Kepalaku Pusing

1148 Kata
Esok pagi Raja Harry kembali datang ke ruangan Freya untuk melihat kondisi Elena yang masih belum sadarkan diri. Kali ini bahkan ia memanggil seorang tabib pribadinya. “Freya, apa masih belum ada perkembangan?” tanya Raja Harry kepada Freya yang menyelimuti Elena. “Ampun, Yang Mulia ... demamnya masih belum turun.” “Tenanglah, biar tabib yang akan memeriksanya ....” Makhluk seperti manusia dan sebagian kulitnya seperti sisik ular itu lantas memeriksa kondisi Elena. Wajah Sang tabib sangat aneh. Ekspresi wajahnya membuat Sang Raja menyimpan sejuta pertanyaan. Begitu pun dengan Freya ia ikut memperhatikan. “Kenapa? Apa dia baik-baik saja?” tanya Raja Harry. “Maaf, Yang Mulia. Belum pernah aku menemukan makhluk yang demamnya sangat tinggi seperti ini.” “Lantas bagaimana cara meredakan demamnya?” Raja Harry ikut panik. “Yang Mulia tidak usah khawatir! Semoga obat yang saya bawa bisa mengobatinya.” “Baiklah. Cobalah!” Dengan kekuatan magis, tabib itu pun mengeluarkan sebuah pil yang bentuknya sebesar kelereng. Ia membuka mulut Elena dan memasukkan pil tersebut. Cahaya menyinari tangannya membantu obat itu bergerak melewati kerongkongan Elena. “Biarkan dia beristirahat!” “Baik. Terima kasih,” sahut Raja Harry. Sang Raja memberi isyarat pada Freya untuk mengantar sang tabib keluar. Sementara dirinya duduk menghadap Elena yang tengah terbaring. “Kau sangat membuatku penasaran. Cepatlah sembuh! Aku memiliki banyak pertanyaan padamu.” Mata Raja Harry beralih, ia melihat sebuah buku menarik di sana. Ia ambil dan baca di hadapan Elena seperti seorang ibu yang sedang menceritakan sebuah dongeng pada anaknya yang hendak tidur. Sementara itu, Elena perlahan membuka matanya. Samar-samar ia melihat suasana kamar yang berwarna putih. Semakin matanya terbuka lebar, semakin jelas apa yang kini ia lihat. “Ini ....” Tampak jelas apa yang ditangkap oleh pancaindranya. Seorang wanita paruh baya tengah terbaring lemah dengan selang infus dan terdengar suara seperti detik bom yang hendak meledak. Masih tak percaya, mata Elena beralih dan melihat sekitar. Sangat jelas ia mendengar suara yang seperti detik bom itu berasal dari sebuah layar yang seperti komputer. “Ini ... di rumah sakit? Aku ....” Elena terperanjat. Dengan cepat ia memeriksa dirinya sendiri. Ia lihat pakaiannya tidak lagi basah. Model pakaiannya tak seperti model pakaian ala-ala kerajaan lagi. Ia pegang rambutnya yang tertata rapi. Elena ingat pakaian yang ia kenakan. “Ma-masih seperti dulu ....” Lalu ia berdiri dan menatap wajah ibunya. Meraih dan menggenggam segera tangan itu. Terasa sangat hangat. “Ibu? A-aku kembali ke bumi?” Elena mencubit pipinya sendiri. Ia ingin membuktikan jika dirinya benar-benar berada di tempat yang seharusnya ia tinggal. Pipinya yang dicubit terasa sakit. Namun, untuk meyakinkan lagi, beberapa kali ia menampar dan memukul dirinya sendiri. “Oh, astaga, ini benar-benar sakit. Ya Tuhan ... akhirnya aku bangun dari mimpi itu.” Lantas Elena bergegas keluar ruangan perawatan sang ibu. Ia berlarian ke sana-kemari dan membuat setiap orang yang melihatnya merasa heran, menatap aneh padanya. “Wajah-wajah itu ... tak ada telinga panjang seperti serigala, tak ada yang aneh. Hidung, mata, mulut dan semua yang ada pada mereka adalah sama dengan apa yang aku punya.” Elena mengabsen setiap tubuh yang ia lihat pada orang-orang yang ditemuinya. Ia bandingkan dengan apa yang pada dirinya sendiri. Gadis itu berlari kencang, lalu menarik dan mengembuskan nafas di taman rumah sakit. Ia merasa seperti burung yang bebas. Elena menengadah. Ia bisa melihat birunya langit, dedaunan yang hijau dan tanah yang gembur. Bahkan ia sampai melepas sepatu yang dipakainya untuk merasakan rumput menyentuh kulit kakinya. “Ini nyata ....” Gadis itu melompat-lompat kegirangan. Bersorak-sorai dan bernyanyi. Sampai ia merasa lelah, ia pun duduk di kursi panjang yang berwarna putih itu. Kursi yang biasa dipakai untuk para pasien berjemur dan merasakan udara segar. Elena berpikir. “Raja Harry, Permaisuri Diandra, Pangeran Hermes, Ibu Suri dan para selir itu ... jadi mereka hanya mimpi?” Ia yakin jika yang dialaminya hanya mimpi. Ia sangat bersyukur jika dirinya bisa kembali pulang ke tempat asalnya. Rasanya ia tak mau lagi datang ke tempat mengerikan itu. Tempat yang memperlakukannya dengan sangat jahat. “Ah, kenapa mimpiku seburuk itu? Lalu ... jika itu hanya mimpi, sudah berapa lama aku tidur?” Elena kembali berjalan. Ia bermaksud untuk bertanya kepada siapa pun di sana. Hingga ia pun melihat seseorang yang tengah mendorong pasien yang berada di kursi roda. Wanita itu memakai jam di pergelangan tangan kirinya. “Maaf, sekarang jam berapa, ya? Tanggal, bulan dan tahun berapa?” Wanita itu berhenti mendorong dan perlahan melihat jam tangannya. “Jam dua siang. Hari ini adalah hari Selasa, 14 Agustus 2021.” “Jam dua?” Elena berpikir keras. “Gadis aneh. Kenapa dia bertanya seperti itu? Dia bertanya seperti orang yang baru datang ke bumi saja,” batin wanita itu. Wanita tersebut bergidik ngeri dan segera pergi setelah berucap. Meninggalkan Elena yang sedang berpikir. “Hah?! Kenapa? Ini masih hari yang sama saat aku tidur.” Sebelumnya ia ingat jika ia tidur pukul satu siang setelah berbincang dengan seorang dokter. Yang ia tidak mengerti adalah bahwa ia sudah menghabiskan waktu beberapa hari di Planet asing itu. “Ah, kenapa aku malah membanding-bandingkannya? Bukankah itu hanya mimpi?” Elena menepis semua pikirannya yang rumit mengenai tempat yang ia kunjungi sebelumnya. Kemudian ia pergi ke dalam ruangan ibunya lagi. Ia mencoba untuk menceritakan apa yang dialaminya di dalam mimpi. Ia berbicara pada ibunya yang sama sekali tak membuka matanya. “Aku ... jadi teringat wajah Raja Harry. Dia telah menolongku kala itu.” Sebersit pemikiran hanya tertuju pada wajah dan perilaku Sang Raja. Ia tersenyum dengan pipinya yang mulai berwarna merah muda. “Jika dia nyata, aku mau menjadi istrinya. Hihi. Kenapa aku harus dijadikan selir di sana? Menyebalkan!” Gadis itu menggerutu dan merasakan basah di area sensitifnya. Ia baru ingat jika di dalam mimpi ia sedang datang bulan. “Masa hal ini nyata?” Untuk memastikan, ia pun pergi ke kamar mandi. Saat apa yang disangka-sangka itu terjadi, ia sangat terkejut. “Ta-tapi ini nyata ....” Sebelum darah itu menembus pakaiannya, ia pun segera pergi mencari taksi. Ia berniat untuk pulang ke rumahnya. Ingin segera sampai, ia menyuruh sopir taksi untuk melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Hingga sekitar lima belas menit, ia pun sampai. Ia melihat rumahnya yang masih sama persis sebelum ia tinggalkan ke rumah. Namun, saat hendak memasuki pintu gerbang besi itu, tiba-tiba seseorang muncul dan mengagetkannya. “Permisi, Nona. Apa kau pemilik rumah ini?” Elena seolah mendengar suara yang tidak asing. Suara yang begitu khas. Saat menoleh, ia sangat terkejut saat melihat wajah si pemilik suara yang telah bertanya padanya itu. “Ka-kau ...?” “Hai, salam kenal. Aku Larry, aku baru saja pindah hari ini. Maaf membuat halaman rumahmu berantakan oleh barang-barangku.” Pria itu tersenyum pada Elena sambil mengusap tengkuknya. Mata Elena masih tak berkedip, ia yakin jika yang dilihatnya begitu mirip dengan pria yang berada di dalam mimpinya. “Harry?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN