Semerah Buah Apel

1098 Kata
Kembali pada Elena, tiba-tiba saja ia yang sibuk dengan aktivitasnya terdiam kaku dan membuat Freya menatap aneh padanya. Elena menyingkirkan meja kecil di mana makanan yang disantapnya tinggal sedikit lagi. Ia lantas bangkit dan menyimpannya di sebuah meja di sana. “Apa kau sudah selesai?” “Ya!” seru Elena. Ia lalu menghampiri Freya yang sedang berdiri mematung bersama pelayan yang mengantar makanan tadi. Elena menggeser tubuh pelayan itu dengan pelan dan berdiri tepat di tengah-tengah memegang tangan Freya. Ia lalu meraih gelang emas yang dipakai wanita cantik itu. “Di mana aku bisa mendapatkan ini?” “Kau mau menggunakan ini?” tanya Freya memegang gelang yang dipakainya. “Ya dan bisakah kau meminjamiku pakaian yang sepertimu?” Pakaian yang dipakai Freya memang sangat menarik. Warna yang senada dan dengan bahan kain yang lembut membuat Elena merasa sangat ingin memakainya. “Tapi ... aku hanya mempunyai satu saja.” “Tak apa. Kau bisa melepaskannya dan aku akan memakainya tanpa sungkan.” “Ke-kenapa?” “Aku tidak menyukai pakaian ini. Warnanya bukan merupakan warna kesukaanku.” “Ba-baiklah.” Freya menyanggupi semua permintaan Elena. Setelah sang pelayan pergi, mereka berdua pun berganti pakaian. Elena sangat senang. Ia berdiri di hadapan cermin besar dan menatap dirinya di sana. Terlihat sangat berkelas dan gaun. “Kau sangat cocok memakai pakaian itu, tapi rasanya ada satu hal yang kurang,” kata Freya sambil memperhatikan Elena dari ujung kepala hingga kaki. “Apa itu?” “Wajahmu harus diberi sedikit sentuhan.” “Wajahku?” “Duduklah!” Freya mengajak Elena untuk duduk di meja rias. Ia mengambil beberapa alat make-up yang biasa ia gunakan. Sedang Elena hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan Freya. Alat-alat make-up yang digunakan terbilang unik meskipun saat diaplikasikan hampir sama dengan yang ada di bumi. Mata Elena terpejam saat tangan Freya mulai bergerak membubuhkan benda yang seperti bedak itu. Tangan Freya tampak sudah mahir melakukan hal tersebut hingga tak membutuhkan waktu lama, Elena pun sudah siap. “Buka matamu!” Perlahan mata Elena mengerjap, ia merasa sangat penasaran dengan tampilan wajahnya. Ia sangat antusias. Saat matanya terbuka lebar, tampak wajah Elena yang terpantul dari cermin. “Oh my God!” Mulut gadis itu menganga melihat wajahnya sendiri. Riasan wajah yang tak berlebihan membuatnya terlihat sangat cantik. Bahkan Elena sendiri tak pernah menyangka jika dirinya bisa secantik itu. Selama di bumi, ia pun tidak begitu memedulikan penampilannya. “Kau ... luar biasa!” ucap Freya terkesima. Terkagum-kagum dengan kelihaian tangannya dalam merias wajah seseorang. Namun, gadis itu tampak berbeda. Ia sangat cantik. Perona bibir berwarna merah jambu membuat Elena semakin terlihat manis. Menggemaskan. Freya meraih dan mencubit pipi gadis itu. “Kau cantik sekali ...” “Hai! Kau bisa menghapus semua riasan ini!” protes Elena marah. Pipinya semerah buah apel. “He he. Maaf ....” Sebelum Elena berdiri, ia membubuhkan bedak lagi di pipinya untuk menutupi bekas jari-jari tangan Freya. Lalu ia memeluk Freya dan kemudian berjalan seraya berputar mengibas-ngibaskan gaun yang dipakai Freya tadi. “Berhentilah! Kau membuatku pusing,” keluh Freya. Sayangnya, Elena masih saja berputar dengan tawanya yang menggelitik. Gadis itu bernyanyi riang. “Freya, bolehkah aku keluar sekarang?” “Terserah kau saja. Kepalaku terasa sangat berat, sepertinya aku butuh beristirahat.” Freya menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur yang dirindukannya. Tidur di kamar selir membuatnya merasa tak nyaman, tak terbiasa. “Ya sudah,” ucap Elena meninggalkan Freya yang terlihat sangat mengantuk itu. Ada rasa takut dan sedikit trauma memang saat Elena pergi keluar sendirian. Akan tetapi, ia pun perlu udara segar dan ingin berkeliling melihat dan menghafal tata letak setiap ruangan yang ada. Ia berjalan perlahan dan sedikit bersembunyi di balik tembok yang ia lewati bak seorang ninja. Gadis itu melihat banyak sekat-sekat yang tidak diperlukan di dalam kastel itu. Ia sangat bingung dengan desain kastel yang baru saja dilihatnya tersebut. Banyak ukiran-ukiran di dinding yang ia tak mengerti apa maksud dan makna yang terkandung. Ia tak peduli dan melanjutkan perjalanannya. “Setidaknya aku harus mengetahui isi kastel ini sebelum kembali terbangun.” Elena yakin jika tempatnya kini berada hannyalah sebuah dari mimpinya yang konyol. Ia pikir, ia harus terbiasa akan hal itu. Detik berikutnya, Elena melihat sebuah lorong yang bercahaya. Ia ikuti cahaya yang menyilaukan itu. Berjalan pelan seperti dibimbing oleh seseorang. Saat berada di ujung tembok pembatas, matanya terbelalak. Ia mendapati taman yang sangat indah. Ada air mancur yang keluar dari sebuah patung kuda. Banyak kupu-kupu beterbangan di antara bunga-bunga indah yang mekar. Cahaya matahari seolah persis terlihat seperti di bumi. Rumput hijau sedikit basah. Dedaunan menjatuhkan beberapa tetesan air. “Apa ini yang dinamakan syurga?” Elena melepas sepatunya. Ia menjatuhkan kakinya untuk menyentuh rumput itu. Menaikkan sedikit gaunnya. Rumput itu terasa seperti rumput yang ia injak di bumi. “Ya Tuhan ... aku bisa gila jika seperti ini. Bahkan aku sudah tidak bisa membedakan antara mimpi dan dunia nyata.” Elena melanjutkan langkahnya. Ia melihat bunga mawar merah dan putih yang ditanam secara berdampingan. Mereka tampak berseri dan rasanya ia ingin memetik salah satunya. Sayangnya, tiba-tiba ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya. “Wah, ada itu! Pasti itu enak.” Elena menyingsingkan lengan bajunya. Ia berjalan menuju pohon apel yang buahnya sangat lebat. Air liurnya seolah hendak menetes. Elena menelan ludahnya kasar. Kanan-kiri kepalanya bergerak mencari tongkat atau apa pun itu. Ia ingin memetik apel itu. Namun, sayangnya tak ada satu pun yang bisa ia gunakan di sana. Hingga sebersit pemikiran melintas di kepalanya. Elena memegang pohon itu seperti sedang memeluk seseorang. Kakinya sudah bersiap untuk bergerak. Ya, Elena bermaksud untuk memanjat pohon yang buahnya menjadi incarannya. Seingatnya, waktu kecil ia adalah anak perempuan yang sering memanjat pohon. Ia terbilang wanita yang sangat nakal. Dengan kepercayaan dirinya, lantas ia bergerak dan berhasil naik. Ia melihat buah apel merah yang tidak begitu jauh. Ia sudah siap untuk meraihnya, mengulurkan tangannya. Akan tetapi, jarak buah apel tersebut masih terlampau jauh. “Bagaimana ini? Tanganku masih tak sampai.” Tak habis akal, Elena kembali memanjat. Menaikkan tubuhnya. Ia berpegangan kuat saat tangannya kembali terulur. Buah apel semakin terlihat sangat dekat. Jari tengahnya sempat menyentuh kulit buah itu. Untuk mempermudah, tangan kiri Elena beralih dan memegang sebuah ranting yang agak besar. Sementara tangan kanannya masih mengincar buah apel. Namun, bukan apel yang ia dapat, justru ranting yang menjadi tumpuannya malah patah tak kuasa menahan beban, menahan berat tubuh gadis itu. Elena sangat terkejut, ia yang panik tak sempat berpegangan pada dahan yang lain hingga dirinya tak bisa berbuat banyak dan hanya pasrah. Ia terjatuh dan memejamkan matanya. Namun, tiba-tiba tangan seseorang berhasil menolongnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN