Setelah perbincangannya dengan Fred, Oris masih saja tidak mengerti sebenarnya apa maksudnya seniornya itu, yang hanya baru berteman satu hari saja dengan Neron bisa berbicara sampai sana. “Jadi, dia ingin aku melakukan apa? Memaafkannya? Hah, memangnya semudah itu? Dia, kan hampir saja merugikanku?”
“Kamu sedang bicara dengan siapa?” tanya Ben, yang melihatnya dari samping.
“Kamu masih belum tidur?” tanya balik Oris.
Ben berdecak, kembali menyelimuti dirinya dan berbalik tetapi dibatalkannya dan menghadap kembali pada Oris. “Aku tidak bisa tidur karena kamu terus berbicara sendiri. Apa kamu punya masalah?”
“Hm,” jawab Oris dengan berdeham mengiyakan pertanyaan Ben.
“Lalu?” tanya Ben lagi tetapi, melihat Oris yang kembali diam dengan baik hati dia berbicara lagi. “Kamu tidak mau bicara denganku saja? Ayo, katakan apa masalahmu? Jangan hanya bisa bicara sendir atau kamu pendam… itu tidak akan membuat masalahmu selesai. Lebih baik kamu bisa berbagi dengan orang lain. Dua kepala lebih baik daripada sati.”
Oris melihat Ben dengan hati-hati, tersenyum santai. “Bukan masalah terlalu penting tetapi, terima kasih. mendengar kata-katamu barusan setuju tapi, lebih baik lain kali saja aku bicara tentangku ini. Dan, selamat tidur, Ben.” ujar Oris sambil lalu memunggu
Ben hanya bisa menghela napas, berbalik tidur tidak mengatakan apapun lagi berbeda dengan Oris yang masih membuka matanya tidak bisa tidur karena memikirkan Neron, yang seharusnya dia benci sampai tidak akan pernah dia maafkan lagi bahkan, jika bisa beri dia pukulan dan membuatnya menyesal sampai tidak pernah bermimpi lagi untuk bisa mencuri hak orang lain. “Aku sangat kesal sampai tidak bisa tidur karenanya? Bagaimana dengannya sendiri… ? Apa dia bisa tidur dengan nyaman?”
Seperti khayalan jika berpikir Neron bisa tidur dengan nyaman karena yang sebenarnya dia tengah terhuyung-huyung masih berjalan di tengah hutan dengan keadaan kedinginn karena, sebelumnya bajunya yang basah kuyup. Lalu, saat mencari jalan pulang dia harus tersesat lebih dulu beruntung sebelum benar-benar gelap dia bisa melihat bekas-bekas jejak yang ditinggalkannya dan untuk menerangi jalannya Neron juga membuat obor dan apinya berasal dari bubuk api.
Sambil terus memegangi obornya dan memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan hampir setengah mati Neron terus memaksa berjalan secara hati-hati. Kegelapan adalah waktu yang paling baik untuk monster-monster di dalam hutan beruntung dia menghentikan pikirannya sendiri untuk menginap di hutan sana entah, keberanian darimana hal itu berasal meski, sebelumnya dia juga sudah menemukan gua kosong di dekat air terjun tetapi, dipikir lagi bisakah aman tinggal di sana.
“S-sepertinya tidak jauh lagi,” ujar Neron sambil tetap memeluk tubuhnya yang dingin. Bibirnya sudah membiru karena menggigil kedinginan bahkan, kobaran api yang sedang dipegangnya tidak cukup. Hari sepertinya semakin malam dan pandangan mata semakin menurun karena kabut tebal disekitar sehingga, Neron pun harus lebih berhati-hati dengan langkahnya.
“A-aku akan baik-baik saja, bukan? Kumohon Dewa yang paling agung siapapun selamatkan aku,” pintanya.
Langkah Neron akan berhenti di setiap pohon, mencari jejak yang ditinggalkannya sungguh keberuntungan yang besar. Dia tidak menemui monster lain meskipun, diam-diam harus menarik napas tegang karena berulang kali selalu terdengar suara-suara monster yang seolah tengah mengaum marah pada kegelapan. Karena, ternyata bukan hanya manusia yang kesulitan melihat di tempat seperti ini tetapi, begitu juga para monster itu.
Jauh di depan dalam beberapa meter, Neron bisa melihat cahaya yang sangat samar di tengah-tengah kabut. Tidak bisa menyembunyikan kegembiraanya, kakinya ingin sekali segera berlari menghampiri tetapi, dia tahan lebih baik berhati-hati dengan kewaspadaan. “Ah, sialan! Bagaimana aku bisa tahan!” pekiknya kesal sendiri dan mulai mengingkari pikiran baiknya dan malah berusaha berlari dengan langkah cepat, ingin segera memastikan. Jika tempat itulah yang dia tuju.
“Aa-akhinya!” pekik Neron ingin sekali meneteskan air mata melihat rumah yang hanya ada satu-satunya di tengah pulau Blackfog. Tempat yang sudah dilingkari sihir di mana tidak ada monster yang akan mendekat, tempat teraman di pulau ini ahh, bukan hanya aman tetapi, juga menjadi tempat terhangat dan indah dipulau yang gelap dan dingin ini.
Brakk! Pintu belakang terbuka lebar setelah dibuka paksa dengan kekuatan bahu Neron yang sudah hampir kehabisan tenaga. “A-aku pulang,” ujarnya yang kemudian tersungkur di lantai karena kelelahan.
Abram dan Taemu si Kodok cukup terkejut melihat Neron yang tiba-tiba datang lalu, jatuh tersungkur tetapi, keduanya seolah tidak melihatnya kembali melanjutkan makan malam mereka mengindahkannya yang tergeletak dengan pose tangan terangkat seolah meminta tolong tetapi, tidak bersuara dan hanya tatapan malangnya saja yang terlihat.
“Kwok! Bangunlah… Kwok! Kamu tidak mau makan malam?” Akhirnya dengan baik Taemu membuka mulut besarnya tidak tega dengan tubuh bergetarnya.
Dalam hati Neron yang kelelahan secara fisik hanya bisa terus mengumpat melihat sikap dingin kedua makhluk jenis tersebut. meskipun, dia sudah berusaha meminta simpati. ‘Sialan! Mereka mengabaikanku … dasar makhluk-makhluk jahat!’ ucapnya sambil berusaha merangkak, menarik kakinya yang sudah kelelahan sampai naik ke atas kursi berusaha untuk naik dan duduk.
Sretttt! Lidah panjang dan basah Taemu menggesernya membuat akhirnya Neron bisa duduk meski, jijik tetapi beberapakali dilakukan seperti itu Neron bisa bertahan dengan cepat. “A-aku lemas sekali,” lirih Neron sambil lalu melihat ke dalam mangkuk makannya dengan tangan bergetar berusaha memegang sendok makan di sampingnya.
Setelah mengumpulkan kekuatan terakhir akhirnya dengan rasa kelelahan luar biasa Neron bisa menyuap demi suap sup yang sudah dibuatnya. “Ini hangat,” ucapnya dengan mata lirikan kecil tentu sudah pasti sir Abram yang sudah memanaskan makanan yang dibuatnya tadi. Selesai menghabiskan makanannya Neron masih belum bisa menghilangkan kelelahannya, dia sekali lagi ingin ambruk di atas meja tetapi, mendengar suara Sir Abram hal itu urung dilakukan.
“Apa yang kamu lakukan hari ini?” tanyanya datar sambil melihat secara seksama pada Neron. “Kamu pergi ke hutan?”
Neron menelan ludah sedikit takut tetapi, dia lebih takut dengan monster diluaran sana. “Yah,”lirihnya tanpa memberi alasan lain.
“Kwok! Buat apa kamu pergi ke sana…Kwok!”
Otak Neron berputar mencari alasan terbaik dan sepertinya dia menemukannya. “S-sebelumnya aku hanya bosan lalu, mencoba mencari bahan makanan baru. Sayuran belum banyak tumbuh lagi.”
Giliran Abram yang menghela napas, dia masihlah manusia butuh makan meskipun, dia bisa membuat ramuan untuk menahan lapar tetapi, rasanya tetap saja dia merasa membutuhkan makanan untuk mengisi mulut dan perutnya tetapi, karena bukan hanya bahan makanan yang langka dulu dia dan Taemu tidak pandai memasak dan makan sangat sederhana tetapi, semenjak kedatangan Neron. Menu makanan baru mereka bertambah dan itu semua lezat tetapi, tentu membutuhkan lebih bahan yang ternyata perlu diolah.
“Si petani kelinci itu benar-benar pelit dan tidak mau membantu kita jika, saja dia memberikan kita persediaan makanan …aku akan membayarnya apa yang dia mau.”
“Benarkah?” Neron terkejut dengan ucapan Abram yang serius tidak menyangka ternyata, dia sudah membuat pria tua itu tergila-gila dengan makanan. “Jika saja kita tahu apa yang dia butuhkan, kita mungkin bisa barter dengannya.”
“Kwok! Kamu benar …kwok! Kita bisa barter. Bisakah aku yang menanyakannya?”
“Lakukanlah!”
Neron menarik napas lega, sekarang dia tidak ingin bicara apa-apa lagi dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Rasanya tubuhnya pun mulai merasa deman, dingin dan panas terasa menusuk-nusuk tulang di tubuhnya. “A-aku kedinginan bisa aku beristirahat sekarang.”
“Tapi, kamu belum bicara apa-apa,” kata Abram seakan menolak kepergiannya dan meminta penjelasannya lebih panjang.
“A-aku terjatuh ke air, sungguh dingin! Hah..hah… bisakah ?”
Abram menelisiknya dengan mata tuanya yang sudah terasah sangat lama. Dari kaca mata pencariannya, dia sedikit curiga pada Neron tetapi, tentang apa dia perlu mencurigai bocah tanpa kemampuan tersebut. “Neron, apa kamu bertemu dengan serangan lebah?”
“T-tidak!” diam-diam Nerom menyembunyikan hal tersebut, entah kenapa tetapi,rasanya masih tak nyaman lebih baik dia bersama orang lain. “Aku pergi!” ucapnya pasti beranjak dari sana.
“Kamu menciumnya juga?” tanya Abram pada Taemu.
“Kwok!” jawabnya menyettujui
“Apa dia pergi terlalu jauh? Kenapa sampai terlambat dan kenapa harus berbohong pula.”
“Kwok! Aku tidak tahu …Kwok! Mungkin dia malu terjatuh di air. Kwok!”
“Yah, benar juga! Ayo, istirahat biarkan anak itu yang membereskannya di pagi hari.”
Di dalam kamar, Neron yang sudah membersihkan diri langsung menerjang ranjang tuanya lalu, menarik selimut dan membelitnya ,agar tidak lagi kedinginan. Neron merogoh sesuatu membuka serutannya untuk melihat benda-benda di dalam sana yaitu, Kristal-kristal kuning, yang berkilau dan indah. “Sebenarnya apa kegunaan kristal-krystal ini?”
Di saat Neron mempertanyakan hal tersebut. Sesuatu terjadi pada Kristal-kristal di tangannya, Aura kuning di tempat-tempat itu, tiba-tiba berubah menjadi hempasan Angin lalu turut menghilang setelah itu tubuhnya sedikit mengalami perubahan ada sensasi panas dari tangannya naik merambat keseluruh bagian tubuhnya.