sedikit orang yang mengetahui pernikahan mereka, maka akan menjadi lebih baik.
“Aku hanya meminta satu hal,” bisik Shasha. “Aku hanya ingin kehidupanku yang damai tidak terusik. Jadi tolong ... aku ingin pernikahan kita dirahasiakan.”
Masuk akal. Keluarga Lin memang terkenal sebagai pengaruh besar di negara mereka. Jika identitas nyonya Keluarga Lin terungkap, kehidupan Shasha tentu akan mengalami guncangan hebat. Baik dari sisi negatif maupun positif. Seseorang yang telah terlibat dengan Keluarga Lin, setiap mereka melangkah, semua tatapan akan tertuju pada mereka. Mungkin saja, Shasha tidak menginginkan semua perubahan itu terjadi.
Walau sebenarnya Fabian kecewa, pria itu memutuskan untuk menghormati permintaan Shasha dan mengangguk.
“Katakan padaku jika suatu saat kau berubah pikiran.”
***
Menatap dokumen di tangannya, entah mengapa hati Fabian terasa kosong walau Shasha kini telah berada dalam genggaman tangannya. Gadis itu kini telah berada di dalam daftar keluarga Lin, dan di bawah pengawasannya. Hanya saja, tingkah laku sang gadis yang terasa begitu jauh darinya membuat hati Fabian terasa terusik.
“Tuan Muda, selamat atas pernikahan Anda,” ujar Kiel seraya tersenyum lebar. “Apakah Anda sudah menbuat detail tipe resepsi yang Anda inginkan?”
Seketika, Fabian menghela napas. Pria itu membanting tubuhnya di sofa empuk dan menengadahkan kepala, menatap langit-langit ruang santai di apartemennya. Sebuah perasaan gundah kini menelan kewarasannya. Melihat Shasha bertekuk lutut karena dipaksa oleh keadaan nyatanya bukanlah hal yang membuatnya bangga, justru sebaliknya. Padahal selama ini Fabian selalu mendapatkan apa pun yang pria itu inginkan dengan segala cara. Namun, mengapa kali ini ia tidak merasakan sebuah kepuasan saat Shasha menyerah dan memilih untuk mengikuti kemauannya?
“Istriku tidak menginginkan resepsi,” ujar Fabian. Manik kelam pria itu langsung beralih pada sang asisten. “Dia ingin merahasiakan pernikahannya denganku.”
“Ah, merahasiakan pernikahan ya," ucap Kiel, belum menyadari bahwa semua yang dikatakan oleh Fabian adalah bencana untuk mereka. Benar saja, setelah pria itu sadar, maniknya membulat sempurna.
“Tunggu. Merahasiakan pernikahan??” Kiel mencoba untuk memastikan bahwa telinganya masih berfungsi dengan baik.
Tentu saja sang pria berkacamata kaget. Shanaya Yin memang luar biasa. Di saat semua wanita berharap Fabian membawa mereka ke altar untuk mengucap sumpah pernikahan, yang gadis itu lakukan malah membuang kesempatan emas untuk meraih keuntungan dengan marga Lin yang kini ia sandang. Entah apa yang harus Kiel katakan, ia bahkan tidak tahu Shasha hanya naif atau memang bodoh.
Sementara itu Fabian yang sedari tadi terdiam hanya bisa menyandarkan tubuh berbalut jas hitamnya ke kursi ruang kerja. Pria itu membuang pandangannya ke lantai bermotif kayu. Memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk membuat Shasha memberikan sedikit kepercayaan untuknya. Mengabaikan fakta bahwa apa yang ia lakukan pada Shasha tentu bisa membuat sang kakek murka.
Ah, mungkin bagi Fabian semua permintaan istrinya pun masuk akal. Jika mereka mengumumkannya saat itu juga, mungkin semua orang akan menimpa Shasha dengan tuduhan negatif semacam w*************a tunangan orang lain. Pria itu bahkan melupakan fakta bahwa ia masih terikat dengan tunangannya. Helaan napas terdengar, Fabian pun kini memikirkan cara bagaimana ia bisa menyingkirkan tunangannya terlebih dahulu. Tentu, ia akan membuanf semua orang yang menjadi kendala dalam hubungannya. Lebih cepat, lebih baik.
“Merahasiakan pernikahan bukanlah masalah besar,” ujar Fabian. “Akan ada waktu di mana dia akan menyerah dan tak mempunyai pilihan lagi selain membongkar hubungan kami.”
“Ta-tapi Anda satu-satunya pewaris keluarga Lin! Bagaimana bisa Anda menikah hanya dengan—”
“Yang lebih penting adalah Rhea,” potong Fabian. Jujur, pria itu lebih memikirkan bagaimana cara mengakhiri pertunangannya dengan Rhea Zhao. “Jika kami mengumunkan pernikahan saat aku masih berstatus tunangan Rhea, nama baik Shasha akan langsung ternoda."
Kiel terdiam. Namun, pria itu pun mengerti bahwa apa yang dikatakan Fabian adalah sebuah kebenaran. Berdeham sejenak, sang pria berkacamata pun mengubah fokusnya.
“Saya akan menyampaikan berita ini pada Tuan Besar.” Menggeleng, Fabian layaknya tak menginginkan Kiel menjalani hari-hari buruk setelah menghadapi kakeknya. Alih-alih menyetujui, Fabian tersenyum tipis seraya bangkit dan merapikan jas.
“Aku sendiri yang akan menyelesaikan masalah ini dengan Pak Tua itu. Tugasmu hanya mengawasi dan mengurus kebutuhan Shasha dan melaporkan jika ada hal yang sekiranya perlu dilaporkan.”
Walau enggan, namun Kiel hanya bisa menipiskan bibir dan mengangguk paham.
“Baik.”
Dalam hati, sang pria berkacamata berdoa agar tidak ada perang besar antar anggota keluarga Lin di masa depan.