Sekali lagi mata Neron menyipit dengan telinga yang mencari-cari di mana arah asal suara tersebut sampai, akhirnya ada sesuatu yang mendekat “Oh, apa sialan! Makhluk itu?” tanyanya bingung. “Apa itu lebah?”
Setelah mengatakan hal itu, Neron berlari ke arah yang sudah ditujunya sambil menengok pada sekelompok makluk hitam yang terlihat lebih besar dua atau tiga kali lebih besar dari lebah biasa. Sudah pasti itu lebah monster yang hanya akan dia temui di hutan kegelapan ini. Meski, begitu Neron masih belum bisa menentukan ke arah mana lebah itu pergi atau alasan kenapa lebah itu terbang berkeliaran berkelompok itu saat dia sedang berjalan-jalan.
“Memang, tidak pernah ada jalan yang mulus,” ujar Neron sambil berlari ke arah yang bisa dia ingat begitu juga sambil memerhatikan jejak yang sudah dia tinggalkan. Sayang, ternyata itu juga tidak mudah saat dia di desak karena kecepatan matanya terbagi dua focus jalan, satu melihat lebah itu yang sepertinya membuntutinya dan yang lain mencari-cari jejak yang ditinggalkannya sebelumnya.
“Oh, tidak!” ratapnya setelah linglung sesaat tetapi, dia tidak bisa berhenti bergerak begitu saja karena sekelompok bintik hitam yang terbang bergerak pasti ke arahnya. “Sepertinya aku sudah menarik perhatian mereka,” ucapnya dengan peluh keringat dingin membanjiri tubuhnya yang jadi, semakin gugup.
Tidak ada alasan untuk tetap tinggal meski, harus tersesat Neron terus berlari mencari jalan selamat terlebih dulu. Sampai sepertinya dia mendengar suara air terjun di tengah dengungan suara lebah hitam. “Air terjun? Tapi, coba sajalah,” ujarnya sambil berlari bingung dan benas saja apa yang dilihatnya itu adalah air terjun meski, tidak besar dan luas tetapi, cukup untuk membuatnya selamat dari kejaran para lebah.
Byurrr!
Neron melompat dari jarak yang masih cukup jauh meski, sudah merasakan hawa dingin disekitarnya dia tidak menyangka jika, berada di dalam air sudah seperti berada di dalam kepingan es. ‘Sial harus berapa aku tinggal di sini?’
Menahan napas di dalam air yang sedingin air es sudah merupakan siksaan dua kali lipat untuk Neron ditambah, matanya yang harus terbuka untuk melihat sekitar. Di dalam air sangat gelap tidak ada yang bisa dilihat jadi, focus Neron hanyalah ke atas permukaan air. Tiga menit berlalu, tidak lagi bisa menahan napas Neron menjulurkan kepalanya untuk mencoba bernapas sial belum wajahnya yang muncul ujung kepalanya terasa kesemutan karena dengungan lebah berada di atasnya ternyata. ‘Sial!’ pekiknya dalam hati.
Tidak ingin terus menunggu, Neron mulai berenang mencari ujung sungai. Mungkin saja dia bisa selamat tetapi, sayang saat dia mulai keluar dari permukaan air ternyata lebah sialan itu masih bergumul memenuhi semua permukaan air. Neron sudah hampir mati kedinginan dan tidak mungkin bertahan lebih lama di dalam air satu-satunya harapannya yaitu membuat lebah-lebah itu pergi. Tapi, bagaimana caranya?!
Neron ingin menampar pipinya sendiri, menyentuh sesuatu di pinggangnya dan baru saja dia menyadari sesuatu. ‘Sialan! Aku kan punya bubuk api seharusnya sejak tadi aku ingat dan tidak perlu masuk ke air.’ . Tanpa, berpikir ulang lagi dia hanya bisa berharap jika, bubuk api dalam kantongnya masih bisa digunakan lalu setelah itu… Neron keluar dari dalam air dan langsung berlari ke daratan dan benar saja sekejap mata lebah-lebah itu mengikutinya.
Dari tangannya, Neron sudah menyiapkan segenggan bubuk api setelah keluar dari air dia segera merogohnya. Sambil berlari dan tahu diikuti para lebah tersebut, Neron langsung melemparkannya sedekat mungkin dari lebah-lebah itu yang cepat sekali menyebranginya dan Blar…Blar…blar!!!
Suara berutun datang dengan percikan api. Bubuk api yang digunakannya ternyata berhasil, melihat hal itu kepercayaan diri Neron bertambah dia melempar lagi segenggam bubuk api pada lebah-lebah hitam di belakangnya lalu menyembunyikan dirinya sendiri di balik pohon besar sambil memerhatikan situasi. Percikan api yang sudah tersulut ternyata tidak berhenti di satu titik saja, tiba-tiba lebah-lebah hitam yang sudah meledak diikuti ledakan para lebah lainnya dan batu-batu kerikil jatuh bertebaran dari sana.
Neron yang melihat itu tertegun tidak percaya, dia belum berani pergi tetapi, memastikan terlebih dulu jika, para lebah hitam itu sudah mati semua. “Apa mereka semua sudah mati?” tanyanya bingung sekaligus resah khawatir masih ada lebah lainnya yang datang bergerombol tetapi, setelah memastikan denngan waktu yang lama dan tidak lagi mendengar dengungan lain dari para lebah. Neron berani berjalan keluar untuk mendekat.
“I-ni?” Neron melihat dibekas-bekas keberadaan hewan para lebah itu jatuh berubah menjadi sesuatu. Neron mengambilnya dan mengamati karena tidak mungkin salah dia tahu jawabannya. “Ini Kristal yang seperti terdapat di kepala monster ular dan macan itu? Jadi, benar saja lebah-lebah hitam tadi bukan asal lebah tapi monster lebah. Dilihat ukurannya pun lebih besar.”
Neron akhirnya bisa menarik napas lega, tidak percaya dia baru saja selamat dari sengatan panas para lebah hitam jika, dirinya tidak selamat apa yang akan terjadi padanya? Dan, seberapa besar rasa sakitnya ketika disengat. Neron tidak bisa membayangkanya pasti rasanya sakit sekali. Beruntung untuknya yang Berhasil mengatasi hal ini meski, harus terlebih dulu melompat ke dalam air terjun.
“Tidak buruk meski, harusnya aku tidak perlu kedinginan seperti ini,” ucapnya tiba-tiba merasa menggigil. Lalu dengan tergesa Neron segera memunguti Kristal-kristal yang sudah menyebar di tanah meski, tidak tahu kegunaan mereka hal itu setidaknya bisa membuktikan dia bisa melawan monster jika, persiapannya matang dan monster-monster itu bukan monster langka yang sangat kuat.
Puas dengan hasilnya Neron, mendapatkan sekantung penuh Kristal kuning pucat yang hampir sebanyak dua ratus buah. “Apa yang harus kulakukan dengan hal ini, yah? Apa aku bisa bertanya pada Sir Abram … ck, harusnya aku tidak terlalu bodoh tidak mengetahui apapun soal dunia sihir ini,” ucapnya menyesal karena sebelumnya yang dia lakukan hanya bermain-main dan tidak mementingkan hal apapun di matanya.
“Lalu, sekarang hal yang merepotkan lainnya dimulai!” Neron yang sudah berdiri tegak dengan tubuh kuyu dan basah kedinginan melihat ke segala arah hutan. “Aku harus berjalan ke arah mana sekarang?”
“Oris!”
“Senior,” sahut Oris berbalik melihat orang yang memanggilnya.
“Panggil saja namaku, Fred!”
Oris mengangguk sedikit malu tetapi, mengatakannya juga. “Baik, Fred.”
“Itu, bagus! Rasanya kita jadi dekat,” sahut Fred sambil membawa mereka berjalan menyusuri lorong. “Kamu mau ke mana?”
“Ke perpustakaan.”
“Ah, aku juga,” ujar Fred seperti menyesuaikan jawabannya.
Oris melirik Fred dengan sudut matanya, sebelumnya dia sedikit terkejut saat pertama kali ada seorang senior yang menyapanya karena selain Marvella dia tidak mengenal siapapun di kelas senior tetapi, tiba-tiba orang yang bernama Fred Hansel, yang dia tahu menjabat sebagai wakil President student council mendekatinya seolah mereka sebelumnya pernah mengenal.
“Fred, apa kamu ingin mengatakan sesuatu?”
Fred langsung mengangkat satu alisnya, orang di sampingnya ternyata bisa menebak dirinya. “Apa terlihat jelas?”
Oris mengangguk sambil tertawa. “Kalau begitu kita jangan ke perpustakaan saja, kita bisa duduk di sana!” Tunjuk Oris pada bangku kosong yang terdapat di beberapa sudut lorong. Tentu Fred tidak menolak, keduanya duduk dengan santai dan tanpa disangka Fred mengeluarkan dua botol minuman serta dua buah roti untuk mereka makan setelah, mengucapkan terima kasih Oris tidak ragu menerimanya.
“Katanya kamu sudah mendaftarkan diri jadi anggota council ya?”
“Yah, meski sebenarnya merepotkan tapi, katanya jika jadi anggota council kita bisa lebih bebas dan akan diberi keleluasaan.”
“Sebenarnya itu tidak juga malah, kamu akan semakin sibuk. Aku jadi wakil council saja karena ditipu… ha haha,” ujar Fred sambil tertawa, yang membuat Oris malah tidak bisa tertawa. “Kamu mau tahu suatu rahasia?”
“Apa?”
Fred memberi perintah dengan tangannya untuk mendekat, kemudian berbisik di telinga Oris. “Semua anggota council sebenarnya sudah terpilih secara rahasia dan mereka hanya membodohi siswa lain yang ingin ikut tapi, tenang …” Fred menepuk punggung Oris. “Namamu sudah ada di sana. Karena kamu anak berbakat.”
Pipi Oris merona merah karena malu juga senang, senyumnya tertarik puas. “Terima kasih, sungguh kabar yang menyenangkan.”
“Yah! Selamat untukmu…, meski aku seharusnya tidak memberitahumu.”
“Lalu, apa yang mau kamu katakan, Fred? Sepertinya bukan soal ini, kan?”
Ibu jari Fred teracung , menunjukan jika Oris benar. Lalu dengan sedikit berhati-hati mulai bertanya, “Aku ingin tahu soal Neron. Apa dia benar-benar orang yang tidak punya bakat? Maaf, mungkin kamu tidak suka jika aku membicarakannya tapi, aku sungguh penasaran karena … “ Fred terdiam sesaat melihat perubahan wajah Oris terlebih dulu. “dia seperti sudah jadi, temanku.”
“Teman?” Oris tentu saja terkejut karena, yang dia tahu. Saat itu Neron harus ketahuan dihari pertamanya dan tidak mungkin dia sudah memiliki teman.
“Yah, kami sudah jadi teman perjalanan saat datang kemari.”
“Dia benar-benar penipu juga pencuri…dia juga tidak punya bakat sihir,” jawab Oris menjadi sangar dingin. “Fred, kamu masih ingin jadi temannya. Aku ini sepupunya sekaligus teman masa kecilnya dan dia mencuri barang berharga milikku. Apa kamu tidak takut dia melakukan hal itu padamu yang jadi, teman barunya.”
“Jangan terlalu berpikir terlalu jauh … aku hanya ingin tahu apa dia benar-benar tidak berbakat dan merasa sangat menyedihkan sekali. Dia pasti sangat putus asa ingin masuk ke academi untuk bisa belajar sihir.”
“Huh?” Oris terkejut lagi dengan kata-kata Fred. Dia tidak pernah tahu jika, Neron sangat putus asa ingin belajar sihir. “Tapi, Neron sangat bodoh. Dia tidak suka belajar apalagi mengenai sihir setelah, ritual Mana di mana dia klaim tidak punya Mana … dia tidak pernah belajar soal apapun tentang sihir.”
Tiba-tiba saja Fred makin berwajah sedih. “Tentu saja, dia akan melakukan hal itu.”
“Maksudnya?”
“Itu karena rasa kecewanya yang besar dan Iri. Saat orang lain menggunakan sihir dia tidak bisa melakukannya dan hanya menjadi penonton di samping jelas itu, sangat menyakitkan sehingga dia memilih tidak peduli dan … sepertinya dia jadi, khilaf setelah melihatmu akan ke sini dia jadi berbuat nekad dan mencuri surat undangan masukmu.”
Oris tertegun sesaat, tidak pernah berpikir sampai sana. “Tapi, apa seperti itu. Neron jadi, sangat menyedihkan lalu dengan mudahnya bisa mencuri?”