Merindu Luka

1117 Kata

Selesai memimpin meeting mingguan dengan para manager, Rara kembali ke ruangannya ditemani oleh Indah. “Kebetulan yang pahit, Mbak. Tapi, apa mau dikata, harus dihadapi,” ucap Rara setelah meneguk air mineral dinginnya. “Lo gak coba bicara sama Pak Gunawan atau Pak Tara?” tanya Indah yang iba kepada atasannya. “Untuk apa, kesannya nanti gak profesional. Biar aja, mungkin ini cara Tuhan menegur, Mbak. Tahu diri dengan status sosial kami yang berbeda,” ungkap Rara pasrah. “Iya juga, Lo bawa mobil kan?” tanya Indah yang menawarkan pulang bareng. “Bawa lah, Mbak,” jawab Rara. Ia sambil membereskan mejanya. “Ya udah, gue duluan yah. Hati-hati di jalan,” pamit Indah keluar dari ruangan Rara. “Oke, Mbak.” Rara mematikan laptopnya dan mengambil tasnya. Rara keluar dari ruangan, raut lelahn

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN