“Untungnya cuman tulang-tulangmu yang retak,” ujar Abram setelah membantunya merawat luka Neron.
“Di sini tidak ada dokter, yah? Berapa lama nantinya aku bisa bangun?” tanya Neron dengan tampang kusut dan sedih bahkan, dia tidak bisa bergerak banyak dan hanya harus tidur dalam keadaan tengkurap karena punggungnya yang hampir remuk.
Abram, pria tua itu menghela napas melihat kebodohan anak remaja di depannya. Selama anak itu berada di sana dia sudah menghubungi Demian, sudah sangat lama dia melarang pria yang lebih tua darinya itu untuk tidak melempar murid-muridnya ke sini untuk dijadikan sebagai ruang hukuman karena di lemparkan ke pulau kabut ini bukannya menjalani hukuman malah tapi, menjatuhi anak-anak itu dengan hukuman mati. Sangat tidak sesuai, bagaimana pun mereka masihlah anak-anak remaja yang memang perlu dididik.
Lalu, kali ini Demian melemparkan anak remaja yang bahkan lebih lemah dan bodoh dari yang lainnya karena ketidakmampuanya menggunakan sihir. Untuk apa anak ini dihukum kemari sudah saja langsung penggal lehernya, karena terlambat sedikit saja dia tidak menemukannya sejak awal anak itu pasti sudah mati diterkam para monster. Yah, bahkan anak-anak yang punya kemampuan sihir pun tidak lebih baik.
“Tenang saja, aku akan mengobatimu dengan cepat! Aku akan membuatkanmu ramuan penguat tulang tapi, apa kamu bakal tahan, hah?”
Neron melirik Abram dengan mata sedikit terkejut sekaligus tak percaya, “Ramuan penguat tulang? S-sir, Anda bisa membuatnya?”
“Apa aku sebodoh kamu, apapun bisa kulakukan?”
“K-kalau begitu setelah ramuan penguat tulang diberikan ..b-bisakah Anda membuatkan saya ramuan agar saya bisa menggunakan Mana sihir?”
“Taemu!”
“Kwok,” jawab si Kodok.
“Lebih baik kamu tampar bocah ini! Dia tidak sadar sepertinya, suruh dia bangun,” ujar Abram bertampang serius.
Neron mengkerut bertampang kecewa dan sedih. “Memangnya tidak ada yang bisa melakukan sesuatu denganku ini, yah?”
“Bukan hanya denganmu tapi, dengan semua orang yang tidak punya bakal Mana. Jika, ada yang bisa membangkitkan Mana tanpa kebangkitan jiwanya mungkin seluruh orang di negeri ini akan bisa menggunakan sihir semuanya.” Abram menarik napas setelah mengatakan hal itu, tatapannya pun berubah menjadi simpati. “Jika seperti ini, kamu tidak lemah… kamu masih cukup berhasil melukai monster Troll itu, yang lain mungkin mereka juga akan hancur dipukul atau diinjak-injak oleh makhluk itu jadi, kamu mungkin hanya harus mencari latihan lain.”
“Aku tahu,” jawab Neron. “Setelah saat tahu kalau, aku tidak akan punya bakat untuk menggunakan sihir. Aku memilih untuk menekuni bela diri, inginnya menjadi seorang ksatria pedang saja tetapi, ternyata itu juga sulit. Aku hanya bisa belajar dipinggir lapangan, orang-orang yang lebih kuat dan memiliki Mana masih diutamakan.”
“Hah, yah, bisa dilihat kamu tidak punya apa-apa untuk dimiliki.” “Kwok! Bukankah Anda …kwok!terlalu jahat, Sir,” sahut si Kodok karena Neron memalingkan wajahnya enggan berkata-kata lagi.
“Yah, tapi itu memang benar. Kata-kataku tidak sejahat itu karena, dia sudah mengalaminya sendiri itu tidak ada perbedaan,” jawab Abram dengan tak acuh dan berdiri, dia sudah berjanji akan membuatkan Neron ramuan penguat tulang jadi, dia harus bersiap sekarang.
Setelah Abram dan Taemu keluar hanya tinggal Neron yang tertelungkup seorang diri memikirkan nasibnya. Perasaanya tengah hancur untuk kedua kalinya setelah hari itu, di waktu kedewasaan untuk menunjukkan aura Mana, yang ternyata dia tidak memilikinya. Sekarang, kedua kalinya melihat kemampuanya yang payah dan harus terluka parah melawan monster bodoh yang bisanya meraung-raung bodoh itu, sunggug membuatnya frustrasi.
Seorang pria di mana pun pasti bermimpi ingin memiliki kekuatan dan hal itu diperlukan pada saat dibutuhkan entah untuk melindungi diri sendiri atau orang-orang terkasih. Neron menghelan napas saat ini dia berpikir, dialah orang yang paling lemah dan tidak berdaya, hal itu sungguh membuatnya tak nyaman sama sekali. Dia tidak hanya, tidak memiliki kekuatan jauh juga dari kekuasaan, harta berlimpah bahkan wanita …yang satu-satunya dicintainya menjauh darinya.
“Apa yang harus kulakukan? Apa aku tidak bisa belajar sihir? Yah, tidak harus sihir jika, aku nantinya bisa jadi prajurit …aku sudah akan sangat bersyukur.”
***
“Kwok! Sir , apa anak itu memang …kwok! Tidak berbakat?” tanya Taemu berada diujung ruangan sambil memerhatikan tuan-nya itu tengah mengambil bibit tanaman yang akan diraciknya dengan hati-hati.
Abram meliriknya lalu, focus kembali memilih dan memilah tanaman herbal yang sudah cukup matang dan cocok diproduksi. “Jika kulihat meski, dia tidak punya tapi, dia punya tekad. Lihat saja keberaniannya memasuki academi yang jelas-jelas untuk para penyihir tapi, dia yang tidak punya bakat sihir sangat berani memasukinya… “
“Kwok! Dia bodoh juga …Kwok! Bertekad.”
“Yah, sepertinya dia begitu.”
“Kwok! Sir apa Anda tidak mau membantunya?”
“Maksudmu, Taemu?” tanya Abram kini sudah berbalik menghadapnya. Tetapi, di depan Abram sendiri adalah sebuah kuali besar, di bawahnya terdapat api biru yang tidak pernah padam lalu, di atas kuali sendiri terdapat sebuah rak di mana berbagai bahan ramuan serta hasil ramuanya berjajar memenuhi semua tiap sudut ruangan hasil penelitiannya. Sungguh kebanggan tiada tara setiap melihat semua botol-botol tersebut.
“Kwok! Sir,bukannya kamu sudah memiliki ..Kwok! ramuan penguat tulangnya?Kwok, kenapa tidak diberikan saja.”
“Ck,” Abram berdecak lalu melihat botol ramuan tersebut. cairan di dalam botol itu berwarna kuning pekat dengan klip glitter yang indah menunjukan kualitas ramuannya hampir seratus persen atau tepatnya ramuan miliknya ini 98%, hanya kurang dua persen karena sedikit kelalaiannya saat itu. “Ramuan ini sangat bagus tapi, aku akan membuat yang lebih baik lagi jadi, lebih baik membuat yang baru.”
“Kwok! Anda terlalu perhitungan..”
Abram mendelik lalu tidak memerhatikannya lagi. “Pergilah! Aku mau bekerja.”
Taemu sedikit menunduk dan tidak berbicara lagi lalu, keluar dengan tenang membiarkan tuannya mulai bekerja. Di luar ruangan Taemu berdiri melihat ruang meja makan yang kosong, sekarang tidak ada yang membuatkannya makanan lagi. Neron sedang jatuh sakit dan Sir Abram, dia tidak akan berani menyuruhnya. Kroooook! Perutnya berbunyi sangat keras. “Kwok! Aku lapar!”
“Taemu! Suara perutmu sangat keras … pergilah cari makan sendiri.” Terdengar suara Abram memantul dipendengaran Taemu, dia tidak bisa menyembunyikan keinginannya. Sungguh malang. Lalu, sebuah ide melintas di otaknya dan membuatnya melompat-lompat kembali ke tempat tuanya.
“Kwok! Sir … Neron, bocah itu …kwok! Mungkin harus makan. Dia bisa mati kelaparan sebelum …Kwok! Dapat perawatanmu itu.”
“Yah!” Abram berteriak lesu, apa yang dikatakan Taemu benar dan matanya sendiri berkilat tajam melihat sisi Taemu yang bersikap licik. Dulu dia tidak keberatan berbagi tetapi, dia terlalu malas beberapa hari ini untuk memberi makan Taemu yang serakah. Dia selalu menghabiskan makanan sangat banyak apalagi jika, itu tentang daging.
“Kwok! Aku tidak akan ..Kwok! Makan terlalu banyak, kali ini. Kwok!”
“Aku tidak percaya,” jawab Abram tetapi sambil melangkah meninggalkan pekerjaanya terlebih dahulu tanpa ragu. Tentu siapa di sini yang terburu-buru ingin menggunakan ramua. Itu tidak ada meski, saat ini Neron membutuhkannya itu tidak urgent sama sekali tetapi, memasak untuk mengisi perut baginya terkadang lebih penting.
**
“A-aaku butuh makan,” kata Oris dengan tubuh melayang seperti makhluk hidup. Dia akhirnya bisa keluar dari perpustakaan setelah berjam-jam berkutat di sana karena begitu menumpuknya pekerjaanya.
“Hey, kamu baik-baik saja?”
Hampir saja tubuh Oris oleng jatuh saat hanya dengan sedikit tekanan di punggungnya. Untungnya kawannya yang datang ini juga berhasil menyelamatkannya. “Maaf,” ujarnya.
“Alva, aku lapar,” keluh Oris sambil bergerak meraih bahunya. “A-ayo kita makan. Aku sangat lapar!”
“Bagaimana kamu bisa melewatkan makan, sih? Seharusnya jangan sampai seperti ini meski, tugas-tugasmu banyak.”
“B-bukannya kamu juga sama?” Oris juga tahu, mereka tadi bertemu di perpustakaan dan bisa dilihat tugas Alvaro sama banyak dengan miliknya.
Alvaro tidak menampik dan mengiyakannya. “Tapi, aku tidak sampai kelaparan,kan?” jawabnya dengan senyum kemenangan.
“Jadi, tadi kamu masih sempat makan?”
“Tentu saja tidak!”
“Jangan bermain-main cepat katakan?”
Alvaro teman baru Oris yang pertama ini menjadi, teman yang paling menyenangkan dan se-frekuensi dengannya seolah seperti sahabat masa kecilnya yang sudah mengkhianatinya jika, seperti ini diam-diam Oris jadi, teringat Neron.
Melihat wajah Neron yang tertekuk, Alvaro jadi, tidak ingin menggodanya lagi. “Hey, jangan tekuk wajahmu. Sebentar lagi kita sampai di ruang makan.”
“Y-yah,” sahutnya masih lemas.
“Baiklah, baik … aku kasih tahu kenapa aku bisa masih segar seperti ini.” Alvaro lalu, berbisik di telingan Oris. “Aku membawa makanan di balik jubahku secara sembunyi-sembunyi.”
“Yah! Alva, ternyata kamu …” Oris cukup terkejut mendengarnya. Penjaga perpustakaan terdengar sangat tegas dan tidak akan membiarkan para siswa untuk membawa makanan ke ruangannya dan membuat kotor buku-bukunya. “Apa kamu gak takut dihukum kalau ketahuan?”
“Tidak akan! Tapi, kalau dihukum tidak apa-apa …para senior bilang paling bertambah tugas atau menulis refleksi diri. Itu tidak akan seberat dilempar ke pulau berkabut blackfog.”
Mendengar kata=kata itu raut wajah Oris semakin bertambah murung, mungkin rasa laparnya juga menghilang dengan cepat. “Kamu pikir seberat apa dilemparkan ke sana?”
Kening Alvaro berkerut sedikit berpikir, “dari yang kudengar di sana sangat buruk! Tidak ada matahari, suhunya dingin terlebih yang paling menakutkan di sana banyak monster…em, kamu bertanya bukan tidak tahu, kan?”
Tanpa terasa keduanya sudah duduk di meja makan dan mulai bergerak mengambil makanan satu persatu. Oris belum menjawab pertanyaan Alvaro tetapi, tengah memikirkannya sendiri. Apa yang dia dengarkan dari para senior tentang pulau Blackfog sangat mengerikan, bahaya karena banyaknya monster sudah pernah menyebabkan beberapa kematian para muridnya. Sungguh, sangat disayangkan sampai kali ini hukuman itu dilangsungkan lagi setelah bertahun- tahun tidak pernah dilakukan lagi.
“Apa kamu memikirkan temanmu itu?”
“Hm,” jawab Oris mengangguk tanpa sadar. “Apa dia akan baik-baik saja? rasanya jika sampai harus kehilangan nyawanya di sana itu terlalu …. Aku tidak bisa membayangkannya. Aku membencinya tetapi, tidak sampai ingin melihat dia mati. Kesalahannya hanya satu itu …bagiku, dia hanya merugikanku sedikit tetapi, dengan seperti itu dia mengorbankan nyawanya. Apa seperti itu sepadan?.”
Tidak terasa air mata Oris luruh, dia masih bisa menitikkannya untuk temannya yang sudah mengecewakannya. “Kuharap dia tidak akan semudah itu untuk mati.”
**
‘Aku tidak bisa menyerah seperti ini! Apapun akan kulakukan nantinya untuk membuat diriku kuat dan mengalahkan monster-monster jahat hingga, pencapaianku bisa sampai ke istana kerajaan.'