Sebuah Penolakan

1238 Kata
“Ini sesuai pesanan Yang Mulia Raja. Nasi merah dengan kalkun goreng tepung.” Entah Elena harus berkata apa. Matanya hanya melihat satu paha kalkun dengan terigu yang digoreng di sampingnya. Sesuai dengan apa yang baru saja disebutkan oleh seorang pelayan tadi, di sampingnya ada nasi merah yang dihidangkan di dalam satu mangkuk kecil. “Apakah aku akan kenyang dengan porsi sekecil ini?” Tanpa ragu, Elena makan dengan cepat. Rasanya ia sudah beberapa hari tidak makan. Entah karena terjebak dalam mimpi ini atau apa, ia merasa perutnya sering kelaparan. Untungnya paha kalkun yang besar mampu membuat perut Elena kekenyangan. Gadis yang satu ini memang memiliki hobi makan. Perutnya sudah seperti karet saja. Akan tetapi, entah kenapa tubuhnya masih tetap kecil. Freya melihat cara makan Elena yang berantakan. Rasanya ia sedikit mual. Namun, tiba-tiba saja ia meraih tangan gadis itu. “Berhati-hatilah! Makan dengan anggun dan perlahan ....” Freya membimbing Elena untuk mengambil garpu dan pisau. Ia menggerakkan tangan gadis itu dan memotong daging kalkun tersebut. “Tapi aku sangat kelaparan,” gerutu Elena yang memprotes sikap Freya yang seolah memaksanya. “Kau harus belajar!” Harusnya Freya memaklumi sifat Elena yang berbeda dengan kaumnya. Akan tetapi, ia merasa jika gadis itu harus dan perlu belajar sedikit demi sedikit tata krama kerajaan. Ia pikir, Elena sepertinya akan sangat berpengaruh pada sistem kerajaan kali ini. “Nanti saja! He he.” Elena melepas pisau dan garpu itu. Ia kembali memegang daging kalkun dengan tangannya lagi. Gadis itu sangat menikmati sarapan paginya meskipun sedikit aneh. Ia hanya berpikir, yang penting perutnya terisi. Yang penting ia makan dan masih bisa hidup untuk bisa kembali ke bumi. “Dasar gadis aneh ....” Freya putus asa. Ia hanya bisa mengalah dan berdiri, melipat tangan di d**a sambil menggerutu dalam hati. *** Yang Mulia berbaring di tempat tidurnya. Ia bermaksud untuk melanjutkan waktu tidurnya yang terganggu. Sudah dua hari waktu tidurnya tidak teratur karena harus menjaga Elena. Tidak harus memang, hanya saja ia merasa sangat ingin untuk menemani Elena setelah kejadian yang menimpa gadis itu. Entah kenapa, timbul rasa cemas di hatinya. Raja Harry mengatur posisi tidurnya. Menyamping ke kanan dan kek kiri, tengkurap dan terlentang. Matanya malah sulit untuk terpejam. Sulit baginya untuk tertidur lagi. Hingga ia meletakkan tangan di kepalanya sebagai bantalan. Ia menatap langit-langit kamar yang berwarna putih itu. Selalu terbayang wajah Elena yang cantik. Senyumnya seolah tak mau hilang dari ingatan. “Kenapa aku terus memikirkan gadis itu? Bodoh!” Rasa ingin tertawa, tersenyum sendiri membuatnya seperti seorang yang sudah benar-benar hilang akal. Ia kini tak ada bedanya dengan seseorang yang sedang kasmaran. Tiba-tiba ia merasakan geli di kakinya, seperti sentuhan. Menggerayangi. Raja Harry terkesiap. Ia hendak mengubah posisinya, tapi tak disangka Permaisuri Diandra menahannya. Mendorong kembali Sang Raja kembali ke posisi awalnya. “Permaisuri? Sejak kapan kau berada di kamarku?” tanya Raja Harry yang terganggu dengan kehadiran Sang Permaisuri yang tiba-tiba. Permaisuri Diandra kini berada di atas tubuh Raja Harry. Wajah mereka sangat dekat. Namun, Raja Harry justru ingin kembali bergerak untuk menghindari wanita itu. “Kenapa? Kau harusnya senang. Aku sengaja datang karena takut jika kau akan merindukanku.” Raja Harry tertawa sambil memalingkan wajahnya saat Permaisuri Diandra berusaha mencium bibirnya. “Jangan konyol!” Sedikit kesal memang, tapi Permaisuri Diandra bukanlah tipe wanita yang pantang menyerah. Semakin ditolak, ia akan semakin bertindak dan berusaha keras untuk mendapatkan hati Sang Raja. Permaisuri Diandra perlahan menurunkan pakaiannya berusaha untuk menggoda. Menampakkan lekuk tubuhnya agar menarik perhatian Sang Raja. “Mengakulah! Tidak ada seorang pun yang bisa menolak kecantikanku.” Bukan tidak normal, tapi hati Raja Harry yang dingin sama sekali tak tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Sang Permaisuri. Ia malah menaikkan kembali pakaian Permaisuri Diandra. Menutupnya kembali hingga rapi seperti semula. “Kau cantik? Coba tunjukkan senyum termanismu!” Kembali Permaisuri Diandra menurunkan pakaiannya sambil mengelus lembut pipi dan memainkan janggut tipis milik Sang Raja. Hatinya sangat marah dan tidak menerima saat Raja Harry menemani Elena. Selama dua hari ia tidak diberi kesempatan untuk mendekatinya. “Kau menantangku? Apa kau tidak akan menyesal telah mengatakan itu? Kau tahu, kau akan meleleh setelah melihatnya.” “Coba saja!” suruh Raja Harry dengan senyum yang meremehkan. Sebenarnya ia ingin menguji detak jantungnya yang tiba-tiba melemah saat berada di dekat Elena. Permaisuri Diandra perlahan tersenyum. Ia melukiskan senyum yang begitu menawan. Bahkan siapa pun yang melihat akan terpikat. Senyum termanis dengan wajahnya yang berseri. Semakin cantik saat senyum itu semakin merekah seolah bunga-bunga bisa mekar karenanya. Raja Harry menatapnya dengan saksama. Tak bisa ia ungkiri jika kecantikan Sang Permaisuri begitu istimewa. Berbeda, cerah, indah dan membuatnya sejenak lupa akan dunianya. Senyum Sang Permaisuri seakan bisa menghipnotisnya. Senyum yang menggoda, panas dengan tubuhnya yang sudah terekspos seperti itu. Namun sayang, jantung Raja Harry tak berdetak cepat seperti saat melihat senyum Elena. “Cukup!” “Bagaimana?” Permaisuri Diandra turun dari tempat tidur. Ia berdiri di hadapan Sang Raja. Ia sudah bersiap untuk menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhnya. Melihat itu, Raja Harry pun segera bangkit. Helai demi helai kain sudah menyentuh lantai. Namun, tangan Sang Raja tiba-tiba saja menahan pergerakannya. Hingga Permaisuri Diandra tertegun. “Kau memang cantik. Hanya saja aku tidak tertarik padamu.” Jleb! Bagai ditusuk pedang tepat di jantungnya. Hati Permaisuri Diandra merasakan sakit yang luar biasa. Ia masih tak percaya. Yang dilakukannya hanya diam dan mencerna setiap kata yang dilontarkan Sang Raja. Tangannya seolah kaku dan ia pun mengurungkan niatnya untuk melepas kain-kain itu. Raja Harry merapikan pakaian Sang Permaisuri. “Rapikan segera pakaianmu dan cepat tinggalkan aku!” suruh Raja Harry yang membelakangi Elena. Bersiap untuk kembali ke tempat tidurnya lagi. “Lalu? Apa maksudmu ... apa kau tertarik pada gadis itu?” selidik Permaisuri Diandra. Hati kecilnya menjerit-jerit. Raja Harry menghela nafas berat. “Jika iya, memangnya kenapa?” Ia berkata tanpa melihat lawan bicaranya. Sakit rasanya saat mendengar pengakuan Sang Raja. Pengakuan yang selalu ia takutkan. “Tidak bisa. Mana mungkin dia mampu merebutmu dariku.” Permaisuri Diandra memeluk Sang Raja dari belakang. Melingkarkan tangannya dengan erat. Ia menangis di punggung Sang Raja. “Berhentilah bersikap berlebihan!” “Tidak. Dia harus menghadapiku dulu jika ingin memilikimu,” kata Permaisuri Diandra di sela-sela isak tangisnya. Raja Harry menepis kedua tangan Permaisuri Diandra. “Terserah. Aku hanya ingin beristirahat. Pergilah!” Tangan Permaisuri Diandra yang lemah tentu saja mudah untuk dilepaskan. Hingga Raja Harry bisa dengan cepat kembali ke tempat tidur. Ia menyampingkan tubuhnya, menghadap ke arah lain dan tak mau menatap lagi Sang Permaisuri. “Kenapa kau selalu mengusirku?” “Aku tidak mengusirmu. Aku hanya menyuruhmu pergi.” Permaisuri Diandra meremas ujung pakaiannya dengan hatinya yang dongkol. Sakit yang teramat sangat. Ia pun memutuskan untuk pergi, tak mau berlama-lama di tempat itu hanya untuk mempermalukan dirinya saja. Sebelumnya, Permaisuri Diandra mengusap air matanya. Ia mengangkat wajah dan membusungkan d**a. Ia harus terlihat kuat sebagai wanita yang terhormat. “Oh, iya ... jangan pernah mengganggu gadis itu! Kau akan langsung berhadapan denganku jika itu sampai terjadi,” ucap Raja Harry sesaat sebelum Permaisuri Diandra benar-benar pergi meninggalkan kamarnya. Di luar, Permaisuri Diandra dipenuhi rasa kebencian. Ia marah dan rasanya ingin sekali membunuh Raja yang memperlakukannya seperti itu. Ia juga ingin sekali menyingkirkan gadis yang telah merebut hati pria yang dicintainya. “Lihat saja, aku tidak akan pernah tinggal diam! Aku tidak rela jika gadis itu mendapatkan hati Rajaku. Aku harus memulai rencana dari sekarang. Gadis itu semakin berbahaya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN