Kembali ke Academi

1856 Kata
“Aish, aku tidak percaya anak sepertimu bisa kembali lagi,” cibir remaja dengan rambut cepat dengan pipi berbintik-bintik merah di wajahnya. “Yah, seharusnya dia mati saja di sana? Tidak disangka kamu masih bisa hidup padahal kemampuan sihir pun kamu tidak punya,”sahut temannya yang lain dan dengan kasar menarik lengan Neron. “Berjalanlah lebih cepat!” Neron yang diperlakukan kasar menerimanya untuk saat ini meski, dalam hatinya dia sudah ingin membalas dan melawan mereka dengan kepalan dua tangannya. Lagi-lagi dia akan dalam masalah jika, melakukan hal itu padahal hari ini merupakan awal langkahnya kembali ke Academi setelah dalam masanya hampir satu bulan lebih dia tinggal di Pulau Blackfog bersama sir Abram dan sir Taemu, sungguh rasanya baru kemarin dia dilemparkan dari tebing untuk memasuki pulau tersebut. Kemarin lusa setelah dia mendapatkan batu kristal biru dari telaga air terjun dia langsung mendapatkan kabar jika, hukumannya sudah selesai dan dia akan dikembalikan ke academi secepatnya. Malam itu tentu jadi malam terakhir mereka, tampak sir Abram dan sir Taemu berbeda keduanya tidak sepenuhnya senang dengan kepergiannya. Tentu saja, jika bukan karenanya mereka yang sudah hidup di hutan yang sepi dan dingin tidak tahu makanan enak, tidak tahu nyamannya kastil mereka yang bersih karena dia bersihkan. Neron bangga juga bahagia karena pernah berada di tempat itu tapi, juga bahagia bisa terlepas dari sana dan bisa merasakan hangatnya matahari lagi. Sampai tidak bisa membayangkan akan bagaimana berinteraksi dengan orang-orang sedangkan, kan di di Blackfog hanya ada dua orang lain dan para monster yang harus dihindari jadi, yang tersisa kadang kesepian. “Wajahmu terus berseri-seri apa sebegitu senang keluar dari sini, huh?” Sir Abram bertanya dengan sedikit ketus, melihat Neron begitu sangat cerah setelah keluar dari seolah memenangkan harta karun padahal hanya dapat Kristal merah dari ikan kepala merah. Kristal itu jarang ada tapi, belum tentu sangat berguna jika, dilebur ke dalam ramuan hanya bagus untuk mengobati mata yang merah dan nyeri ringan biasa jadi, Abram tidak terlalu tertarik. “Tentu saja aku senang… sebelum pergi juga aku bisa mendapat hasil buruanku, bukankah itu bagus?” “Kristal itu tidak berguna banyak tapi, yah, cukup baik untuk kamu simpan lalu jual dan dapatkan uang?” Neron mengerenyit tidak setuju. “Aku tidak akan menjualnya.” “Kenapa tidak? Benda itu juga tidak berguna kamu bukan seorang alchemist…lebih baik kamu punya uang dan gunakan uang itu untuk bersenang-senang.” “Sir? Memangnya Anda tahu caranya bersenang-senang di dunia atas sana? Anda kan cuman berada di sini selama puluhan tahun?” “Bocah busuk, beraninya bicara seperti itu, huh? Asal tahu aja meski, aku sudah lama tidak ke atas sana aku tahu apa saja yang terjadi.” Tatapan Neron melihatnya dengan perasaan hopeless, merasa sedikit tidak disembuhkan. “Mendengar dan mengalami sendiri itu berbeda Sir? Apa Anda benar-benar tidak ingin keluar dari tempat ini?” “Ada apa dengan tempat ini? Kamu ingin mengatakan sesuatu yang buruk butuh aku pukul?” jawab sir Abram nada sengit. Neron mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. Dia tidak ingin bertengkar di hari terakhirnya. “Aku tidak butuh pukulanmu, Sir,” sahut Neron kini sedikit serius. “tapi, jika Anda menjadikan aku muridmu, Sir? Aku masih ingin belajar banyak darimu?” Sir Abram berdecak. “Aku tidak berminat. Sampai kapanpun , aku tidak akan menjadikan orang lain sebagai muridku.” “Lalu bagaimana dengan hasil penelitian-penelitian Anda, siapa yang akan membuat ramuan-ramuan yang berharga dan bermanfaat bagi orang banyak jika, Anda tidak menurunkan ilmunya. Bukankah itu sungguh sia-sia?” ungkap Neron yang kali ini memberanikan diri mengatakan hal-hal seberani itu agar terbuka pikiran sir Abram kali ini. Sir Abram menyipitkan matanya yang sudah penuh kerutan dari habisnya usia muda. Dia diam memikirkan hal tersebut dengan hati-hati. “Sebenarnya itu mudah saja nanti, aku hanya tinggal mewariskan buku-buku hasil penelitianku pada orang-orang yang bisa menggunakannya atau langsung kuberikan pada kekaisaran. Ah, satu hal lagi! Untukmu kenapa aku harus menjadikanmu muridku? Kamu sendiri saja tidak punya aliran Mana yang berarti tidak bisa menggunakan sihir.” “Anda terlalu jahat, Sir,” dengus Neron dan berbalik pergi. ‘saat ini saja belum, lihat saja nanti …aku bakal cari bagaimanapun caranya aku akan jadi penyihir terhebat nantinya.’ Tekadnya dalam hati. “Itu tidak jahat, itu kebenaran.” Neron tidak menjawab lebih baik dia ke atas lalu, sedikit bermeditasi dengan menggunakan batu-batu biru yang sudah dia dapatkan sebelumnya. Selanjutnya, Neron menghabiskan waktunya kurang lebih dua jam lalu, membuka matanya karena lapar. Tidak butuh waktu lama dia mempersiapkan makan malam yang lebih baik dari hari-hari lainnya jika, sudah seperti ini dia jadi teringat kedua orang tuanya yang berada jauh di sana bertanya-tanya apa mereka baik-baik saja. “Sebentar lagi, aku ke academi hal pertama yang harus kulakukan adalah mengirimi surat mereka,” ungkapnya berjanji dalam hati. Kemudian, Neron mencari Abram daN Taemu mengajak mereka untuk makan malam bersama tetapi, sayang keduannya itu tidak ada. Merasa pernah berada druangan sir Abram, kali ini Neron datang melongok ke dalam dan melihat masih seperti sebelumnya. Sebelumnya tidak ada pikirannya untuk berbuat jahat tetapi, hal itu datang begitu saja saat apa yang dilihatnya membangkitkan rasa simpati besar bagi dirinya yang lemah ini. Setelah mendapatkan apa yang ingin dia lihat Neron, pergi berlalu kembali ke dapur dan menikmati makan malamnya seorang diri. Sampai dipagi hari waktunya kembali ke academi sudah datang. Tidak ada perpisahan yang membuat semua ketiganya terharu sampai harus mengeluarkan air mata. Tidak ada nasihat atau kata-kata perpisahan untuk Neron, padahal dia mengharapkan ada sesuatu yang akan dikatakan keduanya atau salah satu dari mereka. Tidak saat Neron datang kemari dia dilemparkan dari ujung tebing, saat dia akan kembali ke Academi mereka membuat sebuah pintu lingkaran sihir yang hanya perlu dilewati dengan semudah membuka pintu biasa, sungguh membuat Neron tidak habis pikir ingin balas dendam saja pada orang-orang yang sudah melemparkanya ke jurang angin saat itu. Dan, tidak salah lagi orang yang melemparnya adalah orang yang menjemputnya meski, tidak disebut menjemputnya juga mereka hanya menunggu dan melihatnya keluar dari lingkaran sihir da nada satu orang lagi dia sepertinya seorang guru tetapi, setelah memastikan Neron keluar dan lingkaran sihirnya menghilang dia pergi tanpa berbicara apapun meninggalkan Neron dengan dua seniornya. “Apa kamu gak bisa berjalan lebih cepat?!” teriak si rambut cepat yang Neron tahu bernama Billy, itu yang dia dengar dari temannya bernama Fawel yang berambut keriting dan mendelik lebih galak padanya. “Yah, kakinya sudah lumpuh makanya dia tidak bisa berjalan cepat?” tanya Fawel dengan tawa khasnya yang jelas penuh cibiran. Neron menghela napas, menatap mereka dengan pandangan menantang. “Aku bukan lumpuh tapi, waspada … ke mana kita akan berjalan?” Anak bernama Fawel, mengangkat kepalan tangannya. “Berani sekali kamu bertanya. Siapa kamu berani bicara padaku?” Neron menggeleng heran. Yah, heran dengan duo orang senior ini yang berlagak macam preman. “Memangnya kalian siapa sampai aku harus takut pada kalian? Aku juga hanya bertanya, kalian mau membawaku ke mana?” jawabnya dengan tenang. “Bocah ini sama sekali tidak bisa diatur.” Seorang dari mereka mengeluarkan tongkat sihir dan tanpa tendeng aling-aling langsung menyerang. “Aaahkh!” pekik Neron, dia tidak berpikir akan diserang sehingga pertahanannya lengah. Fawel dengan bangga berdiri lalu, menendang kaki Neron yang terkena serangan sihirnya. Sekali lagi, Neron terpekik nyeri dan jatuh ke lantai. Fawel belum puas, berdiri dengan menginjak luka korbannya. “Makanya, jangan macam-macam denganku. Orang lemah sepertimu lebih baik diam dan menurut saja.” “Yah, Fawel kamu hebat sekali! Bagaimana jika kali ini giliranku?” “Terserah tapi, lebih baik jangan di sini,” ujar Fawel sambil menoleh ke sana kemari dan bernapas lega. “Cepat kita bawa ke ruangan kosong di sana!” Kaki Neron benar-benar terasa terbakar sepertinya, sebelumnya mendapat serangan api karena panas yang dirasakannya. Sambil berkaca-kaca Neron menahan tubuhnya agar tidak berhasil diseret dua seniornya. “A-apa yang mau kalian lakukan, hah? Kalian mau bawa aku ke mana?” “Diam atau aku akan menghajarmu lagi.” “Sialan, memangnya jika aku diam kalian tidak akan memukulku baru saja kalian menyerangku. Lihat apa yang bisa kulakukan pada kalian?!” ucap Neron sambil melompat bangkit dan memutar tubuhnya sampai dibelakang kedua orang itu dengan tangan yang memegang belati tepat di depan leher Fawel yang sangat agresif padanya. Untung tingginya tidak kalah dengan mereka sehingga, tidak ada bahan tertawaan saat dia menaruh belati di lehernya. “Aku tidak bisa menggunakan sihir tapi, kekuatan belatiku tidak kalah, dia dengan sekejap juga bisa memotong lehermu. Saat ini juga!” “Kamu berani, hah?” tanya Fawel dengan wajah pucat tegang dan jelas ketakutan juga. “Kamu pikir aku takut?”balas Neron jelas tampak sangat berani menantang. Di sisi lainnya, anak bernama Billy yang seolah diam mematung tetapi, diam-diam melancarkan serangan sihirnya tanpa ragu langsung mengarah ke kepala Neron bukan tampak ingin melukainya tetapi, ingin langsung membunuhnya. Neron kali ini yang sudah waspada bisa menghindarinya tetapi, belatinya yang tidak memiliki mata berhasil melukai anak bernama Fawel. Billy yang tidak melihat pemandangan itu menambah serangannya pada Neron yang berulang kali berhasil lepas dari serangan sihir dinginnya. Tiap kali serangan itu meluncur selalu terjadi fenomena beku di tempat terkena target jadi, Neron yakin orang bernama Billy pengguna element es. Jika, seperti ini sebenarnya Neron ingin melawan sekuat tenaga, maju ke depan menghancurkan tangan atau kaki senior itu. “Berengsek! Jangan berani menghindar aku pastikan kamu mati hari ini.” “Kaulah yang berengsek!” balas Neron tidak takut. “Kalau kamu mau aku bisa melempar belatiku ke kepalamu jadi, cobalah diam jangan bergerak.” “Sialan!” amuknya yang mengeluarkan kembali serangannya. Di saat Neron masih berguling menghindar dan memikirkan caranya melawan tanpa memberinya efek besar. Fawel yang terluka dibagian Lehernya bangun dan ikut menyerang bahkan, satu waktu dua kekuatan sihir itu bertemu di satu titik membuat ledakan cukup besar dan menarik perhatian orang-orang yang tidak jauh dari mereka akhirnya. “Wow, apa yang terjadi?” semua berdengung bertanya-tanya melihat satu orang berguling-guling untuk menghindari dari dua serangan sihir. Dua orang bahkan, yang satu dengan luka di leher terus dengan tidak sabar dan penuh amarah melancarkan serangan terus mengacung-ngacungkan tongkatnya tak kenal lelah. Neron melirik sekitarnya. Lorongnya ini sangat panjang melihat orang yang berkerumun cukup jauh dari mereka tetapi, lebar lorong ini tidak bisa di bilang cukup luas untuk lepas dari serangan tetapi, juga semakin luas tempatnya sama tidak menguntungkannya. Yang terpikir oleh Neron adalah maju ke depan mereka lalu melukai keduanya bisa atau tidak. Atau mungkin, yang lebih mudah adalah bertahan seperti ini sebelum akhirnya kedua orang itu kehabisan Mana-nya. Namun, dari kedua hal tersebut Neron bukan orang yang sabar dia juga lelah terus berguling. Mau atau tidak pilihan yag pertama lebih baik untuknya. “Kapan kalian mau berhenti, hah?! Kalian ingin aku mati, bukannya itu pembunuhan?” “Bocah sialan! Kaulah yang mau membunuh kami! Lihat kamu melukai leherku. Aku pasti harus membalas luka ini?!” Fawel datang dengan amarah besar dia melihat tangannya yang berdarah, juga rasa perih dari lehernya. Tidak bisa berhenti di sana Fawel menyimpan tongkatnya lalu mengangkat satu tangannya berusaha sangat keras untuk membentuk bola api. Baru saja dia siap dan melemparkannya tepat pada Neron, sesuatu menghempaskannya dan langsung mengenai tembok menggagalkan serangan yang cukup berbahaya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN