Angin malam berhembus, suasana kota yang sepi melengkapi malam sunyi ini. Alice duduk terdiam dengan tangan mengerat pada stir mobil. Tatapannya tajam menusuk menatap lurus ke depan. Perasaan bersalah melingkupi dirinya, dia tidak ingin melakukan hal itu. Kriing Kriing Matanya melirik ponsel disampingnya, tertera nama sang ayah. Kilatan amarah terlihat dari tatapannya. "Kau berhasil menabraknya?" Alice tidak menyahut, mau apa lagi ayahnya ini. "Aku sangat bersyukur mempunyaimu. Tugasmu masih belum selesai hingga dia mati ditanganku, atau ditanganmu?" Suara tawa terdengar dari ayahnya, tangan kanan Alice kembali mencengkram stir mobil. "Kau ingin apa? Ayah akan mengabulkannya." "Aku ingin berhenti mengikutimu. Berhenti menyuruhku untuk melukainya Yah! Dia adik lelaki yang aku cin

