Gadis Bumi yang Memikat Hati

1106 Kata
Elena perlahan membuka matanya. Mengerjap-ngerjapkannya hingga ada satu hal yang sangat mengejutkannya. Matanya tiba-tiba saja menampak benda yang sama sekali tak ingin dilihatnya lagi. “Oh, astaga! Ini ...?” Yang dilihat Elena adalah sebuah guci besar berwarna keemasan. Namun, saat melirik ke samping, ia melihat seseorang tengah meletakkan kepalanya di atas selimut yang menutupi tubuhnya. “Yang Mulia?!” Hampir saja Elena berteriak karena saking terkejutnya. Untungnya ia masih bisa menahan mulutnya tersebut dengan menempelkan kedua telapak tangannya di sana. Kemudian matanya beredar dan melihat sekitar. “Ah, kenapa aku kembali lagi ke tempat ini?” batin Elena sedih. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri. Rasanya ia ingin sekali berteriak. Sang Raja masih dalam keadaannya yang terlihat nyaman dengan tangan yang menopang kepalanya. Detik berikutnya Elena perlahan bergerak. Namun, sebersit pemikiran muncul di kepalanya. Ia mengambil sebuah benda yang seperti tusuk konde milik Freya. Tusuk konde berwarna merah cerah dengan untaian rantai-rantai kecil dan di ujungnya ada dua buah batu kecil berbentuk hati. Tusuk konde itu terbuat dari sebuah besi dengan ujung yang agak runcing. Selangkah demi selangkah Elena berjalan sambil memegang erat tusuk konde itu. Dirinya semakin mendekati Sang Raja. Tangannya gemetar hingga membuat ia berusaha memegang tusuk konde tadi dengan kedua tangannya. Ia angkat tangannya tinggi-tinggi di atas kepala Raja Harry. “Jika kusudahi ini ... mungkin aku tidak akan pernah kembali ke tempat seperti ini lagi,” batin Elena. Saat tangannya yang memegang tusuk konde tadi berayun, tiba-tiba saja Raja Harry bangun dan memegang tangan Elena. Sang Raja menahan pergerakan gadis itu. Elena pun sangat terkejut karena aksinya telah diketahui. “Jangan coba-coba menyakitiku!” kata Raja Harry yang lantas bangkit merebut tusuk konde yang sedang dipegang oleh Elena. Tentu saja Elena malah menjadi takut. Hal paling harusnya ia jauhi dan hindari justru malah ia lakukan. Ia sebenarnya sudah muak datang ke tempat itu lagi. Ia merasa seperti boneka yang sedang dipermainkan. Namun, ekspresi wajah Sang Raja justru terbalik. Ia malah memasang senyum yang mengejek. “Sayangnya rencanamu gagal. Aku akan segera bangun jika ada hal yang akan membahayakanku.” Elena terdiam mendengar hal itu. Ingin rasanya ia mengucapkan kata maaf karena telah lancang berniat buruk pada Sang Raja. Akan tetapi, entah kenapa lidahnya kelu dan tangannya malah gemetar hebat. Raja Harry tanpa aba-aba langsung menarik tangan Elena. Ia mendekap tubuh gadis itu mencoba menenangkan dengan mengelus punggungnya. Ya, jurus itu mampu membuat gadis itu sedikit merasa tenang. “Apa kau sudah baik-baik saja? Dua hari kau belum sadarkan diri,” kata Raja Harry. Elena mengernyitkan dahi. Yang ia ingat ia baru saja di bumi dan hanya beberapa jam saja. Sekarang ia mengerti jika waktu di planet Pandora lebih cepat dibandingkan waktu di bumi. Raja Harry memegang kedua lengan Elena. Menatapnya lekat dan gadis itu hanya menjawab dengan anggukan. Ada hal aneh yang dirasakan olehnya. Raja Harry yang ditemuinya dulu adalah seorang raja yang kejam dan selalu memperlakukannya seenaknya saja. Namun, justru sekarang sangat jauh berbeda. Ada apa sebenarnya? “Beristirahatlah lagi!” suruh Raja Harry sambil mengajak Elena untuk kembali berbaring. Tanpa protes, gadis itu hanya menuruti perintahnya saja. Ia kembali ke tempat tidur dan menyandarkan punggungnya pada bantal tebal dan empuk di sana. Matanya tak berkedip terus-menerus menatap Raja Harry. “Berkediplah sebelum matamu kelilipan!” titah Sang Raja. Elena sampai salah tingkah dibuatnya. Berulang kali ia berkedip sambil membuang muka tak mau menghadap Sang Raja. Ia sangat malu. “Oh, iya ... apa yang kau makan di planetmu? Bumi maksudku?” Banyak sekali yang ingin Raja tanyakan pada Elena. Tiba-tiba saja Elena terlihat sangat antusias. Jika ditanya soal makanan, ia memang tidak bisa mengabaikannya. “Aku suka ... nasi putih dengan ayam goreng tepung,” sahut Elena yang pikirannya bergerak mengabsen setiap makanan. “Nasi putih? Di sini tidak ada beras putih, kami hanya makan beras merah.” “Tak apa. Yang penting nasi ....” “Terus ... ayam yang kau maksud itu seperti apa?” “Ya ... ayam, semacam unggas.” “Kami hanya punya burung unta,” kata Raja Harry. Gadis itu mulai berkhayal dan memikirkan bagaimana jika daging burung unta memakai tepung ala-ala ayam goreng tepung. “Apa saja ....” Raja Harry mengangguk. Lalu ia memanggil seorang pelayan dan menyuruhnya untuk memberi tahu koki kastel untuk memasak makanan yang diinginkan Elena. Pelayan itu pergi sambil berpikir keras. Kembali pada Elena. Ia masih tak percaya jika dirinya kembali lagi ke tempat mengerikan itu. Padahal ia baru saja memegang tangan ibunya lagi. “Yang Mulia ... maafkan aku atas kejadian tadi.” Elena merasa bersalah. “Tidak apa-apa. Tenanglah! Hal seperti itu sudah biasa. Banyak yang menginginkanku untuk mati.” “Ke-kenapa?” Raja Harry berdiri dan berjalan pelan. Berhenti di satu titik di mana sebuah benda berada di sana. Ia menghadap cermin yang besar milik Freya sambil melipat tangan di d**a. “Kau lihat! Harta, takhta dan wanita adalah hal sempurna untuk dimiliki oleh seseorang. Banyak yang iri padaku hingga berbagai cara kotor mereka lakukan agar diriku lengser atau yang paling parah mati di tangan mereka,” jelas Sang Raja sambil mengawang-awang. “Me-mereka itu siapa?” “Musuh-musuhku. Entah dari luar atau pun di dalam istana. Tidak ada satu orang pun yang dapat aku percayai di kastel ini.” “Dari dalam pun?” “Aku tidak tahu pasti. Namun, aku harus tetap siap siaga.” “Mm ... oh, iya. Kenapa kau berada di sini? Maksudku apa kau menungguku untuk bangun?” “Tidak. Itu hanya kebetulan saja.” “Tapi ... kenapa kau tadi tidur di–” “Sudahlah. Aku harus melihat keadaan sekitar istana. Mengecek para selirku juga,” sela Raja Harry yang berjalan ke arah pintu. Elena tak mengerti dengan sikap Sang Raja padanya. Ia sampai berpikir keras. “Nanti jika makananmu datang, kau harus menghabiskannya!” suruh Raja Harry sambil mengarahkan telunjuknya pada Elena. Telunjuk itu bergerak naik-turun dan membuat Elena menahan tawanya. Raja Harry malah jadi salah tingkah saat matanya melihat wajah Elena. Gadis itu tersenyum manis padanya. Dengan cepat ia menurunkan tangannya dan keluar dari ruangan itu. “Dia kenapa?” gumam Elena. Sementara itu, Raja Harry berdiri di depan pintu. Ia memegang dadanya sendiri merasakan detak jantungnya yang bergerak cepat. Memang aneh rasanya, tak pernah ia merasakan hal itu. Bahkan ketika ia terancam dan dalam situasi yang menegangkan dalam perang pun ia masih bisa mengatur detak jantungnya. “Kenapa dia terlihat sangat cantik sekali ... manis ...,” batin Raja Harry. Dirinya seolah meleleh saat mendapatkan senyuman manis dari gadis bumi itu. Lalu ia berusaha menormalkan kembali detak jantungnya dan juga berusaha berjalan dengan santai serta normal, meskipun isi kepalanya dipenuhi oleh Elena yang sedang tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN