“Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Neron bingung merasa hidupnya tidak akan lama lagi, dia sudah salah langkah ketika berpikir jika monster-monster ikan ini bisa ditanganinya dengan mudah.
Neron bisa melihat jika, gigi tajam ikan-ikan biru ini berderak siap mencabiknya yang tak akan lama lagi. Dia tak punya sihir ditangannya hanya ada sebilah belati dan sekantong bubuk api yang mungkin tidak bisa digunakannya saat sekarang atau sebenarnya bisa. Neron mulai panic dan melihat sekitar, ada celah di dasar sungai, tidak menyiakan kesempatan dia berenang ke bawah diikuti segerombolan ikan biru.
Jauh semakin ke dalam ada banyak gua disekitar. Neron mendapati yang terdekat. “Aaakh!” pekiknya merasakan nyeri di kakinya. Seekor ikan baru saja berhasil menggigit kakinya dan masih banyak ikan dibelakangnya bersiap untuk menyetang. Tidak ingin itu terjadi Neron memasuki gua terdekat, menyelam beberapa saat dan tidak disangka terdapat permukaan daratan di sana.
Segera tubuhnya naik kedaratan tanpa menunggu. Puluhan sampai ratusan kecipakan air berderak menyembunyikan kemarahan para ikan biru yang tidak bisa berhasil naik ke permukaan dan hanya bisa melihat musuhnya sudah berada di luar jangkauan mereka. Neron terengah-engah tidak bisa membayangkan dirinya baru saja selamat dari cabikan para monster ikan-ikan itu.
“Ikan sialan!’ pekiknya marah berbalik melihat sekitar gua. Tidak ada hal aneh itu hanya seperti gua biasa. Daratan yang sedang dipijak Neron pun tidak lebih dari luas permukaan kamar sederhananya di rumahnya yang dulu. Tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya, ikan biru yang masih tertempel di belatinya berubah menjadi Kristal kebiruan. “Tidak salah lagi! Aku mendapatkannya,” ujarnya sambil meraihnya.
Kristal itu tampak retak sepertinya, terkena tancapan belatinya saat melukai ikan itu. Neron mencoba menyerap kekuatan yang berada di dalam Kristal, matanya terpejam dengan pose duduk bersila siap melakukannya. Benar saja, Kristal itu terserap tetapi, sangat kecil karena tidak sampai satu menit semua sudah selesai. “rasanya tidak buruk tapi, mungkin karena retak pengaruhnya kecil sekali.”
Selanjutnya mata Neron berbalik melihat puluhan hingga ratusan ikan masih berkicak enggan pergi, ingin memangsanya. “Sepertinya kalian sangat marah sampai tidak mau pergi meninggalkanku, yah?” monolognya dengan senyuman penuh kejahatan.
Neron berdiri, sekarang dia punya kesempatan yang luar biasa untuk mendapatkan kristal monster yang diidam-idamkannya. Dibukanya kantong bubuk apinya dan tanpa ragu lagi dilemparkannya bubuk api tersebut untuk menyerang ikan-ikan biru itu. Dan karena ini merupakan serangan langsung banyak dari ikan-ikan tersebut terluka dan mati, melihat belum semuanya sekali lagi Neron melempar bubuk api sekali lagi.
Tetapi, belum ada yang berubah semua ikan hanya mengambang di air tanpa perubahan memikirkannya lagi Neron masuk ke air lalu melempar ikan-ikan yang mati ke atas daratan dan benar saja meski, butuh waktu semuanya berubah jadi batu Kristal biru sebesar kelereng karena terlalu, senang Neron tidak memikirkan jika mungkin saja ada ikan yang belum mati.
Jeritannya terendam, Neron merasa kali ini bukan hanya terluka biasa tetapi daging kakinya robek tercabik. Hampir saja dia ingin pingsan tetapi, dia menangkap ikan tersebut. “Yang satu ini akan aku bakar dan kumakan lihat saja!” dan, yang dilakukan agar ikan ini masih hidup Neron menancapkan belatinya menembus tubuh ikan tersebut lalu menggantungnya di pinggangnya agar dia masih utuh menjadi ikan saat waktunya dia makan dan bakar.
Sedangkan ikan-ikan yang lain, yang mati tidak satu pun yang tersisa dia lempar ke darat kecuali ikan-ikan yang kabur dari sini. Neron melihat ke daratan kecil di sana kini sudah bertambah menjadi daratan penuh Kristal biru, senyum puas terbentang di bibirnya tetapi, dia tidak sadar karena luka terkena cabikan ikan biru predator lain yang mencium darahnya mulai mendekat.
Seekor ikan yang lebih besar muncul masih dengan mulut bergerigi tajam, mata juling yang terus berotasi di atas kepalanya muncul benjolan merah yang bersinar. Gerakannya tidak kalah gesit, seakan sudah memperhitungkan waktunya ikan tanpa nama itu muncul sesaat sebelum Neron naik ke daratan mengincar kakinya yang terangkat, ikan itu melompat dengan mulut yang bisa terbuka sangat lebar jauh berbeda dengan sebelumnya.
Bugh!
Baru saja terdengar suara, ikan yang terbanting ke dinding gua dengan sangat keras. “Sialan! Ikan busuk ingin memakan kakiku,” runtuk Neron bisa bernapas lega setelah melihat ikan itu tidak jauh menggelepar di sisi dinding batu. Sebelumnya, dia juga sudah memerhatikan ikan tersebut karena ada tonjolan merahnya yang menyala hal itu menjadi perhatiannya. Dan mengetahui ikan ini tampak seperti ikan predator dan lebih besar pasti lebih sulit mengalahkanya.
Namun, sepertinya Neron salah karena tendangannya berhasil tepat mengenai tubuh ikan tersebut sampai menghantarkannya ke dinding tembok yang lebih keras. Tidak seperti ada hal apapun, Neron mengatasinya dengan mudah. “Aku tidak tahu jika, kakiku ini sangat kuat,” uajrnya sambil melihat ke bawah bagian kakinya barulah, saat itu dia sadar dan menjatuhkan tubuhnya ke pasir, berguling tak karuan karena rasa sakit yang baru dirasakannya.
“Aaaah! Sakit, sialan! Uhhh, aaakh… kakiku! Yah, dagingnya jatuh. Auh akhh!” jeritnya terus seperti itu tidak berhenti sampai merasa lelah sendiri. Air mata Neron juga tidak kalah banyak turun dan dia semakin sedih ternyata, tidak ada siapapun yang mendengarkanya. “Sialan! Aku begitu menyedihkan,” amuknya pada diri sendiri.
Akhirnya yang bisa dilakukan Neron adalah memerhatikan lukanya, kulit dagingnya robek dan dia bisa melihat tulang keringnya. Gemetar sudah hatinya, baru pertama kali dia merasakan luka seperti disayat pisau, darah juga sepertinya tidak berhenti mengucur tetapi tidak ada kain atau sesuatu yang bisa menutupnya hanya bisa dibiarkan seperti itu saja. “Semoga aku tidak mati karena kehabisan darah,”lirihnya.
Kemudian Neron menoleh pada si Ikan pemakan daging kakinya yang rencanaya akan ia bakar tetapi, ternyata sudah menjadi batu Kristal biru. “Sejak kapan dia berubah, dasar ikan sialan padahal aku ingin memanggangmu berani sekali makan dagingku.” Mendengus keras lalu, Neron menutup matanya mencoba merasakan aliran Mana memasuki tubuhnya.
Perasaan ini terasa sedikit berbeda jika, Kristal kuning dari lebah-lebah hitam itu terasa hangat dan membuatnya segar bersemangat. Kali ini bukan hanya menjadi segar dan nyaman tetapi, aliran Kristal biru ini terasa lebih menenangkan pikiran dan jiwanya. Neron membuka matanya, dengan mata berkilat cerah seolah dia baru saja dihidupkan kembali dan luar biasanya saat tanpa sengaja melihat luka besar sebelumnya. Luka itu sudah menghilang hanya ada bekas lingkaran dari gigitan ikannya.
Betapa senangnya Neron, dia menyentuh bekas luka tersebut dan sungguh bahagia itu tidak sakit sama sekali. Segera, dia bangkit berdiri meloncat-loncat merasakan staminanya juga terasa penuh. Tidak membuang waktu lagi, Neron mengumpulkan Kristal biru tersebut, perlahan dia juga memikirkan kriteria ikan biru ini sebelumnya. Ikan yang tidak terlihat di permukaan air tetapi, saat terkena api dia muncul dengan mudahnya.
“Aaah, aku rasa itu bukan api tapi, cahaya? Yah, percikan api sebelumnya menerangi mereka membuatnya terlihat,” ujar Neron berbicara sendiri sambil tetap mengamati bola Kristal biru tersebut. “lalu, jika sebelumnya mereka tidak terlihat dan tidak menyerangku kenapa, …akhirnya memperlihatkan dirinya. Aishh! Aku kesal kalau harus berpikir banyak. “Terserah sajalah!” putusnya sambil terus memunguti Kristal-kristal itu dari pasir.
Tidak ada yang terlewat, Neron memastikan semua Kristal ia simpan dengan baik-baik di dalam kantung yang sudah dia siapkan sebelumnya. Baru saat Neron memikirkan untuk pergi, bola Kristal di sudut bekas ikan predator sebelumnya. Neron berseru, setengah berlari untuk memastikannya.
“Oh, wow! Ini lumayan besar dan berwarna merah,” serunya kegirangan dan segera memasukkannya lalu, memikirkan caranya dia keluar dari sini. Untuk memastikan Neron terlebih dulu meraba-raba dinding gua berharap mungkin saja ada sesuatu yang bisa langsung membawanya ke atas. Tetapi, setelah mencobanya tidak ada yang bisa terlihat yang berarti dia harus kembali masuk air sebagai jalan satu-satunya kembali ke permukaan.
“Baiklah, terjun ke air lagi dan mungkin aku hanya harus lebih cepat sebelum diburu para monster bawah laut ini.” Pasrahnya sambil menarik napas dalam-dalam lalu melompat dengan suara membentur air yang keras. Masuk ke dalam air Neron melihat lubang yang menjadi pintu gua, meluncur dengan sangat cepat kali ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Neron bisa berenang dan bernapas di saat bersamaan tetapi, dia masih tidak berani untuk bicara.
Trek!Trek!
Neron merasakan perasaan bahaya, dia berhenti sejenak untuk melihat sekitar sungguh, dalamnya telaga ini tidak terduga belum lagi makhluk-makhluk anehnya yang sangat menakutkan. Bagaimana tidak menakutkan Di dalam sini air begitu sangat tenang dan sunyi, tidak ada makhluk hidup yang terlihat. Lalu, Neron berbalik akan meneruskan perjalanannya tetapi, mendadak terdengar suara memetik disertai sebuah cahaya merah yang berkelap-kelip.
Meringis dalam hati, Neron memilih berenang lebih cepat dan benar saja makhluk – makhluk hidup di air itu mengejarnya melesat lebih cepat untung saja Neron masih bisa melihat pergerakannya dan bisa menghindar. Terlepas dari itu dia kembali melesat seolah hidup dan matinya berada di ujung jurang sekuat tenaga dia melepasnya sampai tak dia sadari ada dorongan kuat dari bawah kakinya yang bisa bergerak lebih cepat dari makhluk-makhluk air dibelakangnya.
Byurrr!
Neron naik ke permukaan dengan pose terbang dan hampir saja dia jatuh kembali ke air di mana para makhluk air itu sudah membuka mulut-mulut mereka yang bergigi runcing. Bergerak dengan cepat memeluk kedua lututnya, tubuh Neron berputar beberapa kali sebelum akhirnya jatuh ke tanah dengan selamat dengan pose berjongkok. Hal pertama yang dilakukan Neron setelah itu adalah dengan bernapas lega sambil melepas ketegangannya.
Melihat ke belakang, Neron tahu dirinya sudah selamat. Dengan senyum bangga dia melemparkan ranting di sana ke kolam seolah mengejek para ikan tersebut yang disambut dengan potongan ranting itu hancur. Neron tertawa, dia benar-benar selamat dari para predator itu sungguh melegakan.
“Aku selamat, selamat hah…haha,” katanya sambil berbaring ke tanah. Melihat ke atas langit tetapi, taka da langit yang terlihat hanya kabut putih yang memenuhi pulau ini. “Setelah ini, aku pasti bisa melihat langit lagi! Akan aku lakukan apapun sampai aku bisa membentuk Mana, akan kutunjukan jika aku bisa mengukir Manaku sendiri dengan kekuatanku itu lalu, kemudian aku bisa menggunakan sihir sesuka hati.” Mimpi sekaligus harapan Neron.