Harapan Neron

1708 Kata
Berdiri di depan cermin Oris memandangi tubuhnya yang kini sudah berganti pakaian dengan seragam academi serta jubah putihnya senyum bangga dan bahagia pun tidak bisa luntur dari bibirnya. Bukan hanya tentang pakaian yang sedang dipakainya tetapi, juga asrama yang ditempatinya sangat di luar ekpektasinya. Hal itu seperti di rumahnya, dia punya tempat tidur sendiri dengan meja belajarnya dan hal luar biasa lainnya adalah makanan di sini tidak terbayangkan selalu enak dan berbeda tiap waktu. “Oris, mau sampai kapan hanya berdiri di sana? Kita harus menghadiri kelas.” “Ah, iya, Ben,”sahut Oris mengusap pipinya yang malu kemerahan. “Ayo, kita pergi! Aku sudah siap.” “Oke, oke! Aku juga sudah siap tapi, kamu jangan terlalu tegang seperti itu. tenanglah ini hanya kelas biasa.” “Ha ha … begitu, kah? Aku hanya tidak sabar dan terlalu senang.” Anak bernama Ben itu menepuk bahu Oris. “Jangan terlalu senang, sebentar lagi kamu bakal merasa tidak ada waktu untuk mengatakan ‘tidak sabar.’ semua berganti jadi ‘tidak boleh terlambat.’ Mengerti?!” katanya sambil berjalan pergi. Satu alis mata Oris terangkat, sedikit tidak mengerti tetapi, akhiranya dia hanya mengangat bahu dan segera mengikuti langkah teman barunya itu. “Ben, tunggu aku!” “Iya, cepat! Kita harus sarapan dulu sebelum masuk kelas.” “Oke!” serunya sambil mempercepat langkahnya. Siapa yang tidak akan senang mendengar kata makan, tentu saja sebelum mengisi otak dengan pelajaran kita tidak bisa melewatkan energy terpenting yaitu makan jadi, makan sarapan seharusnya tidak bisa diabaikan apalagi bagi para pelajar seperti mereka. Jika Oris sedang bersiap untuk sarapan dan memasuki kelas pertamanya. Neron harus berkutat sibuk dengan mempersiapkan sarapan untuk dua orang lainnya yang mulai kecanduan ingin makan-makanan yang beraneka ragam yang bisa dibuatnya. “Sial! Aku, kan bukan pelayan?!” Amuk Neron sambil mengaduk sup buatannya. “Kwok! Neron… apa belum selesai.Kwok!” “Berisik, kodok! Diam saja ditempatmu.” Brugh! Sebuah lidah panjang melesat menuju jendela hampir mengenai wajah kesal Neron. Rasa terkejut dan takut jadi satu sepertinya, baru saja dia kelewatan tanpa sadar. Menoleh ke tempat Taemu si Kodok sambil menarik napas Neron berbicara lebih sopan kali ini. “Tuan Taemu, bisakah kamu duduk saja dan jangan bertanya lima menit sekali atau aku!” jedanya sejenak. “tidak akan sabar untuk menumpahkan makanan ini sekarang juga.” Melihat kesungguhan di mata Neron, akhirnya si Kodok Taemu mundur satu langkah dia mengalah untuk menang. Tidak mungkin dia membiarkan makanannya hilang sia-sia setelah bagaimana mereka bersusah payah mendapatkan bahan-bahan baru untuk mereka konsumsi dari si Kelinci bermata merah yang licik dan pemarah. “Kwok! Cepatlah,” ujarnya sambil berbalik. Neron akhirnya menghela napas lega akhirnya monster kodok itu pergi jadi, dia bisa sangat tenang ditambah tidak ada Sir. Abram yang biasanya ingin ikut-ikutan memasak. Dua hari ini dia sudah sangat sibuk terus berada di ruangan pribadinya dan hanya keluar saat makanan sudah siap atau terkadang dengan baik hati Taemu, si Kodok yang mengantarkannya ke ruangannya. “Oke! Sekarang sudah siap.” Neron menepuk kedua tangannya memberssihkan dari sisa-sisa remah roti yang dibuatnya. Pagi ini dia membuat sup dan roti gandum. Semua bahan-bahanya mereka dapatkan baru dari para monster bermata merah yang lalu, sepertinya kecuali dia para monter hewan dan sekalipun itu Sir Abram tidak tahu cara memasak makanan agar terasa enak termasuk bahan-bahan yang bisa dan tidak di makan sangat tercampur acak. Beruntung dengan kepintarannya, dia bisa mengenali semua bahan makanan. “Kwok! Aku sudah lapar.” Taemu segera mengambil bagiannya yang biasanya lebih banyak dari Abram dan Neron. “Masih panas!” Namun, siapa yang tahu tingkat kesabaran si Kodok ini ternyata tidak ada. Lidahnya sudah menjulur keluar untuk mencicipi dan hasilnya tentu saja bara merah. “Kwok!Panas… tapi, Kwok! Aku baik-baik saja.” “Yah, Sir Taemu, kan, kuat tidak masalah jika hanya lidahnya saja yang terbakar.” “Kwok! Lidahku tidak terbakar, Kwok!” “Baik!” balas Neron lagi dengan suara lebih rendah, tidak ingin memulai perdebatan lagi. “Sir Abram tidak keluar lagi?” “Kwok! Dia belum selesai …kwok.” “Aamh, sebenarnya apa yang dia lakukan di dalam ruangan itu?” “Kwok! Membuat ramuan.” “Membuat ramuan? Alkemis? Sir Abram juga seorang Alkemis?” “Kwok,” jawab Taemu, jelas mengiyakan dengan hanya suara khasnya. “Sir Abram sangat luar biasa pastinya, kan?” “Kwok! Tentu … apapun bisa dia lakukan,kwok! Terutama untuk posion kali ini,Kwok! Pasti akan sangat hebat. Kwok!” Sisi lain Neron sangat tercerahkan, tidak menyangka jika Abram juga seorang Alkemis selain seorang penyihir lalu, setelah pikiran beratnya berkembang Neron hanya bisa mendesah dan mulai dengan cepat menghabiskan sarapan paginya lalu, bergelut lagi dengan pekerjaan yang diberikan Sir Abram untuk merawat semua tanaman yang sudah mereka dapatkan dari daratan merah. Itu nama wilayah para hewan bermata merah tersebut. Hal berbeda dari hasil ditanam oleh manusia biasa, para penyihir juga para monster itu adalah benar-benar dari hasil tanaman tersebut. Sebelumnya ketika masih di desanya hasil sayuran tidak akan sebesar seperti dilihat saat ini. Semuanya masih dalam batas wajar tetapi, di sini semua berkali-kali lipat sangat besar apalagi ketika berada di wilayah monter mata merah. Bukan hanya itu besar tetapi, juga sangat segar. Sungguh perbedaan hidup yang mencolok. “Aku tidak punya teman lain untuk berbicara sungguh sangat kesepian,” keluh Neron sambil menatap langit yang tidak pernah terlihat lagi di matanya sejak tinggal di sini. Tidak berhenti di sana, Neron masih bisa menyiram tumbuh-tumbuhan di depannya. “Aku bosan! Dan, sepertinya aku harus benar-benar membiasakan diri kesepian seperti ini di sini.” Selesai menyiram dan menyiangi daun-daun yang membusuk dari halaman penuh tanaman sayuran itu, Neron dengan tenang duduk nyaman di bawah pohon sambil memandangi jendela di lantai dua di mana, tempat Abram berkutat dengan kemampuannya. Neron menjadi tertarik saat mendengar jika Abram ternyata seorang Alkemis. “Apa kau bisa belajar hal-hal seperti itu tidak, yah?” tanya Neron pada diri sendiri lalu, mengangkat satu tangannya dan mencoba- berkonsetrasi untuk melakukan sihir di tangannya namun, hasilnya sama saja. Neron merasa lemah akhirnya, karena di tempat seperti ini saja dia tidak punya kemampuan. “Jika,saja ada yang bisa kulakukan untuk merubah bakat tubuh ini, apapun akan kulakukan meski, harus mencari Mana tersebut ke penjuru dunia.” Sekali lagi Neron menatap ke atas mencari harapan dari ketidakadaan untuk menjadi kemungkinan dan juga harapan yang bisa mengandalkannya. *** “Bagaimana?” Oris tidak menjawab, dia hanya bisa menundukkan kepalanya ke bawah merasa sangat kelelahan. Banyak sekali tugas yang diberikan gurunya kali ini lebih banyak dari guru kelas ramuan sebelumnya. “Sangat banyak!” Ben tertawa meledek. “Bukannya kamu tadi bilang sangat ‘tidak sabar.’ “ “Jangan meledekku, bukankah tugasmu itu sama saja dengan milikku.” “Hah!” menghela napas berat, Ben pun melakukan hal yang sama, menjatuhkan kepalanya seolah tergantung di leher. “Kenapa mengingatkan milikku, kamu jahat, Oris!” “Itu bukan aku tapi, dirimu sendiri,” Balas Oris kini sudah menegakkan kepalanya. Dia memeriksa jadwal sekolahnya lalu, menutupnya segera. “Ben, ayao, ke ruang makan dulu … aku lapar setelah berjuang untuk belajar di kelas.” “Ah, kamu pikir kita masih punya waktu untuk makan?” “Masih, Ben. Kita akan makan sangat cepat. Ayo!” desak Oris berjalan dengan langkah setengahberlari menuju ruanga makan yang akan tersedia sepanjang hari sampai habisnya waktu makan malam. Tanpa memerhatikan oranng lain, Oris hanya terfokus pada dirinya sendiri untuk mencari meja dan kursi yang dirasanya aman. Jelas saja, meski bukan waktunya makan sudah banyak sekali anak-anak duduk untuk sekadar makan atau belajar sambil makan. Sungguh pemandangan yang biasa jika sudah melihat mereka bertahun-tahun, saking sibuknya untuk belajar waktu makan saja masih mereka gunakan untuk belajar bahkan, ada yang sengaja melewati waktu makan entah disengaja atau tidak hanya karena lupa saking sibuknya penuh dengan tugas yang diberikan para guru. “Tutup bukumu dulu saja dan fokuslah makan.” Sayup-sayup terdengar suara seorang gadis dan Oris yakin jika, hal itu tertuju padanya. Sungguh kejutan menyenangkan ketika wajahnya mendongak Oris melihat kenalannya. “Marvella.” Marvella tersenyum lebar, “Kamu sudah tiba di sini, Oris?! Senang rasanya aku melihatmu jadi, aku menghampirimu.” “Tentu saja, aku juga senang,” ujar Oris langsung menutup buku pelajarannya dan focus pada Marvella. Senyum kotaknya bahkan, luar biasa lebar tidak menyangkal jika dia begitu sangat senang melihat gadis di depannya. “Oris, kapan kamu datang?” “Kemarin.” “Ahh, aku tidak melihatmu kemarin.” Marvella memasang pose menyedihkan sekaligus menggemaskan. “Kelasku sangat penuh saat itu. Sayang sekali aku tidak bisa menyambutmu.” Tanpa sadar pipi Oris sedikit merah merona, dia sungguh tidak tahan melihat senyum menggemaskan Marvella sejak bertahun-tahun lalu. “Tidak masalah, itu bukan hal penting.” “Apa kamu sudah berkeliling seluruh castle?” “Eum, belum semuanya tentunya. Tapi, tidak masalah? Lain kali aku masih bisa berkeliling.” “Ah, ya, jadi seperti itu?!” ujar Marvella, yang kini tatapannya berubah bingung sekaligus gugup khawatir. Lalu, matanya jatuh “Oh, ya,kamu sangat gagah dengan seragam dan jas putih-mu itu.” Pipi Oris semakin menjadi-jadi begitu juga senyumannya yang tidak bisa lepas mendengar pujian hebat dari Marvella, mantan pujaan hatinya dulu.yang mungkin saja sampai detik ini dia masih suka dengan gadis di depannya. “Terima kasih tapi, aku tidak secocok ini seperti …kamu Marvell. Kamu juga, sangat cantik.” Giliran Marvella yang tersipu malu lalu, sedetik kemudian setelah menggelengkan kepala, menghilangkan segala pikirannya kacaunya. “Dan, Oris. Apa aku harus mengatakan sesuatu tentang Neron?” Sekejap perubahan wajah dan suasana Oris terlihat sangat mencolok. Bibir Oris pun ragu-ragu untuk menjawab sampai akhirnya dia bisa membuka mulutnya. “Apa yang harus kutahu tentang dia,” sahutnya sambil memalingkan wajahnya. “Aku juga tidak tahu apa yang harus kukatakan tapi, Neron sangat keterlaluan sampai bisa-bisanya mencuri hal itu darimu. Aku minta maaf untuk hal itu?” “Kenapa kamu minta maaf, Marvella kamu tidak bersalah. Neron-lah yang harusnya minta maaf padaku,” ujat Oris dengan tegas. Senyum kecut terbit disudut bibir Marvella. “Tapi, sebelum itu karena rasa bersalahku … kamu harus tahu alasan ‘orang bodoh,’ itu melakukan pencurian tersebut.” Oris terdiam sesaat lalu, memandang wajah Marvella sekali lagi. “Apa kamu sendiri tahu?” “Aku tahu!” jawabnya sambil menunduk entah karena malu atau tengah menyembunyikan sesuatu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN