“Aku takut … bukan hanya kamu tapi, semua orang salah akan paham jika, sikap nekad Neron yang datang ke academi tanpa memiliki kemampuan disebabkan olehku. Selama mungkin, aku ingin berpura-pura tidak mengenalnya tapi, itu …tidak mungkin, kan? Neron itu—“
“Yah, kadang dia selalu lupa keadaan dan bersikap masa bodoh,” sela Oris yang sama hafalnya dengan tingkah polah Neron.
“Oris, apa sekarang kamu membencinya?”
“Kamu ingin aku memaafkannya?” jawab Oris dengan pertanyaan lain.
Marvella melirik Oris melihat perubahan wajahnya dengan mudah, dibanding melihat raut kemarahan Neron yang tidak pernah terbaca, berbeda dengan raut wajah Oris yang lebih mudah terlihat. Wajahnya yang tampan menjadi dingin, otot-otot rahangnya mengeras memperlihatkan sosoknya yang semakin tegas dan, entah kenapa di saat seperti ini, bukannya merasa tak nyaman tetapi, dadanya malah berdetak riang membuat sudut-sidut bibirnya bergetar untuk menampilkan senyum pada sosoknya yang menawan.
“Marvella?!” panggil Oris setelah bukan hanya tidak mendengar jawabannya tetapi, juga malah disiksa dengan tatapan perhatiannya. ‘Ada apa dengannya? Apa ada sesuatu yang aneh diwajahku sampai ditatap seperti itu?’
“A-ah, iya?”
“Apa yang kamu lihat?”
“Yang aku lihat? I-itu semua,” sahut Marvella menunjuk halaman sekitar yang dipenuhi dengan langit biru serta pepohonan, tidak tertinggal berbagai bunga yang berwarna- warni bermekaran dengan indah. Keduanya tengah berada di taman dibelakang punggung mereka tepat air mancur kolam meski, tidak sepi di sana tidak terlalu ramai juga karena banyak anak-anak yang juga sudah memasuki kelas dan kebetulan di hari ini mereka bisa berbicara setelah terakhir kali bertemu di ruang makan. “Bukankah semua itu indah?”
Oris berbalik melihat apa yang ditunjuk tangan Marvella dan, “Yah, Indah? Terus apa hubungannya dengan tatapanmu dan pembicaraan kita sebelumnya?”
Mendengar itu telinga Marvella menjadi merah, wajahnya menunduk malu. “Tadi, apa yang kita bicarakan? Aku sampai lupa.”
Helaan napas Oris terdengar bersamaan dengan ketika dia bangkit berdiri. “Sekarang tidak apa-apa, aku harus masuk kelas.”
“Eh!” Marvella tanpa sadar menahan tangan Oris. “Lain kali kita berbincang lagi, ya? Di tempat ini, waktunya terserah kamu saja. bagaimana?”
Oris tidak langsung menjawab, kerutan di dahinya menunjukan dia sedang berpikir keras untuk menjawab jika, saja Marvella tidak mengatakan kata ‘bagaimana.’ Sudah pasti dia hanya tinggal meninggalkannya. Bagimana bisa seseorang seenaknya saja berbicara untuk menentukan sesuatu dengan lawannya tanpa bertanya apa lawan bicaranya setuju atau tidak. Bukankah hal itu menyebalkan. “Lihat nanti saja, karena sepertinya aku jadi semakin sibuk yang sekali tugas yang harus dikerjakan?”
“T-tapi, banyak hal lain tentang Neron yang belum kita bicarakan.”
“Tidak perlu dibicarakan lagi, aku juga tidak mau berurusan lagi dengannya,” tukas Oris. “Aku sudah sangat kecewa padanya.”
Marvellla sedikit terperangah dibuatnya, tidak disadari tubuhnya juga terbangun berdiri melihat sampai jauh di mana punggung Oris menghilang. Di luar dugaan Oris ingin menyudahi persahabatannya dengan Neron, tidak ada yang tidak tahu sedalam apa persahabatan Oris dan Neron ketika masih di desa, keduanya menempel bagai anak kembar meski, dengan kepribadian yang sangat jauh berbeda. Jika, Neron adalah orang yang semberono maka, Oris anak yang selalu berhati-hati dengan apa yang dikatakan dan dilakukannya.
Dulu pernah sekali Neron membuat masalah yang harus menyeret Oris tetapi, Oris bukan tidak hanya meninggalkannya malah dia akan dengan senang hati maju untuk Neron. Marvella kira hal ini juga, akan seperti itu. Anak itu, Oris dia akan memaafkan Neron dengan mudah dan malah akan sangat bersenang-senang karena akhirnya mereka bisa berada bersama-sama meski, itu harus menunggu Neron bebas dari hukumannya.
Di dalam kedalaman hutan Neron akhirnya mulai berjalan seorang diri, tidak lagi berdiam diri di rumah tua tersebut atau mengintil di belakang Abram atau si Kodok, Taemu. Dia belajar sesuatu setelah mendekam bosan, sungguh jika berada di pulau ini adalah hukumannya untuk menjadi manusia terasing, dia benar-benar terasing dan hanya diperlakukan seperti pelayan saja. Bagaimana tidak tiap hari pekerjaanya hanya berkutat dari memasak sampai bersih-bersih.
Yah, bagusnya dua makhluk berbeda jenis itu mulai tahu bagaimana nyamannya ketika semua ruangan bersih dan rapih serta, paling utama perubahan mereka adalah persoalan rasa makanan, yang membuat mulut mereka semakin besar terbuka untuk mengisi tonk perut dengan makanan yang enak. Dan, sudah seperti itu yang paling mengkhawatirkan adalah mencari bahan makanan. Inilah tujuan Neron saat ini, mencari sumber makanan.
Neron menunduk melihat semua benda-benda yang menggantung di pinggangnya, dengan penuh kehati-hatian sekali lagi Neron memastikan jika, semua itu terikat dengan baik dan tidak bisa jatuh apalagi sampai hilang. Ada tiga kantung sihir di sisi sebelah kanannya itu adalah benda-benda ajaib yang diberikan oleh Abram untuk bisa melindunginya saat memasuki hutan seorang diri. Di tiga kantung itu ada bubuk ajaib yang bisa membuat si pemegangnya berteleportasi ketika melemparkan bubuk ajaib itu ke tanah dan berkonsentrasi pergi ke tempat tujuan.
“Apa sungguh mereka tidak khawatir aku akan diserang monster yang ganas, ya? Bajianngan sekali! Aku bisa-bisa mati di sini, kan? Ah, tidak akan… tidak mungkin aku mati lagipula, mereka sudah mempersiapkan benda-benda sihir itu untuk melindungiku jadi, aku pasti aman. Terima kasih, ya, Dewa!”
Rasanya, baru saja Neron berucap terima kasih pada para dewa tetapi, sekejap mata entah itu pengabulan doa-nya atau hal lainnya … karena baru saja terdengar suara auman keras, Itu Troll. Dia monster hijau dengan ukuran badan yang tinggi besar, bermata satu tanpa tulang hidung hanya ada dua lubang dengan mulut yang besar serta, berkepala botak dan selalu membawa pemukul kayu untuk menghancurkan apapun yang menghalanginya. “Dewa, baru saja aku berdo’a semoga kamu melindungiku tetapi, kamu sudah memintaku untuk mati. Bagaimana aku bisa menghadapi monster ini?”
Troll itu berjalan ke arah Neron dengan kedua kaki yang menghentak-hentak tanah sambil membuka mulutnya yang penuh air liur di mana-mana. Gerakannya ternyata cukup cepat untuk menghampiri Neron, yang masih terpaku diam memerhatikan monster gila itu bergerak sedangkan, kakinnya sendiri rasanya sangat sulit untuk bergerak, mungkin saking takutnya.
“Bodoh!” teriak Neron pada akhirnya bisa berpindah tempat paku setelah memukul kuat kakinya sendiri. Dia berguling di tanah menghindar ayunan pemukul kayu si Troll. Sampai akhirnya tubuhnya terpentok pohon besar, dia bangun dan bersandar menarik napas kuat sambil melihat kegilaan si Troll yang terus menganyunkan tongkatnya ke sembarang arah, seolah tengah mencari Neron. Troll adalah monster dengan penglihatan terbatas sehingga, saat ini Neron tidak berada dalam jangkauan pandangannya.
“Aaaackh! Aaaackh!” teriiak si Troll yang tidak bisa berbicara apa-apa lagi kecuali berteriak-teriak tidak jelas.
“D-dulu sepertinya aku pernah mendengar ayah berbicara tentang monster ini dan cara mengalahkannya? A-aku benar-benar bodoh tidak pernah belajar dengan benar…,” lirih Neron berbicara sendiri sambil meraba-raba pinggangnya di mana dia masih menarik napas lega menemukan benda-benda itu berada di tempatnya. “Apa bubuk api ini, bisa mengalah monster itu?”
Benda kedua yang diberikan Abram selain bubuk untuk berteleportasi sebagai pilihan terakhirnya. Pria tua itu memberikan bubuk api jika dilemparkan ke wajah lawan yang kuat dia hanya akan berhalusinasi tetapi, untuk hewan-hewan lemah itu cukup membuat pingsan. ‘Troll, itu masih belum melihat ke sini?’ pikir Neron hati-hati tetapi, siapa sangka entah dia terlalu sial atau beruntung, dia yang akan melewatkan kesempatan untuk berbalik pergi malah tertangkap mata oleh monster tersebut.
Swiiing!
Dengan sebuah ayunan kuat dari kayu pemukul, sebuah pohon tinggi dibelakang punggung Neron bisa hancur. Neron sendiri sekali lagi selamat karena ketangkasannya untuk bisa berguling tepat waktu, ke bawah kaki si Troll yang sangat besar tanpa alas kaki dengan semua kuku-kukunya yang hancur dan tajam melihat hal itu tanpa pikir panjang, Neron segera mengeluarkan belati dan sekuat tenaga menancapkannya di sana.
Jeritan Troll itu menjadi auman keras membuat hutan yang hening tiba-tiba menjadi hingar-bingar. Belati itu menacap kuat si Troll berubah semakin marah dan agresif, dia menghentak-hentak kesal tidak tahu harus diapakan rasa sakitnya. Neron yang terkejut dengan langkah cepat yang diambilnya masih terseok-seok di tanah sambil memerhatikan kegilaan sang Troll. “Ah, baru saja aku berhasil!”
Sekali lagi, Troll itu bisa melihat Neron pemukul kayunya kini berayun ke belakang terlebih dulu jelas, sangat ingin menghancurkan makhluk yang berada di bawah kakinya.
Bugh! Sebuah pukulan menghantam tanah tepat, di tempat di mana Neron sebelumnya berada.
Bugh! Kedua kalinya kini Neron sudah lebih siap menghindar.
Bugh! Tanah itu hancur membentuk sebuah cekukan bekas pemukulan kayu yang panjang dan bulat tumpul di ujungnya.
Untuk keempat kalinya Neron yang terus menghindar dengan berguling-guling di tanah kini bangkit berdiri, berlari dari jangkauan mata si Troll dengan mendekati kakinya di mana belati miliknya masih tertancap di sana. Masih dengan sisa kekuatannya Neron mencabut belati itu yang menghasilkan jeritan lainnya dari si Troll tidak cukup sampai di sana. Neron melukai betisnya dengan menggoresnya sekuat tenaga.
Kayu pemukul bergerak dari belakang punggungnya, Neron yang tidak memiliki mata di belakang kepalanya harus dengan patah hati terantuk dan melesat melewati kedua kaki si Troll, tersungkur jatuh dengan wajah menyentuh tanah terlebih dulu. “Aaackkh!”
Punggungnya terasa remuk, tulang-tulang jarinya pun terasa kesulitan bergerak. “Ukh, hug… Puakh!” baru saja Neron muntah darah. “Sa-sakit sekali!” Sepertinya dia tidak akan berhasil pulang tanpa cidera besar kali ini atau mungkin tidak akan pernah kembali karena mati di tanah dingin Ini.
Melihat dengan matanya yang berbayang lesu, Neron berpikir jiwa-nya benar-benar tamat. Karena monster Troll dengan tinggi lebih dari dua meter itu masih sangat kuat dan sanggup menghancurkan pohon-pohon disekitar hingga tumbang. Di helaan napasnya, yang terakhir Neron akhirnya bisa bernapas lega Abram juga Taemu datang untuknya.
“Taemu!” Abram berteriak ketika Taemu akan menjulurkan lidahnya dan membawa Neron ke arah mereka. “Jangan lakukan itu mungkin, saja dia terluka parah,” ujarnya hati-hati dengan membaca situasi. “Kita bereskan Troll ini dulu!”
Taemu melihat apa yang dilihat Abram. “Kwok! Hanya satu Troll bodoh.”
“Kalau begitu segeralah bereskan. Jangan biarkan Troll itu mendekati daeran Neron di sana.”
“Kwok!” jawab Taemu. Dia maju ke depan membawa sebuah pohon dengan lidahnya lalu menghantamkannya ke betis si Troll hingga terjungkal dan jatuh ke bawah punggungnya di sana Abram sudah bersiap membawa bilah pedang yang sudah dilapisi Mana dan menebaskannya pada leher si Troll sampai putus.