Mereka Semua ....

1036 Kata
Wajah pria itu seolah bersinar dan mengeluarkan aura positif. Berkarisma. Tinggi dan proporsi tubuhnya benar-benar ideal. Pakaian kebesaran yang dulu ia lihat berubah hanya menjadi sebuah kaos oblong berwarna biru tua. Tata rambut Larry memang agak pendek dibandingkan Raja Harry. Namun, Elena yakin jika ingatannya tidak salah. Ia yakin jika pria yang baru saja ditemuinya itu sangat mirip dengan Sang Raja yang telah menolongnya. “Bukan, namaku Larry,” sahut pria itu seraya mengangkat sebelah alisnya. “Larry? Ah, ma-maaf.” Harry dan Larry tampak tak ada bedanya di mata Elena. Berulang kali ia mengucek matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya. Elena masih sedikit menganggap sesuatu hal yang dialami sebagai mimpi. Terlebih karena ia merasa jika apa yang dimimpikannya seperti sebuah kenyataan. “Kau tidak perlu minta maaf. Justru aku yang harusnya minta maaf. Sepertinya sopir yang membawa barang-barang pindahanku salah alamat. Hingga mereka menaruhnya di hadapan rumahmu. Mungkin mereka pikir itu adalah rumah yang kumaksud karena terlihat sepi,” jelas Larry panjang lebar. Sementara itu, Elena tak berucap apa pun. Ia masih meneliti dan menelisik setiap inci dari wajah dan tubuh Larry. Ia masih tak percaya jika dirinya akan bertemu Raja Harry di dunia nyata juga. “Nah, sebagai ucapan maafku ... aku membawa ini untukmu.” Larry memberikan sebuah stoples berisi biskuit. Elena melirik depan rumahnya yang memang dipenuhi barang-barang seperti beberapa kardus, lemari dan tempat tidur. Lalu matanya kembali beralih pada Larry dan tanpa sadar dirinya menerima biskuit itu. Larry menunggu. Awalnya ia tak menyangka jika tetangga barunya akan menerima biskuit pemberiannya. Namun, sayangnya ucapan terima kasih justru tak terucap dari mulut Elena dan membuat Larry memutuskan untuk pergi dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Wanita aneh ... kenapa dia menatapku seperti itu?” gumam Larry yang kembali mengangkat barang yang akan disimpan di rumah barunya. Ia angkat dua kardus yang berukuran sedang sekaligus. “Dia sangat mirip. Apa aku bermimpi lagi?” Elena menggigit kue itu sambil menatap punggung Larry yang semakin menjauh memasuki rumah yang akan ditempatinya. Rumah Elena dan Larry saling berhadapan dan hanya terhalang oleh sebuah jalan yang cukup besar. Akan tetapi, kendaraan agaknya jarang melintasi jalan tersebut. Mata Elena terbelalak saat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tak pernah ia memakan biskuit seenak itu. Bahkan biskuit buatannya tak pernah bisa dinikmati. Ya, sebagai seorang wanita ia memang tak pandai dalam hal-hal berbau dessert. “Kepalaku sakit dan perutku nyeri seperti kram. Lebih baik aku segera memakai pembalut.” Dengan mulutnya yang masih penuh dengan biskuit, ia lalu masuk ke dalam rumahnya. Bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri. Rasanya ia sudah lama tak bisa mencium aroma sabun mandi kesukaannya. Mengingat di dalam mimpi tak ada yang seperti itu. Perlahan ia guyur tubuhnya dengan air yang keluar dari shower. Hingga sebuah ingatan muncul ketika Sang Raja mencium bibirnya. Elena memegang bibirnya sendiri. “Apakah ini nyata? Aw, bibirku sudah tak perawan lagi. Konyol!” Setelah puas mandi, lalu ia berganti pakaian. Tidak lama, ia pun lantas bersiap untuk kembali pergi ke rumah sakit. Ia tak mau meninggalkan ibunya terlalu lama. Sayangnya, ia yang terburu-buru dan berjalan sambil memeriksa isi tasnya malah menabrak Larry yang sedang membawa barang. Elena panik bukan main. Terlebih saat ia melihat Larry terhuyung dan jatuh terduduk di aspal. Barang-barang yang dibawanya pun ikut jatuh. Elena sempat mendengar suara sesuatu yang pecah di dalam salah satu kardus tersebut. “Kau baik-baik saja?” tanya Elena. Ia mengulurkan tangannya bermaksud untuk menolong Larry. Membantunya bangkit. Akan tetapi, Larry melewatkannya dan ia malah segera mengecek isi di dalam kardus itu. Ia sangat terlihat sangat panik. Sedang Elena bingung harus berbuat apa setelah uluran tangannya tak dihiraukan pria itu. Larry seolah menghela nafas malas saat melihat isi di dalam kardus tadi. Elena yang penasaran pun ikut mengintip. Hingga ia melihat sebuah bingkai foto yang pecah. Untungnya serpihan kacanya berada di dalam dan tak sampai berhamburan di jalanan. “Eh, itu seperti ....” Elena mengambil foto itu tanpa izin dari Larry. Ia seolah mengenal orang-orang yang tergambar di sana. Ada tiga orang yang sedang berdiri menghadap ke depan. Mereka berjajar sama rata. Tersenyum tanpa beban. “Mereka ....” Elena menutup mulutnya sendiri tak percaya. Mata gadis itu membulat sempurna saat melihat wajah ketiganya. Yang di antaranya ada wajah Raja Harry di sana. Di samping kiri ada sosok wanita paruh baya seperti Ibu Suri dan di sebelahnya lagi ada gambar sosok yang sangat mirip dengan Permaisuri Diandra. Tangan Elena gemetar. Namun, satu yang membuatnya penasaran lagi. Saat ia mengambil satu foto yang lain, ia melihat wajah yang seperti wajah dari adik Sang Raja. Ya, Pangeran Hermes. Refleks Elena melempar foto-foto di tangannya hingga membuat Larry marah dan tak menyukai sikap tetangga barunya yang dinilai tidak sopan. “Apa yang kau lakukan?!” Larry memunguti foto-foto miliknya yang berserakan di jalan karena dibuang Elena begitu saja. Tanpa berkata maaf, Elena bergegas pergi. Ia berlari dan mencari taksi dan membuat Larry menatap aneh gadis yang baru ditemuinya itu. Di dalam taksi, Elena sangat ketakutan. Saat melintasi wajah keberadaan Larry yang masih berdiri di sana, wajah mereka bertemu. Mata mereka seolah berbicara dan seperti mengalirkan listrik. Seolah ada hal yang membuat keduanya saling berhubungan. “Tidak, sepertinya mata dan pikiranku sudah tidak normal. Apa aku harus segera memeriksakan diri? Oh, Tuhan ... aku seperti orang gila,” gumam Elena seraya memegang kepala dengan kedua tangannya. “Mau ke mana, Nona?” tanya Pak Sopir yang tampak masih muda dari belakang. Rambutnya hitam dan kulit tengkuknya putih bersih. Dari samping terlihat tangannya sangat isi berotot seperti seseorang yang sering berolahraga atau pergi ke tempat fitnes. Ia bisa menduga-duga karena ukuran lengan kemeja yang dipakai pria itu tampak lebih besar dibanding tangan pria lainnya yang sempat ia lihat. “Tolong antar aku ke rumah sakit ....” Dari samping Elena seakan melihat sosok yang tidak asing. Ya, Pak sopir itu tampak seperti seseorang yang ia kenal. Ragu-ragu tangannya bergerak. Saat di pemberhentian karena lampu lalulintas menunjukkan warna merah, tiba-tiba dengan cepat gadis itu menarik bahu Pak Sopir. Sungguh mengejutkan saat ia melihat wajah sang Sopir. Matanya terbelalak seolah hendak keluar. “Darrol?” Saking terkejutnya, mata Elena perlahan seperti melihat kabut asap tebal yang semakin menghitam dan ia pun jatuh pingsan membuat sang sopir panik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN