Kecemasan Ibu Suri

1094 Kata
Raja Harry terus berjalan tanpa menghiraukan pandangan setiap mata yang menatapnya dengan aneh. Ia pun berpapasan dengan Darrol. Darrol sejenak membungkuk dan bertanya, “Yang Mulia, apa yang telah terjadi?” Pengawal setianya itu tampak keheranan. Ia mengangkat sebelah alisnya saat melihat Sang Raja memangku Elena. Raja yang dikenalnya sebagai makhluk terkejam, kini diluluhkan oleh seorang wanita asing. Darrol tak suka dengan kepribadian Sang Raja yang berubah dengan drastis itu. Namun, di satu sisi saat ia melihat keadaan Elena, ia pun merasa berempati. Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya, kenapa Elena sampai seperti itu. “Apa dia sedang berpura-pura untuk menggaet hati Raja?” batin Darrol sambil berpikir keras. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Raja Harry dengan suara yang membentak. “Ma-maf, Yang Mulia. Ampuni hamba ....” Darrol membungkuk dan menundukkan wajahnya segera. Ia merasa sangat bersalah karena telah lancang menatap wajah Sang Raja seperti itu. “Cepat hukum seluruh selir yang berada di kamar mandi! Jangan beri mereka makan hari ini!” titah Raja Harry. Sementara itu, Elena berpegangan kuat pada Raja. Melingkarkan tangan dan bergelayut di antara leher dan d**a Sang Raja. Berpegangan sekuat sisa tenaganya. Bekas jambakan seolah masih terasa dan membuat kepalanya berdenyut-denyut. Kepalanya pusing. Matanya setengah terpejam merasakan perihnya air yang memaksa masuk ke dalam bola matanya. Terlalu menyakitkan. Sambutan yang diberikan terlalu kasar. Sudah berapa hari ia di sana? Ia tak pernah mendapatkan perlakuan baik dari para penghuni planet tersebut. “Kenapa? Apa Yang Mulia tidak mengkhawatirkan kondisi mereka? Bagaimana jika Ibu Suri sampai mendengar hal ini?” tanya Darrol. Mengingat, ia akan menghukum para selir yang merupakan para wanita spesial untuk Raja membuatnya sedikit takut jika sampai menyakiti salah satu di antaranya. Elena tiba-tiba saja terbatuk-batuk hingga membuat Raja Harry semakin mencemaskannya. “Bahkan mereka sama sekali tak peduli pada sesamanya. Jangan banyak bertanya lagi, segera laksanakan perintahku!” suruh Sang Raja. Ia berpikir jika dirinya harus segera melakukan sesuatu untuk Elena. “Ba-baik, Yang Mulia.” Lantas Darrol segera bergerak memasuki kamar mandi tadi. Ia dan beberapa bawahannya mengeluarkan seluruh selir yang berada di kamar mandi. Menggiring semuanya ke sebuah penjara bawah tanah. Sementara Raja Harry mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamarnya. Ia berpikir pasti di kamarnya masih ada Permaisuri Diandra yang sedang menunggunya. Kemudian ia berbelok dan pergi menuju ke ruangan Freya. Pangeran Hermes yang memata-matai bergegas pergi memberi tahu Permaisuri Diandra. Wangi aroma ruangan Freya sampai menusuk hidung Sang Raja. Wangi itu bisa saja menghipnotis setiap pria yang memasuki ruangannya. Sayangnya, Raja Harry yang dingin sama sekali tak terpengaruh. Tampak Freya sedang menata rambutnya. Ia segera bangkit saat melihat Raja Harry masuk ke ruangannya tanpa izin. “Yang Mulia ....” Freya memberi salam sambil membungkukkan punggungnya. “Freya, cepat lakukan sesuatu padanya!” Freya mendongak cepat untuk melihat apa yang membuat Raja Harry tampak sedang cemas. “Ya ampun!” Ia sangat terkejut saat melihat keadaan Elena yang lemah. Segera ia bergerak merapikan tempat tidurnya memberi tempat untuk Elena berbaring. Raja Harry bergegas membaringkan Elena di tempat yang telah Freya siapkan. Elena dalam keadaan setengah sadar. “Apa yang telah terjadi? Kenapa dia?” Tentu Freya ingin mengetahui alasan Elena sampai basah kuyup seperti itu. Terlebih, Elena dibawa oleh raja sendiri. Freya berpikir jika Elena tampak sangat spesial di mata Rajanya. “Cepat ganti pakaiannya sebelum ia mengalami demam!” suruh Raja Harry. “Baik, Yang Mulia.” Freya mengambil pakaian yang berada di lemarinya. Memilih pakaian yang paling tebal untuk menghangatkan tubuh Elena. Sementara itu, Raja Harry mengusap dan menggosok-gosok tangan Elena dengan tangannya. Mencoba memberi kehangatan. “Terima kasih,” ucap Elena lirih. Tiba-tiba saja pintu terbuka dengan sangat keras. Pandangan ketiganya tertuju pada seseorang di sana. “Yang Mulia! Apa yang sedang kau lakukan di sini? Aku mendengar ada keributan di kamar mandi para selir.” “Yang Mulia Ibu Suri ....” Ibu Suri ikut masuk ke dalam ruangan Freya. Ia yang mendapat kabar tak sedap dari para pelayan kastel langsung bergerak. Ia mendatangi tempat keberadaan Sang Raja. Banyak mata-mata yang ia letakkan di dalam kastel itu guna memperhatikan kelangsungan kemakmuran dan kemajuan kerajaannya sendiri. “Ibu dengar jika kau memasukkan para selir ke dalam tahanan bawah tanah. Apa itu benar?” “Iya, Ibu Suri,” sahut Raja Harry seraya melempar isyarat pada Freya untuk tetap melaksanakan tugasnya. Sementara itu, mata Ibu Suri tertuju pada wanita yang membuatnya terpukau karena tariannya itu sedang terbaring lemah di atas tempat tidur. Ia melihat Freya hendak melepas pakaian basah milik Elena. “Kenapa dia?” tanya Ibu Suri. Raja Harry mengajak Ibu Suri pergi keluar. Memberi waktu pada Freya untuk mengganti pakaian Elena. Tentunya Ibu Suri keberatan dengan apa yang dilakukan anaknya pada ibunya sendiri itu. Ia seolah diusir dan kehadirannya seakan sama sekali tak diharapkan. Dengan tenaganya, Raja Harry mendorong pelan tubuh Sang Ibu dan kemudian menutup pintu ruangan Freya. Kini mereka berdua berada di luar. “Para Selir memang harus mendapatkan hukuman yang setimpal.” “Bagaimana bisa kau menghukum selir-selirmu seperti itu? Mereka adalah ibu dari calon anakmu kelak. Kau tidak pantas memperlakukan mereka dengan kasar.” Raja Harry memegang kedua pundak ibunya. “Tenanglah, Ibuku sayang, mereka semua tidak akan pernah melahirkan anak untukku.” “Tidak mungkin. Bagaimana bisa? Mereka semua itu subur,” sanggah Ibu Suri. Ia pikir, mana mungkin dari banyaknya selir yang berada di Kastel itu tidak ada satu pun yang bisa memberinya anak. Itu sangat aneh dan ia sangat tidak menerima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Raja. “Ibu Suri harus lebih memperhatikan keadaan kastel ini lagi! Banyak kejadian di belakang layar, tapi Ibu Suri tidak perlu khawatir karena aku ... akan menjadikan Elena sebagai selirku yang sesungguhnya.” “Apa?! Maksudnya? Wanita itu?” Ibu Suri terkejut. Ia masih tak begitu dekat dan tak begitu mengenal Elena. Terlebih, fisik Elena berbeda dengan kaumnya. Tidak mungkin baginya untuk langsung menyetujui keputusan Sang Raja. “Tentu. Apakah itu salah?” “Ini pasti hasutan dari penyihir licik itu, kan? Apa saja yang telah diucapkannya? Apakah dia berkata jika kau harus menikahi gadis itu?” “Hasutan apa maksudnya? Kenapa Ibu selalu berpikir negatif pada Olive?” tanya Raja Harry. Ia merasa aneh dengan sikap sang ibu yang selalu berpikiran buruk pada Olive. Yang ia tahu, Olive adalah makhluk yang sama sepertinya. Ya, dengan kemampuan yang sedikit berbeda dengannya. Akan tetapi, tak ada yang salah baginya, justru hal tersebut mempermudahnya untuk mempersiapkan sebuah rencana dalam menghadapi masa yang akan datang. “Itu karena ....” Ibu Suri tampak gugup dan ragu untuk menceritakan pengalamannya bersama Olive dahulu kala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN