Chapter 10

1802 Kata
Hari pertama ia tinggal di apartemen Fabian bukanlah hal yang bisa membuatnya jenak. Walau disuguhi oleh fasilitas yang begitu lengkap dan mewah, entah mengapa Shasha masih tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya. Wajar memang jika ia memerlukan waktu lebih untuk beradaptasi, menunggu hatinya mengikhlaskan pernikahannya dengan Fabian yang begitu mendadak pun bukanlah hal yang mudah. Apalagi kini ia harus melatih dirinya sendiri sebagai istri dari Fabian Lin. Pernikahan mereka didasari dengan simbiosis mutualisme, tentu Shasha tidak berencana untuk mengabaikan suaminya. Seharian ia berada di kamar tamu. Saat ia mengatakan ingin kembali ke rumahnya untuk mengambil barang-barang, Fabian mengatakan bahwa ia tidak perlu melakukannya. Sebagai gantinya, Fabian mengatakan bahwa Shasha hanya perlu duduk manis di kamar tamu sembari menunggu Kiel menyiapkan semua kebutuhannya. Entah apa yang pria itu maksud. Namun, alih-alih menolak, Shasha hanya bisa mengangguk patuh. Sang suami bahkan mengabarkan bahwa Ain telah dipindahkan ke ruang VIP dan kondisinya pun sekarang sudah semakin membaik. Semua itu memunculkan kembali kebahagiaan Shasha yang sempat hilang. Karena tujuan terbesarnya adalah kesehatan Ain Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Shasha. Menoleh, ia mendapati sosok pria berkacamata yang muncul dari balik pintu kamar. Kiel menyapa dengan seulas senyum ramah yang dilemparkan pada nyonya muda keluarga Lin. Sejatinya, Kiel pun merasa bahagia saat Shasha menerima lamaran Fabian. Hanya saja, pria itu juga merasa iba saat mengingat alasan sang gadis setuju menikah dengan tuan mudanya. Pernikahan Shasha dengan Fabian sendiri bukanlah hal yang terlalu buruk. Yang lebih mengkhawatirkan adalah tingkah laku Fabian Lin yang luar biasa. Tentu, Kiel selalu berdoa agar Shasha mampu menghadapi kelakuan putra tunggal keluarga Lin agar pernikahan keduanya tetap awet. Bukan tanpa alasan, Kiel mengakui bahwa Shasha memang berbeda dengan para gadis lain yang mendekati Fabian dengan rayuan murahan. Selama ia ada di sisi Fabian, hanya Shanaya Yin seorang yang mampu membuat sang tuan muda kalang-kabut. Tentu penemuan langka itu adalah hiburan sendiri di mata Kiel. Kembali, kini sang asisten keluarga Lin melangkah masuk dan menatap Shasha yang masih duduk di tepi ranjang. “Tuan Muda ingin berbicara dengan Anda,” ujar Kiel seraya mempersilakan Shasha untuk keluar dari kamar. Gadis itu tidak banyak bertanya. Hanya diam dan menurut, layaknya boneka yang menaati perintah sang tuan. Namun, nyatanya pikirannya kini berhamburan. Memikirkan berbagai macam kemungkinan yang membuat hatinya resah. Masalah hubungannya dengan Fabian bukanlah hal yang sepele. Ingatannya memutar kembali tentang pembicaraannya dengan Fabian sebelumnya. Pernikahan mereka memang perlu dirahasiakan. Namun, untuk melakukan semua itu, ia memerlukan persiapan matang untuk mengarang sebuah kebohongan. Orang lain mungkin akan percaya dengan sedikit cerita palsu yang ia gunakan sebagai alasan, tapi semua itu tidak akan mempan untuk Alvin dan Shannon. Kepalanya pun mulai berpikir keras untuk mencari cara agar semua rahasiannya tidak diketahui atau dicurigai Alvin atau Shannon. Ia yakin, jika keduanya menemukan hal yang mencurigakan, mereka akan langsung mendesaknya untuk meminta sebuah penjelasan. Sebelum ia menemukan sebuah solusi, ia sudah memasuki ruang tengah. Sosok sang suami yang duduk di sofa dengan balutan kemeja abu-abu, langsung menyita perhatiannya. Shasha sendiri tak menunggu untuk dipersilakan, gadis itu mengambil tempat di depan Fabian. Duduk manis, menunggu suaminya mengawali pembicaraan. Namun, alih-alih mengawali pembicaraan, Fabian malah meletakkan beberapa kartu di depan Shasha. Seketika, senyuman sang putra tunggal keluarga Lin merekah. “Itu kartu debit dan kredit, kau bisa menggunakannya sesuka hatimu,” ujar Fabian, masih dengan senyuman. Di siai lain, Shasha yang mendengar pernyataan Fabian hanya bisa terdiam dengan benak yang menebak-nebak motif sang suami. Hingga akhirnya gadis itu menghela napas dan mendorong kembali kartu yang ada di depannya. Apa pun itu, ia memang tidak ingin membiasakan diri bermanja-manja dengan uang orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. “Aku bisa bekerja,” ujar Shasha yang langsung disambut dengan tatapan tak suka dari Fabian. “Kau tidak perlu sungkan, aku tidak akan bangkrut walau kau membeli jet pribadi atau pulau pribadi sekalipun,” balas Fabian. “Jika kau tidak bisa berpikir semua ini untukmu, maka lakukanlah semua yang aku katakan untuk keluarga Lin. Apa kata orang jika mereka tahu nyonya keluarga Lin dibiarkan bekerja di luar sana? Tentu, kau tahu semua itu bukan hal yang pantas untuk didengar.” “Mereka bahkan tidak tahu kau sudah menikah. Kalau pun mereka tahu kau menikah, tidak akan ada yang menyangka kalau istrimu itu aku,” ujar Shasha, tak mau kalah. “Kau hanya perlu fokus pada Ain. Aku ingin lebih mandiri agar aku tidak bergantung pada orang lain lagi.” Ya, Shasha tidak ingin merepotkan orang lain. Ia ingin bangkit dengan tangannya sendiri, bukan dari belas kasihan orang lain. Sekarang, ia mungkin masih belum bisa berdiri sendiri. Namun, ia ingin suatu hari ia bisa berdiri tegap dengan perasaan bangga dengan sebuah pencapaian hidup yang ia raih dengan tangannya sendiri. Sebuah kebebasan, sebuah penghormatan, dan sebuah pengakuan. Ia akan menjadi sosok yang bisa dibanggakan dan sosok yang bisa mengulurkan tangan untuk orang yang membutuhkan. “Apa salahnya bergantung pada suamimu sendiri?” Menghela napas, Shasha menatap lesu pada Fabian. “Tidak akan ada yang tahu masa depan. Bisa jadi kau akan mencampakkanku dan membuangku saat kau sudah bosan dan menemukan wanita yang lebih cantik, atau bisa juga—” Kata-kata Shasha terpotong oleh tawa Fabian. Gadis itu langsung mengernyit dan menatap heran pada suaminya. Apa yang lucu? Apa yang salah dengan kata-katanya? Hampir semua pria kaya memiliki wanita simpanan, dan itu memang fakta yang tak terbantahkan. Jika bisa mendapat dua, mengapa harus satu? Tentu kalimat itu membuat Shasha geram atas perilaku para pria berdompet tebal yang hanya memikirkan jidat mereka sendiri. Semua itu membuat Shasha waswas jika Fabian mungkin satu tipe dengan para pria berdompet tebal tapi minim akhlak. “Ah, kepala imutmu itu selalu saja membuatku geli,” ujar Fabian. “Baiklah, jika kau ingin lebih mandiri aku akan membantumu.” Pria itu mengisyaratkan agar Kiel mengambil sesuatu. Seperti biasa, sang asisten berkacamata hanya mengangguk patuh sebelum berjalan keluar ruangan. Manik kelam sang tuan rumah pun kembali terfokus pada istri mungilnya. Menahan rasa geli yang menjalar di hati. Entah ide dari mana gadis itu menuduhnya akan selingkuh di masa depan. Jika Fabian memang tipe pria yang hobi lari ke pelukan wanita satu ke yang lain, ia tidak akan mungkin menjadi Fabian yang sekarang : nol besar dalam hal percintaan. Ya, seumur hidupnya ia tidak pernah mencintai atau berkencan dengan wanita lain. Bahkan Rhea Zhao, sang tunangan pun tidak pernah berkencan dengannya. Bahkan berkunjung pun jarang. Fabian tidak pernah membawa pulang seorang wanita ke dalam apartemennya. Namun, untuk pertama kalinya ia membukakan pintu untuk seorang gadis. Ya, Shanaya Yin adalah gadis pertama yang menarik perhatiannya. Gadis pertama dan yang terakhir yang ia inginkan untuk tetap berada di sisinya. Mendapatkan Shasha bukanlah hal yang mudah, ia bukan pria bodoh yang akan melepas gadisnya tercinta begitu saja demi gadis lain yang melemparkan diri secara sukarela padanya. “Apa pun yang kau pikirkan tentangku, semua itu tidak benar.” Fabian memecah keheningan. “Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” ujar Shasha mengulangi frasa sebelumnya, tak menerima sanggahan Fabian. Tersenyum, pria itu menyandarkan dagu di tangannya dan memfokuskan pandangan pada Shasha. “Tapi aku tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kau dan aku, akan hidup berbahagia bersama anak-anak kita.” Beku. Entah mengapa Shasha merasakan ketidaknyamanan saat ia mendengar pernyataan Fabian. Membayangkan hidup bersama Fabian saja sudah menguras batin, bagaimana bisa pria itu langsung menyinggung tentang keturunan di hari pertama pernikahan mereka? Beruntung, sebelum Shasha menanggapi lebih lanjut, Kiel datang seraya menyerahkan beberapa dokumen. Fabian sendiri langsung meneliti kata demi kata yang tertulis dalam dokumen. Membuat Shasha terdiam, tak mengerti apa yang mereka berdua diskusikan. Tak lama, hingga Fabian mengakhiri diskusi dengan Kiel. Pria itu menyerahkan beberapa dokumen di tangannya pada Shasha, mempersilakan sang istri membacanya dengan saksama. Setelah membacanya, Shasha langsung menatap Fabian dengan tatapan tak percaya. Manik kelam sang gadis menyipit, menelisik rencana macam apa yang ada di kepala sang suami. Semua ini terlalu berlebihan. Entah kepala Fabian memang bermasalah atau pria itu memang kelebihan penghuni dompet. Tentu Shasha tidak bisa berkata-kata saat ia mengetahui bahwa pria itu telah membeli toko Pak Chen dan restoran tempat mereka bertemu sebelumnya. Bukan hanya membeli, pria itu mencantumkan nama Shasha sebagai pemilik toko dan restoran itu. “Apa maksud semua ini?” tanya Shasha, masih curiga jika Fabian menggunakan metode ada udang di balik batu. Namun, sedikit yant gadis itu tahu bahwa Fabian benar-benar melakukan semua itu berdasarkan kemauannya dan tanpa ada maksud tertentu. “Bukankah kau menginginkan pekerjaan? Aku sedang memberimu pekerjaan, Shanaya Yin,” jawab Fabian seraya melemparkan senyum. Sayang, senyumnya tak dibalas oleh sang istri. Alih-alih tersenyum balik, Shasha malah mencurankan alis dan menatap tajam pada Fabian. “Tidak ada bedanya jika semua itu darimu juga.” Fabian mengetuk-ngetuk tangannya ke meja. Hingga akhirnya pria itu kembali terfokus pada Shasha. “Jadi, kau lebih senang jika semua itu bukan dariku?” Shasha terdiam, hingga akhirnya gadis itu mengangguk. “Aku ingin melakukannya dengan tanganku sendiri.” Menjentikkan jari, Fabian kembali tersenyum. “Kalau begitu anggap saja semua itu pinjaman dariku. Kau bisa mengumpulkan modal dari pekerjaan yang aku beri. Kita bagi penghasilan dan jika kau sudah cukup mempunyai modal, kau bisa membuka usahamu sendiri. Adil, bukan?” Bungkam. Namun, Shasha mengakui bahwa apa yang Fabian katakan pun masuk akal. Dengan dirinya yang sekarang, ia tidak mungkin bisa bangkit sendirian. Ia memerlukan penopang, dan Fabian adalah sosok yang cocok untuk dijadikan batu loncatan. Shasha berpikir jika semua kebaikan Fabian memang asli, maka pria itu pun pantas mendapat sedikit kepercayaan. Setidaknya, Fabian tidak berniat buruk atau mencelakainya. Hanya saja, hatinya sangat sulit untuk menerima semua kebaikan Fabian. “Kau boleh memikirkannya terlebih dahulu,” ujar Fabian. “Untuk kartunya, aku tidak akan menarik kata-kataku. Kembalilah ke kamar dan istirahatlah terlebih dahulu.” Menghela napas, Shasha pun mengangguk. Gadis itu bangkit dan melangkah pergi. Namun, sebelum ia mampu melangkah lebih jauh, tiba-tiba Fabian menghentikannya. Saat Shasha menoleh, gadis itu masih melihat sang suami duduk di sofa. Namun, entah mengapa pria itu melemparkan sebuah senyuman yang mencurigakan. “Kau mau ke mana?” tanya Fabian, santai. “Ke ... kamar tamu,” jawab Shasha. Alih-alih menimpali, Fabian bangkit dan melangkah ke arah Shasha. Tentu, semua itu membuat Shasha melangkah mundur perlahan. Sayangnya pria itu lebih cepat menyambar tubuhnya dan menggendongnya. Tentu saja, jantung Shasha seolah melompat dari perlindungan tulang iga.Menatap tajam, Shasha pun mulai memberontak agar pria itu menurunkannya dari gendongan. Tangan gadis itu langsung memukul d**a Fabian. “Turunkan aku! Apa yang ingin kau—” “Apa kau lupa bahwa kita sudah menikah?” potong Fabian. Seketika, Shasha terdiam. Gadis itu membeku, tapi ia yakin kini keringat dingin mulai merangkak di atas kulitnya. Ia ... melupakan hal paling penting tentang sebuah "pernikahan". Entah mengapa, wajah sang gadis kini memucat. “Mulai sekarang, kita tidur di satu ranjang yang sama.” Sedikit yang Fabian tahu, pernyataannya benar-benar membuat mental Shasha kacau seketika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN