Pandai Berakting

1072 Kata
“Olive adalah makhluk yang berbahaya. Dia bisa mengetahui masa depan kita seperti saat dia meramal ayahmu ....” Ibu Suri berkata dengan begitu lembut, berharap anaknya itu tidak pernah kembali mendatangi Olive. Ia sungguh merasa khawatir. “Jadi ... Ibu Suri tidak mau mengakui kehebatannya? Aku tahu, Ibu pasti menyesal karena tak pernah mendengarkan perkataan Olive, bukan?” Dulu, Olive pernah membaca masa depan ayah dari Raja Harry, terutama tentang kematiannya. Ayah dari Sang Raja diramalkan akan mengalami sakit keras setelah meminum secawan teh hijau. Ibu Suri juga sebenarnya tahu akan ramalan tersebut. Namun, ia sama sekali tak mempercayainya. Terlebih saat ia melihat seorang pelayan yang ikut minum teh hijau itu. Awalnya memang tak ada efek samping. Akan tetapi, setelah tiga hari kemudian, Sang Raja pun sakit keras dan meninggal. Raja Harry sempat pernah mendengar berita itu. Akan tetapi, ia pun tak bisa begitu saja menyalahkan ibunya. “Tidak. Memang seharusnya hanya Dewa yang tahu,” sanggah Ibu Suri. Ia masih tetap tak percaya akan lamaran yang dilontarkan Olive. Baginya soal takdir itu rahasia. Tak akan ada yang pernah tahu. “Sudahlah! Ibu Suri tidak perlu mencemaskanku. Ada yang lebih penting di sini. Para Selir sepertinya harus mendapatkan pelajaran tata krama terutama sikap baik untuk memperlakukan sesama makhluk hidup,” kata Sang Raja. Ia melihat sikap para selir yang seperti tidak mendapatkan ajaran. Mereka terlihat sangat brutal. Ia tak ingin ada korban lagi. “Mereka terkadang cukup sulit untuk diatur. Lalu ... apa maksudmu tadi? Kenapa para selir tidak bisa memberimu keturunan?” “Itu karena Ibu Suri harus berhati-hati pada ....” “Yang Mulia!” Belum sempat Raja Harry menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja muncul Permaisuri Diandra yang muncul sambil berlari tergesa-gesa dan berteriak dengan suara nyaringnya. “Permaisuri Diandra?” Ibu Suri menatap wanita itu. “Salam Yang Mulia Ibu Suri ....” Permaisuri membungkuk memberi salam. Dengan isyarat anggukan, detik berikutnya Permaisuri Diandra mengangkat wajah dan berdiri tegak kembali. “Apa yang barusan akan kau katakan padaku, Yang Mulia?” tanya Ibu Suri. Raja Harry menatap Permaisuri Diandra yang terengah-engah. “Tidak, Ibu Suri. Bukan apa-apa.” Ibu Suri mengernyitkan dahinya yang mulai keriput. “Baiklah. Aku harus segera pergi untuk melihat para selir.” “Maaf, Yang Mulia Ibu Suri ... memangnya apa yang telah terjadi kepada para selir?” tanya Permaisuri Diandra dengan wajah yang begitu polos. Permaisuri Diandra sampai menahan kepergian Ibu Suri. Ia memegang tangannya. Tampak Raja Harry tak menyukai hal itu. Bagaimana pun derajat Permaisuri Diandra jauh di bawah ibunya. Raja Harry dengan cepat menepis tangan Permaisuri Diandra. “Lancang!” ucap Raja Harry. “Maaf, Yang Mulia.” Permaisuri Diandra terkesiap. Sedang Ibu Suri terlihat menahan ekspresi kemarahannya. “Dia memang pandai sekali berpura-pura. Kedatangannya kemari pun menandakan jika dia sudah mengetahui apa yang telah terjadi. Aku yakin itu,” batin Raja Harry. Memang Permaisuri Diandra tahu masalah tentang selir itu. Pangeran Hermes datang padanya dan memberinya sebuah kabar. Jika menyangkut masalah para selir, Permaisuri Diandra memang sedikit sensitif. “Oh, iya ... Ibu Suri sampai lupa menanyakannya. Katakan apa sebenarnya terjadi?” tanya Ibu Suri pada Raja. “Mereka menyambut Elena dengan sambutan yang sangat kasar, maka dari itu aku memutuskan untuk menghukum mereka semua.” Permaisuri Diandra tampak terkejut. Jelasnya pura-pura terkejut. Ia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Raja Harry agak jijik melihatnya. “Kau juga harus dihukum,” batin Raja Harry dengan mata yang mendelik, melirik Permaisuri Diandra yang sedang berakting. “Kenapa Yang Mulia Raja begitu perhatian kepada Elena? Gadis itu ... awas kau!” batin Permaisuri Diandra cemburu. “Jangan terlalu berlebihan! Kau selalu membuatku pusing.” Ibu Suri jengkel dengan semua tindakan Raja yang suka seenaknya. Untuk meredam amarahnya, Ibu Suri hendak pergi untuk melihat kondisi para selir. Ia cemas. Tak ada hari-hari yang bisa membuatnya tenang dalam masa pemerintahan anaknya yang nakal itu. “He he. Maafkan aku Ibuku sayang ....” Raja Harry mengejar dan memeluk ibunya. Mereka berdua memang sangat dekat. Hubungan antara ibu dan anak begitu kuat. Ibu Suri pun merasakannya. Seorang ibu memang selalu dekat dengan anak lelakinya. Ketika Raja Harry sibuk dengan ibunya, Permaisuri Diandra diam-diam hendak masuk ke dalam ruangan Freya. Namun sayang, aksinya diketahui oleh Sang Raja. “Kenapa kau datang kemari?” tanya Raja Harry sambil memegang tangan Permaisuri Diandra. Ia memperhatikan gerak-gerik Permaisuri Diandra saat Ibu Suri pergi. Ia tak menyangka jika Permaisuri Diandra akan mencoba masuk ke dalam ruangan Freya di mana ada Elena di dalamnya. Tampak Permaisuri Diandra sangat terkejut dengan cengkeraman Raja Harry yang tiba-tiba itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak untuk sesaat. Ia pun segera menarik tangannya lagi. “A-aku hanya melintas saja,” jawab Permaisuri Diandra dengan gugup. Permaisuri Diandra lantas berjalan meninggalkan Raja Harry. Menghindarinya. Sementara itu, Raja Harry hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Sang Permaisuri. Kemudian ia pun masuk ke dalam ruangan Freya untuk melihat kondisi Elena. “Bagaimana keadaannya?” tanya Sang Raja. Tampak Elena sudah berganti pakaian. Ia memakai selimut tebal dan matanya terpejam. Sedang Freya sedang mengompres kepala Elena dengan handuk yang basah. “Dia tidak apa-apa, Yang Mulia.” “Lalu ... kenapa kau mengompresnya? Apakah dia demam?” “Sedikit. Semoga saja tidak berkelanjutan ....” Berulang kali Freya membasuh dan meletakkan handuk basah itu di kepala Elena. Justru hal tersebut membuat Sang Raja khawatir. “Apakah kita harus memanggil tabib?” “Aku rasa tidak perlu, Yang Mulia.” “Mmm ... baiklah. Aku percayakan saja dia padamu.” “Baik, Yang Mulia.” Freya menganggukkan kepalanya. Mata Sang Raja hanya menatap Elena. Lagi-lagi gadis itu tampak sangat cantik ketika sedang tertidur. Ya, Raja Harry perlahan mulai tertarik padanya. Akan tetapi satu hal yang membuatnya penasaran, ialah ramalan Olive. “Apa aku harus kembali menemuinya? Tapi ... bagaimana dengan perasaan Ibu Suri jika sampai mengetahui hal itu?” Raja Harry masih memikirkan perasaan sang ibu. Tidak mungkin ia kembali mendatangi Olive setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri saat mata Ibu Suri berkaca-kaca ketika menceritakan masa lalunya. Ia akan sangat bersalah jika pergi tanpa izin lagi. Meskipun Raja Harry terkenal sebagai seseorang yang berhati dingin, tapi ia sangat lembut dan sangat menghormati ibunya. Bahkan satu-satunya yang ia cita-citakan adalah membuat sang ibu bangga dengan posisinya sebagai Raja. Ia tak boleh membuat ibunya kecewa atau pun sampai bersedih. “Baiklah, tetaplah berada di sini, di tempat ini. Kita lihat perubahan besar apa yang akan kau bawa?” batin Raja Harry yang terus menatap Elena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN