Memasuki hutan lagi

1235 Kata
“Sir!” Neron mengikuti langkahnya sebelum pria tua itu akan memasuki ruangannya lagi. “Apa?” “Aku ingin belajar darimu, jadikanlah aku muridmu yang pertama jika, sir belum sama sekali memiliki murid,” ucap Neron tanpa ragu bahkan, matanya langsung menatap mata Abram tidak tampak ada rasa ketakutan sama sekali. “Kamu bodoh? Apa yang kamu bisa,hah?” tukas Abram dengan pandangan kecil menyipit seolah tengah meremehkannya."Menjadi muridku berarti kamu harus serba bisa dan mampu. Kamu jelas tidak memiliki bakat sihir. Apa yang bisa kuberikan jika aku saja ini seorang penyihir." Neron menggengam kepalan tangannya, dia tahu dirinya lemah tetapi, justru karena itu dia harus belajar sesuatu agar dia bisa kuat. “Karena aku bodoh dan tidak bisa apa-apa makannya, aku ingin belajar darimu, Sir?” “Sejak kapan kamu ingin belajar dariku? Neron … di sini kamu itu untuk melewati masa hukuman.” Abram memegang bahu remaja di depannya, yang selalu dipanggilnya dengan sebutan ‘Bocah bodoh’ meski, sebenarnya tidak bodoh. “Aku hanya sayang jika remaja-remaja sepertimu mati muda di sini! Jadi, aku menyelamatkanmu, Mengerti?” “A-aku ingin jadi orang kuat! Karena aku tidak punya Mana, yang berarti tidak bisa menggunaakan sihir aku jadi lemah. A-aku perlu sesuatu untuk menjadi kekuatan baru untukku. Anda bisa membuat ramuan j-jadi … bisa saja aku jadi alchemist seperti Anda., Sir.” Abram langsung menampiknya dengan menggelengkan kepalanya. “Aku sudah bersumpah tidak akan mengambil seorang pun jadi murid terlebih, … itu kamu! Neron,” panggilnya dengan tatapan mata yang kuat. “Bukan hanya untuk jadi menjadi penyihir tapi, untuk jadi seorang Alkemist pun dibutuhkan kekuatan yang bisa membuat ramuan itu sempurna dan aku tidak bisa melakukannya. Ramuan yang kamu buat akhirnya, hanya jadi ramuan biasa.” Kepala Neron jatuh ke bawah, patah lagi semangatnya. Hatinya tiba-tiba sangat marah. “Kalau begitu apa ada yang bisa kulakukan?” tanyanya dengan mata penuh pengharapan. “Ada, sepertinya banyak hal yang bisa dilakukan juga oleh orang yang tidak punya bakat sihir? Bukankah yang seperti itu, kamu lebih tahu? Aku tidak pernah kembali lagi ke dunia atas jadi, tidak tahu apapun. Kamu pasti pandai dalam hal lainnya seperti memasak… kamu lebih baik dariku. Tekunilah hal itu!” “Ah, iya,” jawab Neron setengah hati. Perasaannya sedikit terluka karena jawaban Abram akan sedangkal ini jika, hal seperti itu dirinya tahu. Bukankah dulu dirinya juga pernah berpaling setelah ritual Mana-nya tidak seperti diinginkannya tapi, kali ini meski, kesempatannya kecil Neron tidak ingin menyerah… “Mungkin –kah, ada hal yang bisa membuatku bisa menggunakan sihir?” tanya Neron lirih dan ragu-ragu. “Di dunia ini belum ada yang bisa membuka aura Mana sendiri. Mana itu jelas terbawa sejak terjadinya kelahiran jadi, tidak mungkin ada orang yang sudah sejak lahir tidak membawa bakal Mana bisa menjadi penyihir.” ‘Sejak lahir … tidak memiliki Mana … maka, tidak ada bakat… maka tidak bisa jadi penyihir. Aku sudah sangat tahu hal itu tapi, sungguh tidak bisakah?’ setelah melepaskan pikirannya itu. Neron memilih berbalik pergi dan mengucapkan terima kasih. “Sir, terima kasih! Aku pergi.” Abram melihat punggungnya Neron, menjauh semakin jauh. Menggeleng sedikit sedih, melihat sosoknya yang putus ada pikirnya tetapi, memang selama dia hidup, belum pernah dirinya mendengar ada orang lain, yang bisa membangkitkan Mana di atas usia dua belas tahun. Dua belas tahun adalah batas maximal di mana semua orang itu akan dibedakan menjadi orang yang memiliki kemampuan atau tidak. Teringat kekecewaanya saat itu, Neron harus menyerah. “Anak yang malang,” ujar Abram lalu pergi ke tujuan semulanya.“ Tidak bisa menggunakan sihir tetapi, sangat nekat tinggal di dunia sihir. Apa yang dia pikirkan. Sia-sia saja kegigihannya itu. Neron berlari ke luar, dari halaman melihat kejauhan ke dalam hutan yang gelap di mana hanya terlihat kegelapan tetapi, juga penuh harta karun. Di dunia selalu ada pepatah yang mengatakan di mana ada kesulitan maka, juga ada kemudahan. Di mana ada gelap maka, ada juga terang. “Sial!” Tiba-tiba saja karena kesal memenuhi dadanya, Neron memukul kakinya lalu, merunduk memeluk kakinya sendiri dengan sedih dan patah hati. “Jika tidak ada jalan, apa aku tidak bisa membuat langkahku sendiri? Aku ingin seperti mereka.” ** “Wow, wow!” seruan kekaguman itu keras sekali. Semua ingin bergerak maju ke depan tetapi, Sayang … mereka terlalu takut dengan tatapan mengintimidasi guru praktek mereka. Sir Simon. Oris tidak bisa tidak bangga dengan dirinya sendiri, baru saja dia berhasil melakukan sihir praktik dengan membuat bola angin yang bisa bertahan selama satu menit. Sebelumnya, Oris tidak bisa melakukannya. Konsentrasinya selalu buruk dan tidak percaya jika, element angin yang dia miliki ternyata bisa melakukan bentuk apapun. Kemampuan yang bisa dia pakai biasanya adalah mengambil udara disekitarnya lalu, melakukan gelombang angin yang lebih besar. “Oris, aku akan memberimu A+. Kamu paling pandai menyerap pelajaran dan praktekmu juga luar biasa dalam sekali percobaan.” “Terima kasih, Sir, tapi, sepertinya hal itu hanya kebetulan semata,” jawabnya menunduk malu dengan telinganya memerah karena disanjung. “Itu pantas, tidak ada kebetulan untuk kedua kalinya bukankah, kamu sudah membuktikannya juga. “Sekali lagi, Terima kasih, Sir.” “Jangan pikirkan hal itu,” ujar Simon, lalu menunduk berbisik di telinga Oris. “Belajarlah dariku lebih banyak jika, bersedia datanglah untuk latihan lagi di lain waktu. “ Oris mengangguk lalu, berbalik kembali ke tempat duduknya lagi yang juga di sambut tepuk tangan meriah teman-temannya. Oris sekali lagi menjadi, sedikit kewalahan juga. “Kalian berhenti menyanjung, tenanglah semua mari belajar lagi, Ok?” “Aish, kamu sangat rendah hati sekali!” Bam merangkul lehernya, menepuk bahunya sangat bahagia seolah dirinyalah yang baru saja mendapat pujian dari gurunya. “Tapi, Oris kamu sungguh sangat berbakat! Aku jadi Iri dengan kemampuanmu andai .. aku bisa sedikit saja.” Oris tersenyum tidak sampai bibirnya, entah kenapa dia tidak merasa nyaman dengan semua sanjungan teman-temannya. Bukankah mereka juga sangat baik, jika tidak. Untuk apa mereka berada di sini. “Jangan mengatakan hal itu kamu juga sama hebatnya.. yang tadi hanya keberuntungan jadi, lebih baik kita lebih rajin praktek saja. “Y-yah, yah. Tentu saja,” sahut Ben malas, dia masih ingin bersenang-sedang tidak ingin terus praktek sungguh, melelahkan jika Mana yang dimiliki pun menurun sekektika dan dia hanya bisa menunggu terlebih dulu sampai kemampuannya pulih. “tapi, kan .. aku juga harus menunggu Mana-ku pulih. Oris berapa kali kamu bisa praktek?” “Dua atau tiga kurasa jika, bola angin seperti itu yang kubuat.” “Hah, itu sudah bagus sekali!” Ben menjadi Iri lagi. Oris juga bisa melihatnya jika, teman barunya ini tengah memperhitungkan dirinya. Tidak terlalu buruk tetapi, juga tidak cukup menyenangkan. Pikirannya sudah terbuka bagaimana harusnya mencari teman sejawat terutama di Academi besar seperti ini. Pengalamannya adalah guru terbaik jadi, untuk mencari teman dan persahabatan meski, pernah sangat dikecewakan oleh orang yang bernama sahabat sejak kecil sekaligus saudara seperti Neron. Kali ini Oris masih ingin berpikir memiliki teman tetapi, dia harus lebih selektif. tidak boleh asal dan jika memungkinkan, dia harus bergaul dengan orang-orang yang lebih mampu darinya sehingga tak ada kasus pencurian terakhir kali yang menyebabkan kerugian baginya. Sungguh pemikiran sederhana dari orang yang pernah dikecewakan padahal, persahabatan tidaklah bergantung pada kemampuan individu atau,juga akan ada atau tidaknya suatu kasus dimana adanya keadaan saling mencuri jawaban diantara teman. Ikatan persahabatan itu adalah dimana hati dan pikiranmu bersedia menerima dan memberi respon lebih baik entah seperti rasa simpati atau rasa bahagia pada lawan bicaramu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN