Kontradiksi

1443 Kata
Setelah satu malam dilewati dengan membuat ramuan penguat tulangnya Abram bangkit dengan rasa pencapaian yang sempurna karena dia berhasil menyempurnakan kualiatas ramuannya kali ini ketitik 99% yang berarti sudah sangat sempurna dan tidak aka nada efek samping. Yah, jika ramuan itu berhasil ke titik di mana kualitasnya 70% itu berarti cukup efektif dan sangat mengurangi efek sampingnya. Abram tidak tergesa-gesa untuk berjalan pergi ke kamar Neron tetapi juga tidak melambat meski, sebenarnya, tidak begitu sabar dengan hasil ramuannya nanti pada tubuh Neron. Tinggal di sini bertahun-tahun lamanya, membuatnya tidak pernah lagi tahu bagaimana efektifitas ramuan-ramuan miliknya bekerja pada si penerima atau orang yang meminum ramuannya. Yang dikatakan Demian, hanyalah ramuan miliknya cukup bagus hanya produksinya sedikit kecil jelas, pria tua itu ingin dia membuat lebih banyak. Namun, Abram lebih berprinsip dari yang lainnya dengan hanya mengirim lima botol ramuan tiap tahun dan itu satu dalam tiap jenis setiap ramuan. Setiap ramuan buatannya selalu terdiri dari hal langka yang hanya bisa dihasilkan pulau ini itupun, tidak banyak dan tidak akan selalu ada. Pulau Blackfog ini jelas pulau dengan kabut tiap hari dan tidak akan mudah untuk bisa bertahan, tidak hanya manusia begitu juga para monster perlu keberuntungan seperti tempo hari dengan menemukan dua monster lainnya berkelahi dan bisa mamanfaatkan hasilnya. “Neron, kamu sudah bangun?” tanyanya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. “Sir? Masih terlalu pagi,” keluh Neron setengah sadar. Bermimpi tidak ada kejadian kemarin dan dia hanya disuruh untuk memasak tiap pagi. “Yah, ini memang sudah cukup pagi! Kamu tidak lihat yang kubawa ini, hah? Apa kamu tidak ingin sembuh?” Mata Neron terbuka dan sedetik kemudian rasa nyeri datang dari punggungnya. Dia baru sadar, ia tengah sakit dan hanya bisa tidur dalam keadaan tertelungkup. “Sir, punggungku ternyata sakit.” “Aku tahu, makanya aku datang kemari dan membawa ramuan yang baru saja selesai kubuat.” “Oh, benarkah?” “Hm, bangun!” perintahnya. Dengan susah payah Neron bisa duduk dan menegakkan punggungnya. Lalu, kemudia segera mengambil botol yang berisi cairan kuning dari tangan Abram. “Apa aku akan baik-baik saja setelah minum ini?” “Tentu saja, tulang-tulangmu akan kembali seperti semula setelah meminumnya dan bahkan, akan lebih kuat dari sebelumnnya.” Kening Neron sedikit mengerenyit. “Tulangku retak katanya retak, apa benar hanya retak? Bukan patah?” “Aku sudah mendeteksinya hanya ada beberapa retakan, mungkin karena kamu masih muda itu beruntung tidak ada yang patah …bisa-bisa itu menusuk organ penting lainnya dan kamu mati.” “Yah, aku bisa saja mati dalam sekejap. Sir, apa aku bisa kembali lagi ke academi?” “Kamu takut berada di sini karena terlalu berbahaya? Lalu, kenapa kamu harus berlari ke academi dan berpikir bisa membodohi semua orang…” Kepala Neron menunduk, memainkan botol ramuan di tangannya berpikir dia bukan hanya naif tapi, juga terlalu cerobah memangnya siapa yang akan dibodohi itu. Padahal jelas mereka itu orang-orang yang lebih mampu darinya. “Ck, aku memang bodoh sekali,” desahnya kecewa sambil membuka botol ramuannya dan langsung menegaknya habis. Tidak bisa dibayangkan Neron tidak menyangka setelah cairan itu masuk ke dalam perutnya berubah …itu jadi sangat panas, tidak tertahankan dan langsung membuatnya berkeringat dingin dan mengerang sakit. Matanya terbelalak, kenapa rasa sakitnya kian meniingkat tiap detik. “S-sir…” “Ramuannya sedang berproses, tenanglah semuanya baik-baik saja.” Abram yakin itu meski, sedikit kewalahan juga saat tiba-tiba melihat Neron yang tiba-tiba menjerit setelah meminum ramuannya. “Apa rasanya seburuk itu?” Neron tidak bisa menjawab, hanya menggeleng sedikit sebelum dia tiba-tiba muntah darah. “Uhukk!” . Penuh refleksnya cepat juga Abram bisa berdiri dan mundur. Sedangakan Neron tengah menahan batuk darah dengan tangannya sungguh rasanya sangat buruk baginya. Ternyata, batuk darah itu tidak berhenti sekali, batuk kedua dan ketiga menyusul dengan darah yang bahkan, tidak bisa dia tampung ditangannya dan sudah jatuh ke lantai serta mewarnai pakaian Neron sendiri. “Neron!” teriak Abram terlalu terkejut, bergerak mendekatinya dan apa yang bisa disentuhnya tubuh Neron menjadi begitu panas dan tampak darahnya tidak ingin berhenti untuk keluar. “Kenapa? Apa seperti ini proses cara mengobatinya? Ramuanku tidak mungkin bermasalahkan? Neron! Kamu mendengarku?” Neron tidak bisa mendengar apapun kali ini, telingannya sudah menjadi pekak dengan rasa terbakar di perutnya, belum lagi rasa menggelegak dari mulutnya tidak kunjung berhenti mengelurakan darah. Tubuhnya sudah membungkuk ke bawah ranjang, tidak sanggup menegakkan tubuhnya dan merasa akan hilang kesadaran. “Neron!” Abram benar-benar terkejut dia tidak tahu jika, efek setelah meminum ramuan adalah seperti ini? ‘Bukankah mereka akan langsung sembuh? Lalu, kenapa dengan bocah ini? Dia tidak akan mati hanya karena minum ramuanku? Tidak mungkin ramuanku berbalik jadi racun?’ “Kwok! Sir?” Taemu berjalan masuk setelah mendengar suara aneh dan saat memutuskan masuk dia bisa melihat darah di mana-mana dengan tubuh Neron terkulai dan Tuannya yang berdiri mematung. ‘Apa Sir , membunuh bocah itu? tapi, kenapa?” “Taemu, bocah ini… apa dia mati?” “Kwok! Anda membunuhnya, kwok!” “Bagaimana aku bisa membunuhnya?!” teriaknya marah. “Aku baru saja memberinya ramuanku yang sempurna?” “Kwok! Lalu kenapa dia berdarah?” “Itulah, yang aku tanyakan kenapa dia berdarah?!” kesal Abram karena merasa dirugikan. “Lakukan sesuatu dengannya dan aku akan bertanya pada Demian… aku pergi!” lanjutnya langsung keluar dari kamar , pergi ke ruangannya sendiri mencari cermin sihirnya, alat untuk berkomunikasi. Dia mengetuk pinggiran cerminan itu sebanyak tiga kali lalu, menunggu cukup lama sampai akhirnya bisa melihat wajah orang yang tak asing lagi. “Demian.” Panggil Abram cepat. “Demi Dewa kenapa kamu begitu lama menjawab panggilannku. “Ada tamu, aku sedang berbicara dengan mereka,” jawab Demian dengan nada tenangnya. “Dan, Abram berbicaralah sedikit sopan aku lebih tua darimu. Kapan kamu akan bersikap sopan?” Abram memutar bola matanya, malas. “Kita, kan sudah seperti teman. Kamu bilang sendiri aku bisa bersikap santai padamu. “ “Ada apa?” tanya Demian tidak memperpajang persoalannya karena percuma saja. Abram adalah orang yan keras kepala dan tidak mau kalah. “Ah, ya, ini gawat! Bocah itu … aku memberinya ramuan penguat tulang karena dia terluka tulangnya hampir hancur tetapi, sepertinya kali ini nyawannya yang hampir hancur. Dia muntah darah setelah minum ramuanku, apa seperti itu proses penyembuhannya?” Demian memijit pangkal hidungnya, Abram jenius tetapi, dia tidak tahu apa yang biasa orang lain tahu dan sangat sembrono. “Dia masih muda, seharusnya tidak akan terjadi apa-apa?! Efek setelah minum bermacam-macam sesuai pengguna tubuh. Abram, aku menitipkan anak itu, jangan buat dia mati!” “Tentu saja. Tapi, jika keinginanmu seperti itu seharusnya kamu tidak melemparkannya ke sini … dia hanya anak konyol dan sedikit tidak berotak, seharusnya kamu lempar kembali ke desanya dan tidak membuat keributan melemparkan bocah tidak berguna itu kemari.” “Siswa yang sudah masuk otomatis dia sudah bersumpah menjadi murid di sini, mengeluarkannya terlalu cepat malah membuatnya mati juga.” “Hah, Kontrak Trusted itu.” “Yah, sumpah kepercayaan itu harus dipatuhi siswa dan para guru di sini.” Abram mengangguk mengerti lalu, sekali bertanya untuk memastikan keadaan yang dialami Neron baik-baik saja. “Jadi, tidak ada masalah dengan ramuanku, kan? Aku tidak membunuhnya,kan?” “Tidak mungkin, tenanglah. Jika lukanya berat setelah minum ramuanmu kupikir dalam satu hari pun dia bisa kembali pulih.” Akhirnya, Abram bisa bernapas lega dan segera menutup komunikasinya dan berjalan kembali ke kamar Neron. Tempat itu sudah dibersihkan oleh Taemu meski, tidak dengan pakaian bocah itu yang masih penuh darah dan bau amis. Mendekatinya, Abram segera melambaikan tangannya dan tubuh Neron sudah bersih. “Bagaimana dia tadi?” “Kwok! Sepertinya dia hanya pingsan. Kwok!” “Oh, bagus! Kalau begitu kita biarkan saja. Tidak perlu khawatir.” “Kwok! Aku tidak khawatir,” sahutnya sambil berlalu pergi. Abram menggeram, menggeretakkan giginya kesal pada Taemu seolah dirinya sendiri yang khawatir ternyata. Abram sekali lagi berbalik, memastikan Neron sekali lagi lalu benar-benar pergi. Neron yang kini dalam keadan terbaring di atas ranjang, tubuhnya penuh peluh keringat dari yang besar sampai yang kecil. Bulu matanya bergetar, tidak bisa terbuka sebaliknya, wajahnya seolah tengan menahan sakit sampai pucat. Di dalam tubuhnya, aliran panas berpusat di perutnya. Kemudian, memasuki aliran darah menjadi energi panas yang menyebar di seluruh tubuh. Tidak cukup sampai sana tulang-tulang yang sebelumnya terluka, menjadi retak sedikit demi sedikit membuat rasa sakit kali-kali lipat. Ramuan penguat tulang adalah ramuan ajaib di mana bukan hanya sekadar menyembuhkan kerusakan tulang sekaligus juga, untuk menghancurkan dan menumbuhkan tulang baru yang lebih kuat dari sebelumnya. Dan, proses ini tentu tidak mudah akan ada rasa sakit yang luar biasa dari awal sampai akhir. Pasien hanya perlu bertahan untuk bisa hidup kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN