Apa Sang Raja Menyukaiku?

1099 Kata
“Yang Mulia ....” Raja Harry berhenti melangkah saat mendengar suara seseorang. Wajahnya yang menunduk dan tersenyum-senyum sendiri lalu kembali berubah menjadi terlihat garang. “Oh, ternyata kau. Mm ... Elena sudah sadar. Tolong jaga dia!” Dengan nada yang begitu datar ia berucap. Tak sampai seseorang menaruh kecurigaan padanya. Sementara itu, Freya terkejut mendengar kabar tersebut. “Sudah sadar? Kapan itu?” “Barusan,” sahut Raja Harry. “Mm ... Freya, coba tersenyum! Maksudku tersenyumlah padaku!” Freya dibuat salah tingkah dengan perintah Rajanya yang aneh. Ia yang ragu-ragu pun mencoba menaikkan kedua sudut bibirnya. Tersenyum merekah dengan kekuatan senyumnya yang manis. Sang Raja menatapnya agak lama hingga membuat Freya merasakan pegal di sekitar pipinya. Freya sangat senang saat Raja Harry menatapnya, ia pikir mungkin Sang Raja tengah tertarik padanya. “Kenapa jantungku berdetak biasa saja saat melihat senyumnya?” batin Raja Harry bertanya-tanya. “Cukup!” titah Sang Raja. Freya berhenti tersenyum dan raut wajahnya berubah menjadi kesal. Ingin sekali ia marah karena merasa tengah dikerjai. Freya berulang kali memijat kedua pipinya. “Masuklah dan temani dia! Sebentar lagi makanannya datang.” “Baik, Yang Mulia.” Freya masuk ke dalam ruangan tempat Elena berada. Sedang Raja kembali berjalan menuju ke kamarnya. Rasanya ia tak bisa fokus karena kepalanya terasa sangat berat. Di dalam, Elena hanya duduk sambil menatap dengan tatapan kosong. Ia berpikir. Tak ada hal lain lagi yang sedang ia lakukan. Jika ia berbuat seenaknya lagi, ia takut menjadi sasaran para selir lagi. Dalam pikirannya, banyak hal-hal buruk yang menantinya di Kastel itu. “Aku ‘kan tadi naik taksi dan terkejut saat melihat sopir itu. Ah ... kepalaku sakit.” Elena memukul-mukul kepala dengan kedua tangan yang sudah dikepalkan sebelumnya. Ia tak mengerti kenapa ia harus kembali ke dalam mimpi buruk ini lagi. “Aku baru saja menemui ibuku dan sekarang aku terjebak lagi di sini.” Gadis itu merenung sambil menekuk bibirnya. Ia sangat sedih. Kemudian masuklah Freya. Dari kejauhan Elena sudah mencium aroma parfum yang biasa Freya gunakan. “Elena! Kau sudah sadar ternyata ....” Freya sangat senang melihat kondisi Elena. Lantas ia memegang tangan gadis itu. “Apakah benar aku tidur selama dua hari?” tanya Elena. Ia ingat jika Raja Harry berkata jika ia sudah tidur selama dua hari. “Iya, benar.” Wanita yang menjadi penjaga para selir itu kemudian berjalan sambil merapikan buku-buku yang berantakan di atas meja. Buku-buku yang sudah dibaca Raja Harry. “Lalu ... kenapa Yang Mulia berada di kamar ini? Dia sampai tertidur di atas selimut yang sedang kupakai.” “Benarkah? Kau memang wanita yang beruntung! Jadi ... Yang Mulia Raja setiap hari datang kemari. Bahkan aku sampai tidur di kamar para selir karena Yang Mulia ingin menemanimu.” “Me-menemaniku?” “Iya. Sepertinya buku-buku milikku hampir habis dibacanya saat menemanimu.” Tangan Freya masih bergerak. Menyimpan buku-buku koleksinya ke dalam lemari secara berurutan. Ia tata dengan rapi. Wanita yang satu ini memang sangat peduli dengan kerapian dan kebersihan. “Aku sangat iri padamu. Begitu pun para selir. Berhati-hatilah pada mereka!” “I-iya. Aku hanya tidak mengerti kenapa mereka sampai memperlakukanku sejahat itu.” Seolah masih terbayang-bayang saat beberapa selir memperlakukannya dengan begitu kasar. Mereka sangat kejam pada Elena. “Sudah kubilang, mereka iri karena kau selalu jadi perhatian Raja.” “Tapi ... aku sama sekali tak mendekati Raja.” “Aku tahu ... tapi sepertinya Yang Mulia menyukaimu. Itu bagus, Elena!” Dari setiap gerak-gerik Raja Harry, Freya bisa menyimpulkan jika Rajanya itu memang tertarik pada Elena. Bahkan selama ia tinggal di Kastel itu, ia tak pernah melihat Raja Harry sampai rela mengorbankan waktunya hanya untuk menamani seorang wanita. “Apa?!” “Kau tahu ... jika kau semakin dekat dengan Yang Mulia dan melahirkan banyak anak untuknya kau bisa diangkat menjadi selir utama.” “Selir utama? Kenapa selir itu terdengar seperti sangat spesial?” Freya selesai dengan pekerjaannya. Ia lalu duduk di tepi ranjang dan menghadap Elena. Ia terlihat sangat antusias. “Tentu saja. Menjadi selir utama adalah hal yang sangat luar biasa. Kau akan sering dikunjungi Yang Mulia Raja dan semua makhluk akan tunduk padamu.” “Termasuk Permaisuri Diandra?” “Pe-Permaisuri? Ti-tidak. Selir utama tetap berada di bawah pengawasan Permaisuri.” Freya tersenyum. “Ah, tidak asyik.” Dari awal bertemu, Elena sangat tak menyukai Permaisuri Diandra. Meskipun Sang Permaisuri itu cantik, tapi bagi Elena kecantikannya itu seolah hilang dengan sifatnya yang brutal. Bertindak sesuka hati dan sama sekali seperti tak menghargai Raja Harry. “Tapi ... tidak menutup kemungkinan jika Yang Mulia Raja melengserkan Permaisuri Diandra dan menikahi selir utama,” kata Freya dengan suaranya yang semakin mengecil. Ia memalingkan wajahnya. “Apa?! Apa maksudmu tadi?” Sebenarnya Elena masih sempat mendengar apa yang baru saja dikatakan Freya. Namun, ia ingin mengetahui lebih lanjut. Ia ingin mengerti apa yang baru saja terlontar dari mulut Freya. “Ti-tidak. Lupakan!” Elena menghela nafas berat. Ia lalu menyandarkan kembali punggungnya pada bantal. “Ya sudah. Aku pun tidak terlalu tertarik kepada Yang Mulia. Dia bukan pria tipeku.” “Lalu, bagaimana tipe pria yang kau maksud?” Jika menyangkut masalah pria, Freya sangat ingin tahu. Ia tampak bersemangat dan semakin mendekati Elena. “Manusia. Yang normal, sama sepertiku,” batin Elena. Mata gadis itu menatap mata Freya yang sedang menunggu jawaban. Hingga terbersit dalam pikirannya untuk menjahili wanita cantik itu. “Yang seperti Darrol!” jawab Elena dengan sangat jelas. Wajah Freya yang tadinya sangat antusias kini berubah menjadi wajah penuh kekesalan. Sudah dua kali ia menjadi sasaran kejahilan. Wajahnya cemberut sambil melipat tangan di d**a. “Hai! Dia pria milikku. Kau tidak bisa merebutnya!” “Jadi benar, kau dan Darrol memiliki perasaan satu sama lain?” selidik Elena. Wajah Freya kembali berubah. Pipinya berubah berwarna merah merona. Ia menengadah seolah sedang mengawang-awang. “Kau tahu ... selain dia tampan, dia pun kuat. Aku menyukai pria yang perkasa sepertinya. He he.” “Kalian berdua cocok,” celetuk Elena. “Benarkah?” “Iya. Jadi aku tidak akan mengganggu kalian.” “Oh, Elena ... terima kasih.” Freya sangat senang dengan ucapan Elena. Ia pun lantas memeluk gadis itu. Detik berikutnya, seorang pelayan membawa makanan pesanan Elena. Freya membantu menaruhnya di atas sebuah meja kecil. Freya menaruh meja kecil itu di atas pangkuan Elena. Gadis itu bersiap untuk makan di atas tempat tidur. “Terima kasih.” Elena mengambil sendok yang berwarna memas itu. Ia bersiap untuk menyantap makanannya. Freya kemudian membuka tudung saji itu dan tampaklah makanan yang membuat kedua alis Elena menukik ke tengah-tengah. “Ini apa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN